Nostalgia Robbie Peters, Calon Profesor Australia, di Kampung Dinoyo

TRANSLAMPUNG.COM- Tujuh belas tahun lalu, Robbie Peters yang masih berstatus mahasiswa pascasarjana Universitas Sydney memutuskan untuk tinggal dan menetap di Gang 9 Dinoyo. Selama setahun dia meneliti dan bercengkerama dengan warga. Hasilnya adalah buku Surabaya 1945-2010; Neighborhood, State and Economy in Indonesia’s City of Struggle.

Sejak 15 Februari, Robbie Peters kembali lagi ke Dinoyo untuk mengenang masa-masa kebersamaannya dengan masyarakat di pinggir Kalimas tersebut. Meski bule, Robbie tampak sangat akrab dengan warga sekitar. Saat berjalan, ada saja tukang becak, tambal ban, sampai bapak-bapak yang sedang kongko-kongko di warung kopi menyapanya.

Kamis sore (23/2) Robbie keluar dari tempatnya menginap di Gang 9 Dinoyo. Dekat rumah kontrakannya dulu. Berjalan-jalan bersama Jawa Pos. Mencari udara segar di sekitar Jembatan Dinoyo. Tampilannya sederhana, cuma kaus putih dan celana pendek. Orang tidak akan menyangka bahwa dia adalah salah seorang kandidat guru besar antropologi Universitas Sydney.

”Hey, Robi!” seru Slamet, seorang warga Dinoyo, menyapa Robbie. Keduanya pun bersalaman dan saling menepuk pundak masing-masing. Robbie menggunakan bahasa Indonesia yang fasih sepanjang waktu.

”Bagaimana, masih ada cukrik di sini?’’ goda Robbie

”Oh sudah ndak ada, itu dulu,” tangkis Slamet. Bapak-bapak yang nongkrong di warung itu pun tertawa meladeni guyonan Robbie.

Lepas menyapa Slamet dan bapak-bapak di warung kopi, dia pun menyeberang ke sisi timur Jalan Darmokali menuju bawah jembatan. Di situ dia menyapa Jono, seorang pendaur barang bekas. Dia sedang duduk di atas pagar pembatas sungai. Keduanya pun berangkulan.

Robbie adalah doktor bidang antropologi Universitas Sydney. Pada Januari 1998 hingga Januari 1999, dia memulai riset tentang kaum miskin kota. Dalam disertasinya, Robbie menyajikan detail tentang low income neighborhood. Dia merujuk pada kampung yang selalu beradaptasi pada setiap episode sejarah republik ini.

Robbie adalah salah seorang ilmuwan asing yang paham betul soal Surabaya. Jika bicara soal Kota Pahlawan, dunia akademik selalu merujuk pada Howard Dick (penulis Surabaya; City of Work), Willian H. Frederick yang menulis Pandangan dan Gejolak tentang Lahirnya Revolusi 1945, atau Francis Palmos yang memaparkan peristiwa 10 November. Robbie memotret Surabaya dari miniatur terkecil. Lewat kacamata antropolog. Yakni, kampung.

Sampel risetnya adalah Indonesia dan Vietnam. Di Indonesia, Robbie mengambil sampel Surabaya. Di Surabaya, dia mengambil sampel beberapa kampung. Yakni Dinoyo, Kalibokor, Ngangel, dan Keputran. ”Ada yang luar biasa dengan kampung-kampung ini. Khas,” kata Robbie.

Dalam melakukan riset, Robbie mengontrak rumah kepada seorang Madura di Gang 9 Dinoyo. Dia kemudian tinggal bersama sang istri selama enam bulan. Awalnya, pria kelahiran Melbourne, Australia, itu tersiksa dengan iklim tropis. Membuatnya ingin keluar rumah hanya dengan kaus dalam dan celana pendek. ”Bagaimana saya bisa berpakaian rapi dengan cuaca sepanas itu,” tuturnya.

