Potensi Perikanan Air Tawar di Lampung Capai 61.200 Ha

0
339
views

Lampung adalah Provinsi yang berlokasi paling selatan di Pulau Sumatera, memiliki potensi untuk menjadi produsen utama produk akuakultur di Indonesia. Karena hal itulah, eFishery hadir dan menerapkan teknologi Budidaya Perikanan di Provinsi Lampung

LAPORAN: HERU/BANDARLAMPUNG

eFishery Terapkan Teknologi Manajemen Budidaya

TRANSLAMPUNG.COM-Pasalnya, Lampung memiliki luas lahan yang tersedia mencapai lebih dari 61.200 hektare (ha) yang potensial untuk perikanan air tawar. Menyadari hal tersebut, eFishery sebagai perusahaan inovasi di bidang teknologi perikanan kini memprioritaskan kehadiran di Lampung dengan cara terjun langsung menyambangi para pembudidaya.

Tak hanya memasarkan smart fish feeder-nya, eFishery juga aktif mendampingi pembudidaya untuk menerapkan teknologi dan manajemen budidaya yang profesional.

VP Marketing dari eFishery Ivan Nashara menjelaskan bahwa perikanan budidaya akan melampaui perikanan tangkap sebagai sumber utama ikan di Indonesia sebelum tahun 2030. Oleh karenanya, eFishery ingin hadir secara maksimal di Lampung untuk meningkatkan volume panen para pembudidaya menggunakan teknologi smart fish feeder.

“Lampung adalah kota yang tepat untuk perluasan pasar kami, karena luas wilayahnya dan juga pembudidaya yang sangat antusias terhadap teknologi kami,” ungkap Ivan saat persentasi mengenai teknologi eFishery kepada media, Selasa (28/2).

Ivan Menambahkan, dengan melihat pesatnya potensi industri ini, eFishery juga semakin giat menambah produk baru dalam inovasinya. Jika sebelumnya smart fish feeder yang dipasarkan menggunakan model penjadwalan, teknologi yang dimiliki eFishery akan semakin mumpuni dengan sensor nafsu makan.

“Sensor akan mendeteksi nafsu makan ikan sehingga pemberian jumlah pakan akan lebih akurat. Diharapkan dengan teknologi ini biaya pakan dalam budidaya akan jadi lebih hemat dan pertumbuhan ikan semakin cepat. Rencananya, sensor akan diluncurkan pada semester kedua tahun 2017 ini,” imbuh Ivan.

Hal senada juga diungkapkan, Petrus yang merupakan seorang pembudidaya lele asal Kota Gajah yang ditemui pada acara Sarasehan Media oleh eFishery, dia mengutarakan pendapatnya sebagai pembudidaya yang menggunakan eFishery sangat duntungkan dan dimudahkan.

“Saya baru panen, dan yang bisa saya rasakan setelah menggunakan eFishery adalah ikan jadi lebih cepat besar dan ikan makannya jadi merata,” kata Petrus, Selasa (28/2).

Ivan kembali menjelaskan, bukan hanya Petrus, klien lain dari eFishery pun juga merasakan hal sama. Salah seorang klien dari eFishery menunjukkan data budidayanya yang kini lebih baik seperti FCR (Feed Conversion Rate) yang turun hingga angka 1,14 poin atau sekitar 18 persen dan keuntungan rata-rata per kilo yang naik hingga 92 persen.

Saat ini, ia sudah memesan 20 buah smart fish feeder untuk memaksimalkan budidayanya. Lampung memang memiliki potensi yang besar untuk menjadi produsen terbesar perikanan air tawar, namun potensi hanya akan menjadi peluang belaka jika tidak dieksekusi secara holistik.

“Ini adalah cita-cita kami untuk menjadi bagian dari kemajuan Lampung. Kami akan terus berpartner dengan para pembudidaya yang sudah menjadi pelanggan kami dan juga mengeksplorasi pembudidaya lainnya,” pungkas Ivan.

Area Sales Manager yang menangani pemasaran diwilayah Lampung, Dessi Hertawati menambahkan, bahwa untuk saat ini yang paling banyak menggunakan eFishery didaerah Lampung Tengah, khususnya di Kota Metro, Kota Gajah, dan sekitarnya.

“Untuk saat ini yang paling banyak menggunakan eFishery di Kota Metro, Kota Gajah, dan sekitarnya,” imbuh Dessi.

Dessi menjelaskan, untuk memudahkan msyarakat pembudidaya ikan yang berminat menggunakan eFishery, dia mengatakan ada paket khusus dari eFishery, dengan cara menyewanya. Pembudidaya dapat menggunakan teknologi eFishery dalam bentuk sewa, dan pembudidaya dikenakan biaya Rp300 ribu perbulan. Dan untuk harganya sendiri satu unit eFishery kapasitas 65 kilogram dibandrol harga Rp7.899.000 untuk yang berukuran kecil di kisaran Rp6.899.000.

“Untuk harganya yang besar itu Rp7.899.000 dan yang kecil diberi harga Rp6.899.000, Makanya untuk memudahkan para pembudidaya, kami memberikan sistim sewa sebesar Rp300 ribu perbulan,” jelas Dessi.

Untuk daya yang diperlukan eFishery ini, Dessi menjelaskan bahwa alat ini sangat hemat listrik.

“Teknologi eFishery ini sangat hemat listrik, saat tidak beoperasi alat ini menggunakan daya 10 Watt, sedangkan saat beroperasi menggunakan daya 40 Watt. Dan ini memudahkan para pembudidaya untuk mengatur waktu, sehingga pembudidaya dapat menghemat waktu,” pungkas Dessi.(*/hkw)