Pemerintah Ajak Masyarakat Sadar Gizi

0
237
views

TRANSLAMPUNG.COM, BANDARLAMPUNG- Hari ini merupakan momentum untuk lebih meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi. Ya, itu karena pemerintah menetapkan 28 Februari sebagai hari gizi nasional.

Pemkot Bandarlampung melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat berharap hari gizi bukan sebatas seremonial belaka. Namun harus menjadi momen untuk meneropong masalah malnutrisi di wilayah Bandarlampung. Untuk kemudian melakukan strategi penyelesaian yang terpadu dan menyeluruh di semua area.

Kadiskes Bandarlampung Edwin Rusli menuturkan, terkait penanganan gizi, pihaknya akan terus mewaspadai kasus balita penderita gizi buruk. Sebab, dampak dari kasus ini dapat berimbas pada suramnya masa depan anak-anak bangsa generasi penerus.

Dia menerangkan, berdasarkan data yang dihimpun dari setiap puskesmas, tahun lalu terdapat sebanyak 4 kasus gizi buruk. Jumlah yang sama dengan orang yang berbeda terjadi di tahun 2015.

Sementara, untuk tahun ini pemkot dapat menekan angka penderita gizi buruk menjadi satu kasus. Itu pun merupakan kasus 2016 lalu yang memang hingga saat ini masih menjadi fokus pengawasan puskesmas Beringinraya, Kemiling. Dengan penderita berusia 23 bulan.

“Rata-rata penderita gizi buruk tiga tahun belakangan berada di usia 3 tahun ke bawah,” ujar Edwin.

Sementara, bila dilihat dari persentase Pemantauan Status Gizi (PSG), Bandarlampung masih berada jauh dari kata rawan gizi. Berdasarkan batas kategori status gizi kurang, pemerintah pusat meminta agar persentase PSG berada di bawah 15 %. Nah, untuk Bandarlampung, angka PSG terakhir yakni pada 2015 terpantau di angka 8,7 persen. Menurun jauh dari PSG 2012 14,6 persen.

“Pemerintah pusat meminta setiap daerah memantau PSG sebisa mungkin 2 tahun sekali. Untuk itu tahun ini kami pun merencanakan akan kembali mengupdate data persentase PSG kota,” ujar Edwin.

Dia memanbahkan, permasalahan yang terjadi menyangkut gizi buruk terbagi atas dua kategori. Yakni kasus marasmus (busung lapar karena kekurangan kalori) dan kwashiorkor (karena kekurangan protein) pada anak. “Setiap masyarakat harus juga mulai secara mandiri turut dalam penyelesaian kasus ini dengan menjadi masyarakat peduli gizi,” ajaknya.

Orang tua diminta turut memantau jajanan anaknya. Pasalnya, jika makanan tidak mengandung gizi sehat terkonsumsi oleh sang anak, tentu akan mempengaruhi perkembangan kecerdasan anak di masa depan.

“Seluruh masyarakat pun harus pandai mengkombinasikan makanan. Seperti sayur-sayuran hingga buah-buahan untuk anak-anak kita,” tandasnya.(jef)