Perajin Miniatur Tempat Ibadah Lintas Agama

0
41
views
BANYAK DICARI: Dengan ketelitian yang luar biasa, Iksan Afnani mampu menciptakan miniatur tempat ibadah yang sangat indah. (JUMAI/RADAR JEMBER)

Iksan Afnani

TRANSLAMPUNG.COM – KREATIVITAS seni bukan sekadar untuk mencari nasi. Merancang dari bahan sederhana jadi istimewa, tentu jika dijual bisa laku mahal. Namun di luar itu, ada niatan mulia untuk kampanye kerukunan antar beragama, seperti yang dilakukan Iksan Afnani.

Ini mirip masjid klasik. Saat foto zoom, hasilnya sangat menyerupai. Begitu detail. Bahkan, bagian dalam juga ada mimbar dan tempat imam masjid. Karpet hijau dan mikrofon muazin, juga ada di dalam miniatur masjid buatan Iksan Afnani ini.

Miniatur masjid itu semakin tampak seperti aslinya, karena dilengkapi lampu. Menyala dengan beragam warna. Tambah nyata, saat mesin audio dinyalakan. Karena terdengar suara orang sedang qiraah.

Ternyata, bukan hanya miniatur masjid yang dibuat Iksan Afnani. Tempat ibadah lainnya seperti gereja, pura, dan kuil, juga ada di ruang tamu Perumahan Bhayangkara Indah Blok D 9 Jember. Semua itu hasil karya tangan terampilnya. Meski hasilnya optimal, namun ternyata bahannya hanya bambu.

Iksan, sengaja membuat keterampilan tangannya dari bambu. Karena selain kuat, bambu diakuinya mudah didapat dan murah. “Saya tak pernah pakai jenis bambu khusus. Karena semua bambu bisa dibuat kerajinan ini,” akunya.

Bagi bapak dua orang anak itu, tak ada yang sulit membuat miniatur tempat ibadah tersebut. Hanya butuh telaten dan pikiran yang tenang. Alat yang digunakan tak ada yang istimewa. Hanya gunting kayu dan pisau. Bahannya, hanya lem kayu dan lem jenis G.

Prosesnya, bambu dipotong sesuai kebutuhan. Kemudian, potongan bambu dibuat tipis. Seperti anyaman bambu. Setelah itu, dikeringkan sehari atau dua hari. Tidak boleh terlalu lama. Sebab jika kering, hasilnya juga tak bagus. “Terlalu basah juga tidak bagus,” imbuhnya.

Bambu yang terpotong-potong dan sudah dijemur lantas dipola sesuai dengan desain bangunan yang dirancang. Disain yang didapatkannya pun, cukup sederhana dan mudah didapat di internet. Itu pun hanya gambar tampak luar. Sedangkan isi di dalamnya, Iksan biasanya bermain dengan imajinasinya.

Bambu potongan disusun dengan lem. Bambu kecil yang butuh disusun detail dan lebih kuat, lem jenis G menjadi andalannya. Sedangkan lem kayu, hanya untuk tambahan perekat.

Supaya miniaturnya bisa mirip dengan bangunan aslinya, Iksan, harus menggarapnya dengan dua tahap. Pertama bagian dalam ruangan. Setelah itu, bagian luar dibereskan. Baru kemudian, bagian dalam dan luar bangunan, disatukan seperti menutup panci. Setelah semua terpasang, giliran miniatur yang dibuat dari bambu itu dipoles dengan pernis.

Berharap ada karakter bangunan yang kuat, dia tak jarang hunting desain seperti masjid Timur Tengah dan gereja di Eropa. Setelah itu, dia kembangkan sendiri sesuai seleranya dan pemesan. “Sering kami diskusi terlebih dahulu, sebelum menggarap pesanannya,” imbuhnya.

Membuat satu miniatur bangunan tempat ibadah, cukup butuh waktu tujuh sampai sepuluh hari. Sebenarnya bisa lebih cepat. Karena siang harinya Iksan, harus kerja di gudang keramik, dia pun baru malam hari bisa berkreasi dengan potongan-potongan bambu.

Dia yang bisa dengan otodidak, sebelumnya membuat miniatur bukan untuk dijual. Hanya menyalurkan hobi. Namun setelah banyak pemesan, dia mengajak beberapa anak muda di sekitar rumahnya, untuk ikut menggarap miniatur tersebut.

Harganya lumayan terjangkau. Pria berumur 44 tahun itu, membanderol miniatur termurahnya Rp 400 ribu. Bagi yang cukup besar dan tingkat kesulitannya tinggi, dia patok dengan harga Rp 1,5 juta. Pembelinya beragam. Mulai dari luar kota hingga luar negeri, juga pernah menghargai hasil karyanya.

Selain promosi dari mulut ke mulut, rupanya suami Trining Maryunani, itu mulai memanfaatkan sosial media. Dia pasang di Facebook, supaya lebih banyak orang yang tahu hasil karyanya. “Senangnya jika sudah laku, bukan hanya karena menerima uang. Tetapi, lebih senang karya saya dihargai orang,” tuturnya.

Dia, akan terus fokus menggarap miniatur tempat ibadah lintas agama, karena pria kelahiran Probolinggo itu, ada maksud untuk mengampanyekan kerukunan antarumat beragama. (jpg/rus)