Pantang Menyerah sebagai Komposer Jingle

0
610
views
BERJIWA SENI: Hans Dimas Satria disela-sela membikin jingle di studio musik miliknya.

TRANSLAMPUNG.COM, SURABAYA- Hans Dimas Satria membangun bisnis musiknya dengan tekun. Dia adalah sosok yang telaten dan pantang menyerah. Kini lagu pendek yang diciptakan mulai menghasilkan uang.

THORIQ S.K., Surabaya

HARI-hari Hans Dimas Satria banyak dihabiskan di ruangan seluas 9 meter persegi. Letaknya di lantai 2 Royal Plaza, Surabaya, berdekatan dengan kios-kios handphone. Di ruangan itu, Hans bisa berganti-ganti memainkan alat musik. Mulai drum, gitar, piano, hingga satu set komputer yang biasa digunakan untuk mengaransemen lagu. Sesuka hatinya. Ya, itulah Musicology Record Surabaya, tempat Hans beraktivitas. ’’Beginilah dunia saya,’’ ujar Hans.

Di ruangan itu pula ratusan jingle dibuat. Ada yang dikerjakan sendiri, ada pula yang melibatkan orang lain. ’’Di tempat ini juga muncul berbagai ide,’’ tambah Hans.

Kala itu, Sabtu (8/7), Hans tampak memainkan drum elektronik yang diletakkan di pojok studio. Dia memilih peralatan tersebut karena suara yang dihasilkan lebih enak. Juga, mudah dikontrol. Besar kecilnya suara bisa diatur.

Saat memukul, matanya tertuju pada monitor komputer di sisi kiri perangkat musik tersebut. Di layar ada gambar grafik naik turun. Pandangan Hans terus fokus ke pergerakan grafik. ’’Ada tempo yang salah, harus diulang,’’ ucap pria 35 tahun tersebut.

Hanya sebentar memainkan drum, Hans lalu beranjak dari tempatnya duduk. Kini dia mengoperasikan komputer. Gambar grafik selama memainkan drum digeser menggunakan mouse komputer, kemudian digabungkan dengan gambar grafis lainnya. Terdengarlah suara drum yang beriringan dengan piano dan gitar. ’’Sudah jadi. Ini jingle pesanan klien dari Singapura,’’ ucapnya.

Bapak dua anak itu menjelaskan, sebelum menabuh drum, dia membuat irama gitar dan piano. Keduanya dimainkan dalam waktu yang berbeda. ’’Terakhir, saya sempurnakan irama drum dan akhirnya membentuk sebuah lagu,’’ ucapnya.

Biasanya, Hans menambah satu tahap lagi. Yakni, mengisinya dengan vokal. Namun, khusus pengerjaan order jingle kali ini tidak. Kliennya hanya memesan instrumen. ’’Tidak ada penyanyi dan tidak ada lirik lagu,’’ tambahnya.

Dia mengatakan, pembuatan satu jingle butuh waktu 2–3 hari. Durasi tersebut bisa bertambah, bergantung materi yang diinginkan klien. Semakin rumit, pengerjaannya semakin lama. Tarif yang dikenakan pun semakin tinggi.

Untuk urusan tarif, Hans enggan bicara lebih jauh. Namun, dia menyampaikan bahwa tarif satu jingle sekitar Rp 5 juta. ’’Tapi, bukan harga yang menjadi motivasi saya. Tapi, lebih pada kepuasan klien,’’ ungkap lulusan jurusan desain grafis Stikom Surabaya tersebut.

Keahlian bermain dan mengolah irama musik tersebut didapat secara otodidak. Pria berambut keriting itu lantas menceritakan masa lalu yang membawanya seperti sekarang.

Dia mengatakan dilahirkan dari keluarga sederhana. Sejak kecil dia dilatih mandiri. ’’Saya tidak mudah mewujudkan keinginan begitu saja,’’ ucap putra pasangan Soejono Hans Manto dan Ririn Nur Aini itu.

Ayahnya yang merupakan seniman patung mendidiknya dengan didikan yang keras. Semua yang diinginkan harus dihasilkan dari keringat sendiri. Karena itu, semasa SMP dia pun tidak segan mengamen di jalanan. Namun, cara Hans berbeda. ’’Saya cari uang, tapi tidak melupakan belajar,’’ paparnya.

