Pemimpin Negarawan Bukan Pemimpin Musiman

0
208
views

TRANSLAMPUNG.COM-Prof. Karomani-Menurut Akademisi dari Universitas Lampung (Unila) pemimpin sejati itu yang tidak mengenal cuaca, yang siap turun kapan saja melihat kondisi rakyatnya dan bisa membuat rakyatnya sejahtera dan cerdas.

Wakil Rektor III Unila Prof. Karomani berpendapat, untuk para calon pemimpin yang hanya akan turun pada saat akan dilaksanakan pemilihan dan memberikan janji-janji kepada rakyat, namun setelah terpilih dan menjabat mereka akan lupa, itu merupakan calon pemimpin musiman dan tidak bisa menjadi negarawan yang baik.

“Pemimpin seperti itu bukan calon pemimpin yang sejati yang seperti itu, calon pemimpin yang mencari muka ditengah rakyat dan pemimpin yang seperti itu tidak akan menjadi negarawan, karena kepemimpinannya hanya dimotifasi oleh hal-hal yang berjangka pendek. Negarawan itu tidak mengenal cuaca terang mendung gelap, dia akan turun kebawah, ke rakyatnya, dan itu pemimpin sejati, dan itu bukan pemimpin yang musiman,” kata Prof. Karomani kepada Trans Lampung, Rabu (22/2).

Dan menurut dia, bila rakyat itu cerdas maka tidaka akan menjatyuhkan pilihannya kepada calon pemimpin yang seperti itu.

“Dan kalau rakyat yang cerdas tidak jatuh pada pemimpin dengan tipikal yang seperti itu,” ucapnya.

Dia menjelaskan, bila membahas terkait demokrasi, menurut dia paling tidak yang pertama perlu ditingkatkan kualitas pendidikan rakyat terlebih dahulu, yang kemudian disusul dengan meningkatkan tingkat kesejahteraannya, baru bisa berjalan demokrasi yang cerdas.

“Kalau bicara tentang demokrasi begini, demokrasi itu baru bagus kalau paling tidak yang pertama pendidikan masyarakatnya relatif sudah tinggi, sukur-sukur pendidikannya rata-rata lulusan Universitas, yang kedua ekonominya juga sudah bagus, baru demokrasi baru bisa berjalan. Jadi ditengah rakyat lapar, ditengah rakyat bodo, nggk mungkin rakyat itu menjatuhkan pilihan kepada pilihan yang cerdas, maka itu tidak heran ada money politik dan segala macem, karena rakyatnya kurang cerdas, rakyatnya kurang sejahtra,” jelasnya.

Prof. Karomani mengatakan, untuk sekarang ini dari pada pusing memikirkan demokrasi yang dirasa kurang sehat, lebih baik kembali kepada Undang-undang 1945.

“Sekarang saya setuju lah kita kembali saja ke Undang-undang 45, saya pusing melihatnya,” tandasnya.

Selaras dengan pendapat Ketua DPRD Provinsi Lampung, Dedi Afrizal mengatakan, bahwa pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang mau mendengarkan aspirasi masyarakat dan memberikan kesejahteraan sebagai bentuk kerja nyata.

“Ya kalau bicara pemimpin yang tepat, dilihat dari kinerjanya, mau mendengarkan keluhan rakyatnya,” kata Dedi saat dihubungi via telpon, Rabu (22/2).

Menurut Dedi, para calon pemimpin itu turun kepada masayrakat itu hanya pada saat ada perlu saja, nantinya akan menjadi beban moral yang akan dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

“Yang calon pemimpin hanya turun pada saat ada perlu saja, nanti nya akan menimbulkan beban moral, dan nanti kalau mencalon kembali pasti tidak akan dipilih kembali,” imbuhnya.(hkw)