Kunci Robbie bisa masuk ke Kampung Dinoyo adalah bantuan dari seorang dosen Ubaya, Martono. Dari pakar hukum itulah, Robbie mendapatkan gambaran utuh. Martono juga yang memperkenalkan Robbie pada konsep ma-lima. Senjata andalan Sunan Ampel untuk mengubah hidup kaum abangan. Ma-lima (baca: mo limo) adalah konsep diri untuk moh maling (tidak mencuri), moh madat (tidak mengisap candu), moh madon (tidak berzina), moh minum (tidak mabuk-mabukan), moh main (tidak berjudi). Ia adalah antitesis gaya hidup yang juga ma-lima, yakni maling, madat, madon, minum, dan main.

”Saya mempelajari konsep ma-lima untuk diterapkan di kampung abangan,” ungkap Robbie.

Kawasan di barat Sungai Kalimas, seingat Robbie, adalah Kampung Dinoyo yang khas karena dihuni oleh orang-orang abangan. Setiap hari warganya akrab dengan judi, togel, menenggak cukrik, serta mengadu ayam dan burung. ”Banyak bapak-bapak yang telanjang dada juga,” kenangnya.

Sementara itu, kawasan di timur Kalimas adalah daerah pusat industri terpenting di Surabaya, bahkan di Indonesia timur. Di sana, di lokasi kompleks Marvell City, pernah berdiri tegak pabrik rokok BAT. Selain itu, ada Lapangan Barata, Philips, dan pabrik gelas Iglas. ”Dulu Novotel itu bekas Unilever,” katanya.

Selain kawasan industri, Ngagel di seberang Jembatan Dinoyo merupakan basis kuat Partai Komunis Indonesia (PKI). Beberapa tokoh juga terlibat dalam operasional dan kepemilikan pabrik. Bahkan, Robbie mengaku pernah membaca sebuah artikel bahwa saking PKI-nya area tersebut, beberapa tempat dinamai yang berbau komunis. ”Ada gang namanya Gang Lenin,” katanya.

Penelitian selama setahun membuahkan disertasi penting yang mengantarkannya menjadi doktor. Dengan buku Surabaya 1945-2010, Robbie duduk di antara jajaran ilmuwan penting yang menulis tentang Surabaya.

Robbie menggambarkan bagaimana orang-orang Dinoyo sejak tiga generasi sebelumnya bertempur menghadang sekutu di atas jembatan, menyaksikan kehancuran Partai Komunis Indonesia (PKI), bangkit dan jatuhnya Rezim Orde Baru, hingga merespons kampanye antiteroris dan reformasi urban modern. Robbie menemukan bagaimana identitas komunal dan sistem ekonomi informal mereka bertahan dan merespons berbagai perubahan. ”Sampai sekarang, saya meneliti tentang ekonomi informal rakyat Indonesia,” kata Robbie.

Dalam benak Robbie, adaptasi ”ekonomi informal” milik rakyat Indonesia selalu mengagumkan. Terus bertahan menyesuaikan zaman. Tahun ini pun, Robbie bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk meneliti tentang ojek online (Go-Jek) dan nasib bantuan langsung tunai (BLT) dari presiden kepada rakyat Indonesia. ”Seperti ini juga ekonomi informal,” kata Robbie menunjuk tempat daur ulang sederhana milik Jono di pinggir Kalimas.

Saat ini, kata Robbie, wajah kampung-kampung kesayangannya itu sudah banyak berubah. Cuaca sudah tidak sepanas dulu. Bapak-bapak tidak lagi bertelanjang dada. Di dekat masjid juga tidak lagi ditemukan orang andhok dara (mengadu burung merpati).

Menurut Robbie, banyak keberuntungan yang membantunya dalam melakukan riset di Indonesia. Selepas berpisah dengan sang istri, orang-orang Dinoyo bisa menerimanya layaknya keluarga sendiri. Kemudahan melakukan riset di Indonesia, kata dia, adalah karena dirinya mampu menginap dan berinteraksi langsung dengan warga. ”Kalau di Vietnam, kamu akan tersiksa karena harus menginap di hotel,” kenangnya.

Selama riset, dia tidak perlu susah-susah mencari narasumber. Setiap hari ada saja yang menghampirinya, ingin kenal, sok caper, lalu menceritakan apa saja yang dia ketahui. Robbie tinggal mencatat dan merekamnya. ”Kalau di Dinoyo, sumber saya datang sendiri,” ungkapnya. (JPG/tnn)

News Reporter