. . .

Potret Kehidupan, Menyambung Hidup dari Limbah Sanitasi

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, METRO – Berbagai cara orang mengais rejeki. Kalau kata Bang Haji Roma Irama, 1001 macam itu bidang pekerjaan mulai dari pengamen, sampai jadi presiden. Jika berbicara pekerjaan erat kaitannya dengan kelangsungan hidup.

Nah di Kota Metro, ternyata tak sedikit orang yang menggantungkan hidup dari sanitasi. Mulai dari jasa instalasi sanitasi, perbaikan sanitasi hingga kuras sanitasi.

Adalah Lek Min (70) dan Mbah Jinan (82) warga Kelurahan Hadimulyo Barat, Kecamatan Metro Pusat yang menggantungkan hidup dari sanitasi. Dua nama itu, adalah spesialis jasa kuras sanitasi khususnya septic tank.

Ketika ditemui, Mbah Jinan sedang santai di teras kediaman Lek Min bersama istri Lek Min yang bernama Inem (55). Namun saat itu, Lek Min sedang ada pekerjaan memasang wc di wilayah Batanghari, Lampung Timur.

Ketika ditanya, Sudah berapa lama bekerja sebagai tukang kuras septic tank. Inem istri Lek Min dan Mbah Jinan menjelaskan sudah puluhan tahun, bahkan Mbah Jinan mengaku sudah 40 tahun.

“Kalau saya sudah empat puluh tahun, sampai cucu delapan,” kata Mbah Jinan. Kemudian wartawan media ini, penasaran dengan alat yang digunakan untuk menguras septic tank.

Ketika ditanya adakah alat khusus untuk menguras septic tank, Mbah Jinan dan istri Lek Min kompak menjawab bahwa tidak ada alat-alat khusus yang dipakai untuk menguras septic tank.

“Ya pokoknya nyemplung (septic tank-red) mas. Ya pokoknya kuras pakai ember itu isi septic tank, sampai bersih,” kata Inem dan Mbah Jinan kompak.

Menurut mereka, limbah tinja yang sudah dikuras dipindah ke dalam tanah di pekarangan itu. “Ya kita buat lubang dulu di tempat yang lain. Nah hasilnya (limbah tinja-red) kita masukkan lubang yang kita gali itu, pokoknya ukuran lubangnya ya secukupnya kotoran itu,” timpal Inem dan Jinan.

Menurut mereka, masih banyak masyarakat yang belum percaya dengan Mobil Sedot WC. “Orang-orangnya seneng dikuras mas, masih belum percaya sama sedot wc. Kata mereka gak bersih, tapi memang gak bersih mas, itu cuma airnya yang kesedot,” tandas Mbah Jinan.

Inem dan Mbah Jinan mengaku, jasa kuras WC sekali kuras adalah Rp 500 ribu. “Ya sebetulnya nguras wc ini untung mas, kalau kuli sehari-hari kan cuma 80 ribu sehari tapi rutin, kalau kuras wc besar, tapi ya menunggu,” tandas Inem.

Ketika diwawancara, Mbah Jinan mengaku selesai menguras tidak langsung makan jika ditawari empunya rumah makan, namun berbeda dengan Lek Min, Inem menjelaskan jika Lek Min disuruh makan, ya   langsung makan. “Ga jijik wonge mas. Pokoke yo nek dikon madang karo wonge, yo bojoku langsung madang,” tandas Inem.

Pernah suatu waktu, Lek Min menemukan barang berharga dari dalam septic tank. “Pernah mbiyen (dulu-red) nemu kalung emas mas, pas nguras di perkantoran, langsung dijual emasnya, tapi jaman dulu udah lama,” imbuh Inem.

“Ya pokoknya kalau ada yang butuh kuras septic tank, suruh ke sini mas. Langsung datangi rumah Lek Min, kalau butuh sumur bor hubungi saya,” kata Mbah Jinan yang saat ini fokus ke usaha sumur bor.

Di tempat terpisah, berdekatan dari Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Karang Rejo, Metro Utara hiduplah keluarga yang menggantungkan hidupnya juga dari limbah rumah tangga dan limbah sanitasi.

Adalah Wardi (66) yang pekerjaan tetapnya adalah pemulung. Wardi yang sudah 12 tahun menjadi pemulung juga bertani dengan pupuk dari limbah sanitasi.

Wardi mengaku, sehari-hari ia mendapatkan hasil di bawah Rp 50 ribu dari hasil memulung. “Plastik asoy 500 perak sekilo. Sehari 50 ke bawah dari pagi sampai sore. Tapi gak pernah full sehari, tapi nyambi sayuran,” katanya.

Menurut Wardi, tanah yang ditanam sayur disiram air dan setiap tiga hari sekali disiram air limbah tinja. “Banyu, tiga hari sekali air tinja. Budenku, kui tanpa rabuk tanpa opo. Seng penting nancep dirawat,” tandasnya.

Wardi mengatakan, sehari bisa mendapatkan bayam hingga kanggung sebanyak 10 ikat. “Tiga hari sekli 30 ikat, ya sehari 10an seikatnya cuma seribu,” kata Wardi. (suf/hkw)