Menuju Perencanaan Keuangan Syariah Rumah Tangga

0
4463
views

TRANSLAMPUNG.COM – BUKAN kata asing lagi yang namanya perencanaan keuangan syariah, makin dikenal oleh masyarakat Indonesia. Mungkin fenomena ini muncul berjalan seiring dengan kesadaran masyarakat akan kebutuhan penerapan syariah dalam kegiatan keuangan syariah, di dalam rumah tangga kita dapat menerapkan perencanaan keuangan syariah  Seperti yang diatur di dalam Alqur’an surat Al-Furqon ayat 67 :

“Dan orang-orang yang apabila dalam membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian itu”.

Melalui ayat ini, dapat disimpulkan bahwa Allah SWT mengasihi orang yang mencari rejeki yang halal, membelanjakannya secara hemat (wajar), dan menyimpan kelebihannya untuk kepentingan di saat sulit dan di saat memerlukannya.

Dalam perjalanan nya perencanaan keuangan yang berbasis syariah ini menerapkan prinsip-prinsip syariah Islam. Islam mengajarkan pada para umatnya untuk melakukan ritual keagamaan yang sering disebut ibadah dan juga mengajarkan tata cara melakukan kegiatan ekonomi dan pengelolaan harta.

Nah pada sisi ini dalam merencana keuangan syariah kita berusaha melakukan eksplorasi yang maksimal agar investasi dan tata cara pengelolaan keuangan memenuhi hukum-hukum yang telah diatur dalam Al Quran dan Hadits.

Membangun Rumah Tangga Menurut Islam tidak hanya sekedar membangun hubungan antara suami dan istri yang dilingkupi rasa cinta saja. Pembangunan keluarga hakikatnya adalah untuk mencapai Keluarga Sakinah Dalam Islam dan Keluarga Harmonis Menurut Islam. Hal ini dikarenakan Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah  adalah tujuan dari adanya pernikahan yang dibangun.

Untuk dapat mencapai tujan tersebut, tentu saja keluarga harus memiliki modal dan sumber daya yang kuat agar tercipta keluarga yang berdaya, kuat secara aspek finansial, bahkan dapat memberikan kontribusi lebih bagi masyarakat. Artinya, keluarga tidak hanya sekedar menghidupi ruang lingkup pribadinya saja namun berdaya bagi sesama.

Salah satu aspek yang harus dikelola dalam keluarga adalah keuangan. Keuangan adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan rumah tangga. Tidak jarang, permasalahan Perselingkuhan dalam Islam dan Konflik dalam Keluarga terjadi karena tidak adanya pondasi keuangan yang kuat di dalamnya. Untuk itu, keluarga muslim harus dapat mengelola dan merencanakan keuangannya dengan baik.

Di dalam Surah Al-Baqarah Ayat 30 yang menyebutkan bahwa manusia adalah khalifatul fil ardh (pemimpin dunia), sesuai dengan posisinya sebagai khlalifah maka manusia diberikan kewenangan untuk mengatur urusan dunia agar memperoleh kesejahteraan di dunia maupun di akhirat.  Harta dalam Islam berada pada individu-individu untuk dikelola oleh individu tersebut agar bermanfaat untuk mensejahterakannya didunia dan akhirat. Jadi yang ada adalah hak untuk mengelola dan memanfaatkan bukan hak milik mutlak, sedangkan kepemilikannya adalah mutlak milik Allah SWT. Terhadap harta yang berada dalam pengelolaan individu tersebut, Allah SWT selaku  pemilik harta memerintahkan manusia pengelola harta untuk memberikan sebagian dari harta yang berada dalam penguasaan atau kelolaannya kepada orang lain dalam bentuk zakat dan sedekah.

Merencanakan keuangan syariah rumah tangga harus benar-benar teliti dimana tidak ada unsur riba, dalam perencanaan nya mulailah dengan mengelola :

 Memisahkan Rekening

Memisahkan rekening adalah aktivitas dimana dalam mengelola keuangan dikelompokan berdasarkan kebutuhan. Idealnya ada rekening yang berbeda untuk jangka waktu dan kebutuhan yang berbeda. Misalnya saja rekening khusus untuk kebutuhan harian dan rekekning khusus untuk tabungan atau dana darurat keluarga. Hal ini perlu dilakukan agar tidak pusing dalam mengelola keuangan serta dapat jelas harus mengalokasikannya dari akun rekening yang mana. Di lain waktu aktivitas ini juga membuat kita tidak akan bingung saat harus mempergunakan uang, berasal dari dana yang mana.