Tidak heran jika dia memiliki banyak teman. Karena itu, keterampilannya bermain gitar yang semula asal-asalan kian terasah. Hans yang awalnya tidak mengetahui tangga nada perlahan mulai memahaminya. ’’Saya belajar dari teman-teman jalanan,’’ ucapnya.

Hans menikmati masa itu. Namun, dia tidak ingin larut ke dalamnya. Pendidikan formal tetap diutamakan. Pagi hingga siang dia belajar di sekolah. Saat sore hingga malam dia belajar dan bekerja bersama anak jalanan.

Aktivitas tersebut dia jalani sejak SMP hingga lulus SMA. Hans yang dulu bermain musik asal-asalan sudah bisa membuat lagu. Bahkan, dia mampu membaca notasi balok.

Lulus dari SMA, Hans melanjutkan kuliah. Aktivitas mengamen tidak dilakukannya lagi. Dia bersama beberapa rekannya membentuk grup band dan tampil di beberapa kafe. Pengalaman semakin bertambah pada masa kuliah.

Pada 2003 Hans mulai menapaki dunia kerja. Kala itu Hans berprofesi sebagai music director di salah satu media televisi nasional di Jakarta. Hampir setiap hari bergelut dengan musik. Tuntutan perusahaan untuk menciptakan lagu-lagu pendek sangat besar. Lagu tersebut digunakan untuk mengiringi berbagai acara.

Karya yang dihasilkan pun kian menumpuk. Namun, Hans tidak menyebut karya itu sebagai hasil ciptaannya. Sebab, selama berada di perusahaan tersebut, bapak dua anak itu bekerja dengan tim. Dia merasa egois jika menganggap karya tersebut miliknya. ’’Di pekerjaan itu saya hanya menyerap pengalaman,’’ katanya.

Banyaknya karya menyadarkan dia tentang peluang baru. Salah satunya, membikin jingle. Pengalaman selama dua tahun bekerja dengan tim membuatnya mantap untuk hengkang dan mandiri.

Pada 2005 Hans berpamitan dari tempatnya bekerja. Dia kembali ke Surabaya untuk membuka usaha. Mandiri. Dengan modal cekak, Hans nekat membangun studio kecil. Dia menyewa stan di Royal Plaza. Studio itu kemudian diberi nama Musicology Record Surabaya.

Awalnya, Hans hanya memiliki satu gitar, keyboard, dan komputer. Memang, untuk membuat karya yang sempurna, perangkat yang dimiliki Hans kala itu tidak mumpuni. ’’Tapi, saya tidak patah semangat,’’ ungkapnya.

Dia yakin ada cara yang bisa dilakukan untuk mendekati sempurna. Apalagi, teknologi era sekarang cukup mumpuni. ’’Saya mengandalkan banyak software untuk memaksimalkan karyanya,’’ jelasnya.

Bulan pertama tidak ada order sama sekali. Begitu juga pada bulan berikutnya. Dia baru menerima order pada bulan ketiga, yakni dari salah satu minimarket di Surabaya. ’’Dia meminta saya untuk membuatkan lagu berdurasi 1 menit,’’ tuturnya.

Mula-mula Hans menerima materi yang diinginkan klien. Bentuknya company profile. Tentu bukan perkara yang gampang. Apalagi, perangkat yang digunakan terbatas. Namun, berkat kerja keras, perjuangan itu membuahkan hasil. ’’Jingle jadi dan klien puas,’’ ucapnya.

Kepuasan yang dirasakan klien tidak seimbang dengan honor yang diberikan. Hans hanya mendapatkan upah Rp 350 ribu. ’’Itung-itung harga perkenalan,’’ tambahnya.

Perlahan, nama Hans mulai dikenal. Permintaan membuat jingle semakin banyak. Order bukan hanya dari Surabaya, tetapi juga luar kota, bahkan luar negeri. Di antaranya, perusahaan, organisasi massa, hingga partai politik. Uang pun mengalir. Hans juga bekerja sama dengan Kantor Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya. ’’Saya membuat jingle untuk acara International Human Trafficking Day tahun lalu,’’ lanjutnya.

Kini Hans mulai menikmati kerja kerasnya selama ini. Dia menyampaikan, bila mau tekun dan bersungguh-sungguh, tentu ada jalan yang mengantar pada kebahagiaan. (jpg)