Pak Polisi Tolong Basmi Pungli di Jembatan Gantung!

0
633
views
ADA SARANG PUNGLI: Meskipun Wabup Tanggamus Hi. Samsul Hadi beserta jajaran sudah meninjau langsung keadaan jembatan gantung, namun oknum yang diduga melakukan pungli masih bisa duduk nyaman di sarang khususnya. Sungguh ironi, perhatikan foto yang di dalam bagian kotak warna natural. (Foto: DOKUMENTASI DISKOMINFOSANDI TANGGAMUS)

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Peristiwa nahas yang dialami Danang (16) pada Minggu (12/11) dini hari lalu Adi (18) dan Anton (21) pada Sabtu (11/11) malam, ternyata juga mengungkap fakta lain yang cukup mencengangkan. Pasalnya dari penelusuran di lokasi jembatan gantung, warga yang biasa melintas membeberkan diduga kerap terjadi aksi pemalakan “upeti” atau pungutan liar (pungli).

“Jumlahnya nggak pasti. Kadang Rp2 ribu, itu untuk warga yang sudah biasa melintas. Tetapi kalau yang melintas adalah orang luar atau bukan warga sekitar, punglinya mulai dari Rp5 ribu sampai Rp10 ribu sekali melintas,” ungkap salah seorang warga yang mewanti-wanti agar namanya tak disebutkan.

Indikasi praktik pungli yang memanfaatkan keberadaan jembatan gantung itu terbilang sudah cukup meresahkan. Warga mempertanyakan peruntukan uang hasil pungli di jembatan gantung itu. Karena jika uang itu digunakan untuk perawatan atau pemeliharaan jembatan, mungkin masih bisa dimaklumi.

“Tetapi fakta yang ada, kondisi jembatan semakin lama, semakin memprihatinkan. Sementara praktik pungli berlangsung setiap hari. Pertanyaannya: ke manakah uang hasil pungli dari warga yang melintasi jembatan gantung itu? Apakah masuk ke kas pekon, kas karang taruna, atau masuk dan memperkaya kantong sekelompok orang tertentu? Itulah yang menjadi tugas para aparat penegak hukum,” keluh warga.

Selain dugaan pungli, juga ada kejanggalan yang sangat menohok mata. Pasalnya, pada Minggu siang saat heboh pencarian jasad Danang, jembatan gantung sudah disegel dengan police line. Suatu lokasi yang disegel dengan police line, artinya adalah lokasi wajib steril dari segala aktivitas manusia pasca-sebuah kejadian. Sebab, itu merupakan sebuah Tempat Kejadian Perkara atau dalam istilah ilmiah hukum disebut locus delicti.

Entah bagaimana ceritanya, apa alasannya, dan siapa yang melepasnya, police line yang terpasang di jembatan gantung Minggu siang, pada Senin (13/11) sudah tidak ada lagi. Padahal jembatan gantung tersebut merupakan locus delicti jatuhnya Adi, Anton, dan Danang hingga ketiganya meregang nyawa di Way Semaka.

Masyarakat yang menggantungkan aktivitas dan mobilitas sehari-harinya pada jembatan gantung itu, sangat mendambakan peningkatan pengamanan dari kepolisian. Sebab, praktik pungli sudah dilakukan terang-terangan pada siang hari. Pada malam harinya, lebih parah lagi. Bahkan jembatan gantung itu menjadi pangkalan para preman untuk memalak warga yang melintas malam hari.

“Setelah mendapatkan ‘upeti’ dari warga yang melintas, para preman yang biasa mangkal di sana, sering mabuk-mabukkan minuman keras dan berbuat onar. Bukan tidak mungkin, Adi dan Anton yang lebih dulu jatuh dari jembatan gantung, adalah korban pemalakan para preman. Karena waktu adalah Sabtu malam, yang merupakan waktu ideal para muda-mudi. Tapi itu semua baru dugaan,” pungkas narasumber berusia paruh baya itu. (ayp)