  Cicilan Utang

Hutang adalah kewajiban yang harus dibayar dan didahulukan. Hutang tentu menjadi beban jika tidak segera dibayarkan oleh pemiliknya. Hutang Dalam Pandangan Islam dan Berhutang Dalam Islam bukan sesuatu yang dilarang atau haram tentu saja yang tidak bernilai riba. Pinjaman Tanpa Riba tidak dilarang oleh islam karena tentu tidak ada pihak yang dirugikan atau berlaku sewenang-wenang. Hukum Riba Dalam Islam adalah haram dan Bahaya Riba adalah dunia dan akhirat. Hutang yang dipinjam melalui bank atau pihak perbankan lainnya harus segera dibayarkan apalagi jika hutang tersebut memiliki bunga. Semakin lama peminjamannya maka akan semakin menumpuk pula bunga yang harus kita bayar. Untuk itu sebenarnya islam melarang pinjaman berbunga yang bagi beberapa ulama dianggap sebagai riba. Oleh karena itu dalam sebuah perencanaan keuangan keluarga, aspek hutang ini harus menjadi aspek yang diperhitungkan serta menjadi diskusi antara suami dan istri.

  Menabung

Dalam perencanaan keuangan selanjutnya yang perlu diperhitungkan adalah menabung. Sebaiknya keluarga memiliki rencana tabungan yang sudah diatur dan di plot. Misalnya untuk tabungan pendidikan anak, tabungan dana darurat, tabungan pensiun, atau tabungan-tabungan untuk keperluan lainnya. Dalam jangka pendek tabungan memang tidak berdampak banyak pada keberlangsungan keluarga. Akan tetapi, di jangka panjang tentu saja sangat berpengaruh. Tabungan ibarat dana cadangan atau darurat keluarga yang pasti akan dibutuhkan sewaktu-waktu, jika terjadi sesuatu yang mendadak dibutuhkan dan tidak termasuk dalam rencana Anggaran Rumah Tangga.

Anggaran Belanja Rumah Tangga

Anggaran Belanja Rumah tangga adalah susunan kebutuhan beserta budget  yang dibutuhkan oleh keluarga. Susunan ini bisa dibentuk setiap tahun, setiap bulan, bahkan juga setiap harinya. Tentu diturunkan dari perencanaan keuangan selama setahun lebih baik dan bersifat lebih intergral.

Keluarga dengan penghasilan tinggi, rata-rata, atau rendah tentu harus tetap membuat Anggaran Belanja ini. Orientasinya agar dapat tetap hidup cukup, hemat, dan tidak berlebih-lebihan. Akan lebih baik jika pemasukan lebih besar dari pengeluaran yang dibutuhkan, keluarga bisa membantu memberdayakan keluarga lainnya yang membutuhkan.

 Investasi syariah

Dalam perencanaan keuangan syariah kita akan mengenal investasi syariah dimana jenis-jenis investasi yang diperkenankan dalam syariat Islam.  Cara-cara investasi  konvensional sepanjang tidak melanggar ketentuan syariah tetap diperbolehkan digunakan dalam kegiatan perencanaan keuangan syariah. Sebagai contoh berinvestasi dalam bentuk tanah diperbolehkan.

Namun apabila tanah tersebut tidak dimanfaatkan, maka investasi tanah tersebut tidak diperkenankan. Apabila kita akan berinvestasi dalam bentuk tanah maka tanah yang diharapkan kenaikan harganya harus dimanfaatkan, tidak boleh ditelantarkan.

Tanah tersebut dapat disewakan kepada penggarap, atau dikelola sendiri untuk mendatangkan manfaat, tidak boleh karena terlantar kemudian menjadi sarang tikus atau sarang ular atau lebih parah lagi kemudian menjadi tanah sengketa. Wah ini bukannya memperoleh manfaat malahan memperoleh mudharat.

Investasi dalam bentuk saham diperkenankan dengan beberapa ketentuan yaitu antara lain, saham yang dibeli bukan saham perusahaan yang memproduksikan barang terlarang atau barang haram, atau perusahaan tersebut memberikan jasa yang dilarang misalkan perusahaan panti pijat esek-esek, rumah judi dll.

Selain itu jual beli saham dilakukan dengan motivasi atau pertimbangan investasi bukan berupa kegiatan trading jangka pendek, short selling apalagi kegiatan mencari untung dengan menggoreng saham. (*)