. . .

“Merajut Kopi Nusantara” ala Warkop WAW dan Trans Lampung, dari Sebuah Masterpiece hingga Pemersatu Bangsa

image_print
NGOPI ALA WARKOP WAW: Bigboss Trans Lampung Ismail Komar dan Master Barista Koh Sandi, sedang menikmati kopi di Warkop WAW. (Foto: AYP)

TRANSLAMPUNG.COM, BANDARLAMPUNG – Kopi seolah tiada habis menyimpan pesona di balik pekatnya biji. Terlebih bagi para penikmatnya, bicara tentang kopi, tak pernah ada habisnya. Di tengah menjamurnya kedai kopi di Lampung, Warkop WAW juga tak mau ketinggalan mempopulerkan serta membudidayakan ngopi lewat Merajut Kopi Nusantara. Even ini sekaligus untuk memperingati Hari Kopi Sedunia setiap 1 Oktober. Pujangga modern bahkan pernah membuat sajak tentang kopi: jika kesempurnaan kopi adalah rasa pahitnya, lalu apalagi yang kau takutkan dari manisnya cinta. 

 

Hari ini (6/10), merupakan momen istimewa bagi Trans Lampung dan Warkop WAW. Bigboss Trans Lampung sekaligus pendiri Warkop WAW, Ismail Komar, S.H., M.M. sangat antusias dengan even “Merajut Kopi Nusantara” ini. Tak hanya menikmati free coffee, undangan juga bisa mendapatkan pengetahuan lebih seputar kopi dari Master Barista, Koh Sandi — sapaan akrabnya.

“Bahkan, di Warkop WAW pengunjung juga bisa nonton bareng film tentang sejarah kopi di Indonesia. Sungguh kesempatan langka. Selamat menikmati ya,” kata Ismail Komar menyapa para tamu di Warkop WAW. 

Tidak bisa dipungkiri, aroma dan cita rasa kopi yang nikmat telah membuat para pencintanya tidak bisa jauh darinya. Kopi bisa menjadi “candu” yang selalu dirindu. Sehari saja tanpa kopi, bisa membuat penikmatnya kehilangan semangat dalam menjalani hidup.

Kenapa sih kopi bisa berarti begitu dalam bagi para penikmatnya? Tentu saja karena bagi mereka, kopi itu tidak sekedar minuman biasa. ‘Merajut Kopi Nusantara’ besutan Warkop WAW ini, juga menyampaikan satu pesan bahwa kopi dan budaya ngopi, adalah milik semua kalangan secara universal yang bisa menjadi ‘perekat’ bangsa. Bukan milik komunal apalagi individual,” ujar alumnus Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada itu.

Setidaknya ada tiga filosofi kopi yang akan membuat kita lebih memahami arti kehidupan. Apa sajakah itu? Pertama, beragam varian jenis minuman kopi adalah sebuah hasil karya yang bernilai.

Perjalanan kopi hingga akhirnya terseduh dalam satu cangkir, tidaklah melalui proses yang instan. Dari biji kopi yang dihaluskan lalu dibuat dalam bentuk bubuk, hingga kemudian menjadi minuman yang nikmat, membutuhkan proses yang butuh kesabaran.

“Bahkan istilahnya: beda tangan, akan menghasilkan beda cita rasa. Kopi pun memiliki beragam jenis yang bisa menghasilkan cita rasa dan kenikmatan yang berbeda-beda. Bahkan kopi pun bisa disajikan dengan sederhana. Layaknya kopi tubruk. Atau bisa menjadi minuman high class dengan tampilan yang waw. Seperti kita temukan di kafe-kafe. Itulah keunikan kopi,” ungkap Ismail Komar.

Dari keunikan itu, kata dia, kopi justru mengajarkan tentang kehidupan. Layaknya kopi, manusia pun memiliki keunikannya masing-masing. Poinnya, manusia tak bisa disama-ratakan. Karena tiap insan punya perbedaan karakter. Namun perbedaan itulah yang justru harus dihargai.

“Kita harus mampu menghargai tiap perbedaan yang ada. Pola asuh yang berbeda pun akan menghasilkan karakter-karakter manusia yang berbeda. Lingkungan tumbuh besar yang berbeda, akan menghasilkan manusia-manusia yang berbeda. Manusia adalah masterpiece Tuhan Yang Maha Kuasa. Sedangkan kopi adalah masterpiece para pengolahnya,” urai Ismail Komar.

Pelajaran kehidupan kedua dari kopi, sebagai pengikat (perekat) rasa. Artinya, tanah-air nusantara ini menghasilkan sangat beragam jenis kopi. Beda tempat akan menghasilkan jenis biji kopi yang berbeda. Biji kopi yang berbeda akan menghasilkan cita rasa yang berbeda pula. Heterogenitas kopi dari seluruh penjuru nusantara ini, tidak ada yang paling nikmat atau tidak nikmat.

“Maksudnya, semua memiliki kenikmatannya masing-masing. Kembali pada selera penikmatnya. Lebih suka jenis kopi yang seperti apa. Begitulah hidup, setiap manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing. Bagi orang lain bisa jadi hidup kita terasa ringan. Namun bagi kita sendiri, terlihat sangat menyedihkan. Bagi kita masalah orang lain terlihat begitu mudah, sedang bagi mereka yang menjalaninya terasa begitu sulit. Semua kembali pada sudut pandang dan cara menjalaninya,” tutur Ismail Komar.

Penikmat kopi, dia menambahkan, biasanya adalah orang-orang yang bisa menghargai perbedaan-perbedaan tersebut. Maka tak heran, kopi bisa menjadi pengikat/perekat rasa bagi mereka yang berkumpul di sebuah ruangan yang sama. Secangkir kopi bisa menjadi pembuka obrolan yang hangat bagi orang-orang yang baru saja saling bertemu atau telah lama terpisah sekian tahun dan kembali bertemu. (ayp)