Rektor UIN Tolak Penghapusan Pendidikan Agama

0
448
views

TRANSLAMPUNG.COM, BANDARLAMPUNG- Wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menggagas wacana pendidikan agama bakal dihapus, mendapat penolakan dari Rektor Univesitas Islam Negeri (UIN) Lampung, Moh Mukri.
Mukri, yang juga pengamat pendidikan Provinsi Lampung, menolak, jika Kementrian akan menghapus pendidikan agama, dalam penerapan sekolah lima hari tersebut. Menurutnya, pendidikan agama itu penting diadakan disekolah, karena hal ini lah yang mendukung moral dan ahlak anak-anak kedepannya.

“Kalau tidak ada pendidikan agama, mereka mau belajar dari mana. Apalagi kalau disekolah menerapkan proses belajar sampai seharian,”ungkapnya, Senin (19/6).

Ia menjelaskan, pelajaran agama seharusnya memang diterapkan disekolah, karena melihat kesibukan orang tua di kota-kota besar, sehingga ditakutkan diluar sekolah kurang mempelajari ilmu agama.

“Belajar agama yang baik justru disekolah, anak-anak terkadang tak melulu diperhatikan untuk belajar ngaji dilingkungan rumahnya. Apalagi kalau orang tuanya sibuk.Lalu mereka dapat ilmu agama dari mana,”ucapnya.

Ia juga menilai ide Full Day School ini memerlukan pertimbangan dan kajian yang matang.

“Ini baru gagasan dan wacana. Namun ide full day itu memerlukan kajian dan persiapan matang. Kalau sekolahnya tidak menyenangkan membuat anak bosan dan kurang berkembang,”katanya.

Mukri menilai memang sebaiknya gagasan ini diuji-cobakan terlebih dahulu ke publik untuk melihat bagaimana respon masyarakat terhadap wacana tersebut.

“Untuk memastikannya memang sebaiknya diujicobakan dulu,” kata dia.

Diketuai, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy kembali mengeluarkan wacana yang mengagetkan anggota Komisi X DPR RI yaitu dihapuskannya pendidikan agama di sekolah. Ia beralasan nilai agama di rapor siswa akan diambil dari pendidikan di Madrasah Diniyah, masjid, Pura, atau gereja.
“Sekolah lima hari itu tidak sepenuhnya berada di sekolah. Guru dan siswa hanya berada di dalam kelas beberapa jam. Selebihnya di luar kelas atau sekolah,” kata Menteri Muhadjir.

Untuk pendidikan agama, lanjutnya, masing-masing sekolah bisa mengajak siswa belajar di masjid, pura, dan gereja. Atau bisa juga, guru-guru di TPA atau Madrasah Diniyah, datang ke sekolah memberikan pelajaran agama.

“Kalau sudah dapat pelajaran agama di luar kelas, otomatis siswa tidak perlu lagi dapat pendidikan agama di dalam kelas. Nanti, akan kami atur teknisnya, agar pendidikan agama yang didapat di luar kelas atau sekolah itu disinkronkan dengan kurikulum,” beber Muhadjir.

Dengan sinkronisasi itu, pelajaran agama yang diberikan pengajar luar bisa sesuai. Pengajar ini juga berhak memberikan nilai agama kepada para siswa. (jef)