Podang Berbuah Gadung, Manalagi, hingga Kweni

Hari Amrozi, Penangkar Tanaman Spesialis ‘Sambung-Tempel’

TRANSLAMPUNG.COM – Mestinya menjadi analis kesehatan, Hari Amrozi malah kepincut merawat kesehatan tanaman dan membudidayakannya. Banyak budidayanya yang ‘ndak umum’.

MOH. FIKRI ZULFIKAR

Masuk ke dalam gerbang rumahnya, berbagai macam pohon buah-buahan menyambut. Mulai dari pohon alpukat, rambutan, durian, hingga duku. Jumlahnya ratusan batang. Rimbun. Bahkan, saking banyaknya, pekarangan rumahnya mirip hutan. Sejuk.

Di antara pohon-pohon itu, berdiri sebuah gubuk. Wartawan koran ini sempat merasakan duduk di dalamnya. Adem. Damai. Apalagi sambil melihat pohon-pohon di sekitarnya yang mulai berbuah.

Terletak di Desa Tegalan, Kecamatan Kandat, pekarangan itu adalah milik Hari Amrozi. Dia penangkar tanaman spesialis ‘sambung dan tempel’ alias okulasi. “Saya suka bereksperimen,” akunya saat ditemui, kemarin.

Sudah tidak terhitung lagi jenis tanaman yang dia coba budidayakan dengan teknik tersebut. Bahkan, terkadang, yang dia silangkan terkesan ‘ndak umum’.  “Pernah menyilang batang terong pokak lalu atasnya disambung dengan tomat dan cabai. Ya bisa hidup hingga berbuah,” ungkap Hari yang saat itu mengenakan sarung dan baju koko.

Tidak hanya itu. Melihat batang terong pokak yang bisa bertahan hingga bertahun-tahun, Hari lalu mencoba menyambung bagian atasnya dengan batang terong biasa. Hasilnya, umur tanaman terong biasa bisa menjadi lebih lama. “Biasanya hanya setahun. Setelah disilang dengan terong pokak, bisa sampai dua tahun,” terang pria 45 tahun itu.

Bagi Hari, semua tanaman bisa disilangkan asalkan masih satu famili. Salah satu hasil karyanya adalah pohon mangga berbuah tujuh jenis. Maksudnya, dalam satu batang pohon mangga, ada tujuh jenis buah mangga yang dihasilkan. Yaitu, gadung, golek, manalagi, podang, apel, kweni, dan arumanis.

Batang pokoknya menggunakan pohon mangga podang. Sedangkan, atasnya menggunakan ketujuh jenis mangga di atas. “Mangga memang paling mudah untuk disambung,” jelas lelaki yang juga pernah menyambung pete dan lamtoro ini.

Hari mulai menekuni budidaya tanaman dengan teknik okulasi ini sejak 1992. Semua secara otodidak. Maklum, dia tidak punya latar belakang pendidikan di bidang pertanian. Hari mestinya menjadi analis kesehatan. Ia merupakan alumnus Sekolah Menengah Farmasi (SMF) Bhakti Husada Kediri.

Kecintaannya terhadap pertanianlah yang membawanya bergelut di dunia ‘sambung dan tempel’ tanaman ini. “Menyenangkan,” ucap lelaki yang suka membaca buku, majalah, atau artikel-artikel terkait pertanian ini. Ia juga belajar dari bapak-ibunya yang juga suka menanam buah.

Dari sekian banyak jenis tanaman yang dia silangkan, salah satu yang membuat puas adalah durian. Maklum, menyilangkan pohon durian dikenal tak mudah. Yang dia okulasi adalah pohon durian lokal dengan jenis montong. “Tidak semua penangkar bisa,” sebutnya.

Lalu, apa rahasianya? Hari memberikan tip, salah satunya, harus jeli mengamati pertumbuhan tanaman durian saat masih muda. Lalu, feeling saat menempel harus tepat. “Sebab, bisa jadi, setelah ditempel, hidup pada awalnya. Tapi, lama-lama mati,” tuturnya.

Kunci lainnya adalah pemilihan batang yang berkualitas. Ini membutuhkan kejelian sendiri. Meski, terkadang, ada faktor keberuntungan di dalamnya. Misalnya, saat Hari menyambungkan batang pohon langsat alias langsep dengan pohon duku. “Saya dapat batang duku itu dari Agro Nusantara di Mojokerto,” kisahnya. Ternyata, setelah disilang, hasilnya adalah buah duku tanpa biji.

Batang pohon duku tersebut ia dapatkan sekitar 1998. Jauh sebelum Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Pertanian (BPSB) Surabaya memopulerkan duku tanpa biji yang baru sekitar empat tahun ini booming.

Artinya, boleh disebut, Hari menjadi salah satu yang memelopori budidaya duku tanpa biji. Khususnya di Kediri. “Setelah saya bibitkan, sekarang sudah banyak menyebar,” kata Hari yang berani mengklaim bahwa bibit duku tanpa biji hasil budidayanya berkualitas bagus. “Karena saya tahu sendiri indukannya.”

Kini, ada tiga pohon besar duku tanpa biji miliknya. Setiap tahun berbuah. Satu pohon bisa menghasilkan satu kuintal. Cuma, Hari belum menjualnya ke pasar. Ini karena setiap berbuah selalu terburu habis dibeli teman-temannya dan ia konsumsi sendiri.

Salah satu pelanggannya adalah mantan Bupati Sutrisno. “Setiap berbuah, utusan Pak Tris selalu datang membeli,” bebernya.

Kini, 28 tahun sudah lelaki yang mestinya menjadi analis kesehatan itu membudidayakan tanaman dengan teknik okulasi. Merawat kesehatan dan mengamati perkembangan tanaman-tanaman budidayanya.

Walau demikian, belum semua tanaman berhasil ia silangkan dengan teknik sambung dan tempel ini. Khususnya dari famili rambutan. “Saya pernah melakukan penyambungan rambutan, kelengkeng, matoa, dan leci. Tapi, belum bisa sampai berbuah,” akunya.

Hari merasa masih harus terus belajar. Dari orang-orang. Dari buku, koran, majalah, atau sumber-sumber bacaan lainnya. Secara otodidak. Tanpa kenal lelah. (jpg/hkw)

 

 

 

News Reporter