. . .

Merajut Asa Antara Mesuji – Jakarta

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, MESUJI – Siang itu sekitar pukul 12.00 wib, sekumpulan anak yatim dan keluarga tidak mampu berbaris di halaman Rumah Dinas Bupati Mesuji dengan ekspresi serta rawut wajah yang berbeda.

Tampak rasa ingin tau terhadap sesuatu nyaris terpancar di tiap sisi gerak tubuh dan nada bicara mereka yang rata-rata masih berusia 6 -11 tahun.

Diluar pagar rumah, terparkir empat unit bus pariwisata yang siap mengantar putra-putri Mesuji itu menuju Kota Jakarta dalam rangka wisata edukasi bagi 1000 anak yatim yang digagas Khamami selaku Bupati Mesuji.

Benar saja, saat jarum jam telah menunjukkan pukul 13.00 wib siang, gemercik air hujan turun seiring dengan suara mesin bus yang menyapa.

Berbekal pesan dari sang pemimpin (bupati), para peserta kloter IV didampingi guru pembimbing mulai bergegas melangkahkan kaki menuju kursi dalam ruang bus pariwisata.

Hemmm… udara segar berhembus dari freon Ac perlahan menyentuh kulit. Suasana sejuk semakin terasa setelah terkena percikan air hujan yang mengguyur Bumi Mesuji.

Ketika semua kursi terisi, pengemudi bersama kondektur bus juga bersiap mengambil posisi.

Pada pukul 14.30 WIB, pedal kompling dan perseneling siap di operasikan, gas pun mulai ditekan perlahan. Sesekali sopir menginjak pedal rem bersamaan dengan lambaian tangan dari jari-jari lentik anak yatim dan kurang mampu asal Mesuji yang akan beranjak menuju Kota Metropolitan Jakarta.

Wuisss….
Tak terasa, keempat bus sudah melewati perbatasan Kabupaten Mesuji dengan beberapa kabupaten lainnya.

Sementara para sopir dan kondektur tetap cermat memperhatikan laju kendaraan hingga sampai di Kota Bandar Lampung pada pukul 21.45 WIB.

Perjalanan darat meniti tiap inci aspal hitam sudah memakan waktu tujuh jam 15 menit, kondisi anak-anak Mesuji yang masih belia itupun terlihat semakin melemah.

Namun, semangat ingin melihat wajah Ibu Kota kembali bergelora kala aroma air laut mulai menyengat rongga hidung yang menganga.

Tersentak dari lelap tidurnya, tepat pukul 23.43 wib, satu diantara mereka menunjuk kearah sisi jendela kaca bus tampak ada beberapa kapal besar mulai terlihat didepan mata.

Mungkin dalam hati ada yang bertanya, mau kemana sebenarnya kita???

Hah..
Tidak berapa lama, bus kembali berjalan melewati pintu gerbang dengan tulisan besar ‘Pelabuhan Bakauheni’.

Brem,, bremmm,, tin tinnn!!!

Suara bising bunyi knalpot dan klakson kendaraan silih berganti menusuk telinga, seperti mengabarkan, antrian panjang menjadi pembuka jalan antara pulau Sumatra dan pulau Jawa.

Tepat pukul 02.10 wib pagi, bus yang ditumpangi kini melaju memasuki pintu rampa deck dasar kapal Ro – Ro (rool on – rool off) melewati lorong besi dalam lambung kapal Nusa Agung yang bersandar di dermaga.

Suara pluit ABK (anak buah kapal) menjadi pemandu laju kenderaan menambah rasa penasaran didada.

Putra-putri Mesuji kembali meniti anak tangga untuk mencapai ‘main deck’ kapal. Hembusan angin laut semakin kencang, buih dan desir ombak sayub – sayub membisik telinga.

Sirine terdengar, pertanda kapal mulai menjauhi tepi dermaga.

Dipelupuk mata, terlihat seberkas cahaya yang terpancar dari sebuah bangunan di atas bukit berbentuk menara siger berwarna kuning keemasan menyala.

Itu tanah Lampung ku, menjerit dalam hati ingin berlari, tapi apa daya kini kami sudah berada di kapal besi yang akan mengarungi ‘Selat Sunda’ untuk menggapai impian yang kelak menjadi bekal dalam perjalanan karir kami nanti.

Terimakasih Bupati Mesuji Khamami, karena perhatian dan empatimu selama ini kami bisa merajut mimpi berkeliling melihat gedung-gedung bertingkat, hiruk-pikuk, padatnya ibu kota Jakarta.

Selamat tingggal dan selamat Hari Ulang Tahun (HUT) ke – 10 Mesuji (26 November 2012 – 26 November 2018).

‘Kami pergi untuk kembali’

(Kloter IV)