PT ASDP Bakauheni Dikuasai Pengurus Truk, Macet Panjang Hingga 4 KM

0
463
views

translampung.com – Puluhan truk yang tergabung dalam Pengurus Truk (Petruk) melakukan aksi mogok, Kamis (7/4) malam. Mereka tidak mau melakukan penyeberangan ke Pelabuhan merak. Akibatnya, kemacetan terjadi sekitar 4 km di pintu masuk Pelabuhan Bakauheni.

Aksi mogok yang dilakukan oleh Petruk dikarenakan tuntutan mereka agar PT ASDP Bakauheni mencabut pola arus lalu lintas satu arah.

Sebab, sistem satu arah tersebut membuat pengurus jasa penyeberangan truk tidak leluasa mengantarkan armadanya ke masing-masing dermaga menggunakan sepeda motor.

“Penolakan ini sebenarnya sudah lama, waktu itu kami unjuk rasa, tapi nggak dikabulkan, makanya kami mogok,” ungkap salah satu sopir truk yang melakukan mogok yang mengaku bernama Ronal.

Pria yang saat itu mengenakan kaos berwarna hitam melanjutkan, pihaknya meminta kepada PT.ASDP Bakauheni untuk memberikan luang kepada pengurus truk agar dapat memasuki areal dermaga.

“Kami dilarang mengantarkan truk ke dermaga, ini sangat merugikan kami. Makanya kami minta ASDP merubah kembali sistemnya seperti dulu,” katanya.

 

Namun dari informasi yang dihimpun, PT ASDP yang menerapkan sistem satu arah tersebut dikarenakan sering terjadi kesemrawutan arus lalu lintas di beberapa titik pertemuan antardermaga, sehingga memicu kemacetan di titik crossing masuk atau keluar kendaraan.

Sistem lalulintas satu jalur, baik kendaraan masuk dan keluar pelabuhan ini diterapkan dikarenakan lalu lalang kendaraan yang masuk ke Pelabuhan Bakauheni cukup padat. Padahal kendaraan kendaraan tersebut rata rata bukan pengguna jasa pelayaran.

Sementara itu beberapa pengemudi mengaku heran bagaimana sistem pengamanan di PT ASDP Bakauheni sekarang ini. “Baru di demo saja angkutan sudah macet seperti ini. Seperti tidak ada koordinasi pengamanan. Ini perlu evaluasi juga karena bahaya sekali. apalagi kalau jalan tol sudah jadi penumpukan bisa berapa kilometer,” ujar wawan pengemudi mobil pribadi yang hendak menuju Jakarta, kepada translampung.com (tnn)

LEAVE A REPLY