. . .

Ragapala Lampung Kritisi Pelestarian Hutan 

image_print
TRANSLAMPUNG.COM, LAMPUNG – Ragapala Lampung Divisi Pengelolaan Lingkungan Hidup LSM mengkritisi pelestarian hutan. Menurut Ragapala beberapa kasus terjadinya kerusakan hutan mulai dari kebakaran hutan hingga pembalakan liar menjadi wabah di Indonesia.
Kegiatan Reboisasi Hutan Register-19 Gn Betung. Dok. LSM Ragapala
Hutan menurut Ragapala adalah satu dari sekian banyak sumber udara segar bagi makhluk hidup di muka bumi. “Indonesia merupakan negara yang menduduki urutan ketiga hutan terluas di dunia dengan hutan hujan tropis yang sangat luas pada pulau Kalimantan dan pulau Papua,” kata Khomayo, Senin (23/7/2018).
Berdasarkan data yang dihimpun Ragapala Lampung, bahwa satu pohon dewasa setiap tahunnya dapat menghasilkan 260 lbs oksigen atau setara 120-130 kg, sedangkan satu orang manusia setiap tahunnya membutuhkan 740 kg oksigen.
“Berdasarkan data tersebut kita dapat memperkirakan bahwasanya satu orang manusia membutuhkan setidaknya enam sampai dengan delapan pohon dewasa untuk memenuhi kebutuhan oksigen setiap tahunnya. Jumlah oksigen yang dihasilkan pohon dapat bervariatif tergantung kondisi serta jenis pohon itu sendiri. Dewasa ini kondisi hutan di dunia khususnya di Indonesia mengalami deforestasi,” imbuhnya.
Menurut Ragapala Deforestasi di Indonesia berupa kebakaran hutan diakibatkan oleh alih fungsi lahan menjadi lahan perkebunan terutama perkebunan sawit. Kasus kebakaran hutan ini telah mengakibatkan bencana yang luar biasa seperti kabut asap yang telah memakan banyak korban serta puluhan ribu manusia terjangkit penyakit ispa. Selain itu kerusakan pada hutan telah berimplikasi pada kurangnya ketersediaan makanan bagi hewan di hutan.
“Hal ini dapat dilihat seperti yang terjadi di Kabupaten Tanggamus Lampung pada akhir tahun 2017 lalu, kawanan gajah masuk ke dalam area pemukiman dan merusak perkebunan warga setempat. Kejadian serupa juga terjadi di Kabupaten Indragiri Hilir Riau, sepekan yang lalu telah terjadi kasus harimau masuk ke areal pemukiman warga dan menerkam dua orang warga setempat hingga
tewas,” katanya.
Menurut Ragapala dampak kerusakan hutan harus dilihat secara holistik dimana semua pihak baik itu pemerintah maupun masyarakat harus mengambil peran dalam pelestarian hutan.
Menurut Ragapala, organisasi pecinta alam pada hakikatnya adalah suatu wadah dimana sekelompok orang tersebut berkegiatan atau melakukan aktivitas di alam bebas. “Anggota pecinta alam sudah semestinya dapat mengambil peran dalam kegiatan pelestarian hutan. Jika kita sekilas menengok ke belakang, minat pada pelestarian di lingkup lingkungan hidup terkesan kurang diminati dan mendapat perhatian lebih dari anggota-anggota organisasi pecinta alam. Saat ini organisasi pecinta alam telah berkembang biak bak jamur tumbuh di musim hujan,” katanya.
Selain itu organisasi pecinta alam dapat melakukan sinergi dengan instansi terkait dalam menggalakkan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya penghijauan.
Melakukan sosialisasi berupa edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya reboisasi memang tidaklah mudah dan harus dilakukan secara bertahap. Reboisasi di daerah hutan register yang tidak jauh dari pemukiman masyarakat dapat dilakukan dengan penanaman pohon MPTS (Multi Purpose Tree Spesies) seperti rambutan, duren, kemiri dan damar.
Anggota organisasi pecinta alam kedepannya juga harus belajar advokasi lingkungan sehingga dapat ikut melakukan pengawasan serta menindaklanjuti penyalahgunaan terhadap pengelolaan hutan yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. (suf)