. . .

Perkampungan Baduy Menjadi Destinasi Baru Wisata Lokal Tubaba.

image_print

TRANSLAMPUNG.COM–PANARAGAN.
Sejak zaman itu Masyarakat atau orang Kanekes suku baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten Jawa Barat. Dimana kelompok tersebut telah menjunjung tinggi pikukuh kepatuhan dalam merawat pun menjaga Alam semesta, Lojor heunteu beunang dipotong, pendek heunteu beunang disambung (panjang tidak bisa dipotong, pendek tidak boleh disambung).

Hal itulah yang membuat sebagian para tetua Tokoh adat  Marga Empat Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) Lampung, kembali mengulas sejara silsilah antara Lampung dan Baduy sebagai saudara kala itu, yang sempat terpisah ketika terjadi letusan Gunung krakatau ratusan tahun silam.

Bedasar pantauan Translampung.com, selain dapat dijadikan edukasi tatanan kehidupan Baduy dulu dan saat ini, juga memperluas kawasan Icon Destinasi alam, Pemkab Tubaba selain menggelar acara penyambutan Adat terhadap sejumlah perwakilan tetua Baduy d‎i Balai Adat Bumi Gayo Kelurahan panaragan jaya Kecamatan Tulangbawang Tengah, Juga ‎dibangun kompleks rumah Baduy yang dapat menjadi simbol Kota budaya Uluan Nughik nantinya dikabupaten setempat.

Menurut Ratu bangsawan ‎Fauzi hasan, juga selaku Wakil Bupati Kabupaten setempat mengatakan. Atas naman masyarakat dan Pemkab Tubaba dengan menggelar acara ramah tamah adat tersebut, tiada lain untuk melakukan penyambutan kepada sejumlah tetua utusan Pu’un atau pimpinan suku Baduy.‎

” Senatiasa mentaati warisan leluhur mereka (Baduy)‎ dengan terus menjaga juga merawat alam semesta tidak merusak pun merubah, itu patut kita contoh sebagai prilaku hidup yang dijalankan sejak ribuan tahun silam. ‎Oleh karenanya, dengan dibangun kawasan kompleks rumah Baduy dikawasan transmigrasi ini dapat dijadikan wadah edukasi kita bersama.” Kata Ratu bangsawan, dalam sambutannya saat dikutip Translampung.com ‎pada (17/7/2018) Pukul 13:00 Wib.‎

‎Menurut sejarah, bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Sunda dialek a-Banten. Namun untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka mampu menggunakan bahasa indonesia‎, meskipun mereka tidak pernah mendapatkan pengetahuan itu dari sekolah. Orang Kanekes dalam juga tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat istiadat dan kepercayaan agama, serta cerita nenek moyang hanya tersimpan dalam tuturan lisan semata.

‎Bedasarkan kepercayaan yang mereka anut, orang kanekes mengaku keturunan dari batara cikal, satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke Bumi. asal usul tersebut sering pulang dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya juga warga kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (Mandita) untuk terus menjaga harmoni dunia. (Dirman)