. . .

Polri Minta Facebook Hargai Hukum Indonesia

image_print

Soal Pencurian Data

TRANSLAMPUNG.COM, JAKARTA – Bareskrim Mabes Polri turun tangan dalam kasus pencurian data pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica (CA). Pasalnya, Indonesia menjadi negara terbesar ketiga yang menjadi korban.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Mabes Polri Brigjen Pol M Iqbal mengatakan, Kementerian Komunikasi dan Informatika sudah bersurat ke Bareskrim untuk ikut mengusut kasus ini.

“Prinsipnya kami akan mendukung Kominfo menindaklanjuti kasus ini,” ujarnya di Kompleks Mabes Polri, Jakarta, Senin (9/4).

Koordinasi pun sudah dilakukan ke berbagai pihak untuk menyelidiki kebocoran data pengguna Facebook.

“Tetapi dalam kesempatan ini kami sampaikan Facebook harus menghargai privasi pengguna Facebook di Indonesia dan hukum positif di Indonesia juga harus dihargai,” tegas Iqbal.

Tak menutup kemungkinan, lanjutnya, Polri bakal memanggil pihak Facebook. “Kami akan koordinasi dulu dengan berbagai pihak,” pungkas jenderal bintang satu itu.

Sekadar informasi, Indonesia masuk posisi ketiga setelah AS dan Filipina yang dicolong datanya oleh Cambridge Analytica (CA). Total, CA telah mencuri data 87 juta pengguna Facebook, jauh lebih besar daripada korban sebelumnya yang hanya 50 juta.

Kamis sore (5/4) Menkominfo Rudiantara memanggil perwakilan Facebook Indonesia. Dalam pertemuan itu, Rudiantara meminta seluruh aplikasi yang dikerjasamakan Facebook dengan pihak ketiga dimatikan. Terutama yang berkaitan dengan kuis-kuis model personality test.

Kepala Kebijakan Publik Facebook Indonesia Ruben Hattari mengungkapkan, pihaknya segera menjalin komunikasi dengan kantor pusat Facebook tentang perintah Menkominfo tersebut.

“Saya tidak tahu butuh waktu berapa lama. Tapi, kami akan terus buka komunikasi dengan Kemenkominfo,” katanya.

Ruben menyebutkan, upaya untuk mengatasi kebocoran data sudah dijalankan Facebook, tidak hanya untuk pengguna di Indonesia.

Sesuai dengan statement CEO Facebook Mark Zuckerberg, bukan hanya aplikasi yang melakukan behavioral analysis seperti CA yang akan diaudit. Melainkan seluruh aplikasi yang terdaftar di platform Facebook.

Selama ini, lanjut Ruben, banyak pengguna yang mengunduh aplikasi. Namun, Facebook sudah punya sistem perlindungan tersendiri.

“Kalau sudah terdeteksi tiga bulan tidak aktif, otomatis aplikasi tersebut akan ter-delete,” sebutnya.

Selain itu, Facebook sedang menyiapkan notifikasi kepada para pengguna yang datanya terdeteksi mengalami kebocoran atau jatuh ke pihak lain. Notifikasi tersebut akan diberikan hari ini. (dna/JPC/jpg)