. . .

Menkes Kumpulkan Kadinkes Se-Indonesia

image_print

Terkait Status Vaksin MR

TRANSLAMPUNG.COM – Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek mengumpulkan seluruh Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) se-Indonesia, Kamis (23/8). Agenda tersebut berkaitan dengan keluarnya Fatwa MUI mengenai status Vaksin Measles Rubella (MR).

Dalam Fatwa MUI bernomor 33 Tahun 2018, vaksin tersebut dinyatakan haram lantaran mengandung unsur babi. Tetapi, MUI masih membolehkan untuk digunakan, selama belum ada vaksin serupa yang halal.

Hadir dalam kesempatan itu, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono, dan Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam.

Nilla menjelaskan, Fatwa MUI itu telah memberi penegasan bahwa masyarakat tak perlu ragu memanfaatkan vaksin MR dalam program imunisasi. Sebab imunisasi vaksin MR adalah ikhtiar untuk menghindarkan buah hati dari risiko terinfeksi penyakit Campak dan Rubella, yang bisa berdampak pada kecacatan dan kematian.

“Imunisasi sangat bermanfaat untuk menjauhkan kita dari mudarat (penyakit berbahaya) yang bisa mengancam jiwa anak-anak kita. Melindungi generasi agar tumbuh menjadi bangsa yang sehat, cerdas dan kuat, serta membawa maslahat untuk umat,” tutur Nilla.

Dijelaskan Nilla, Bertepatan dengan keluarnya Fatwa MUI tersebut, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo juga telah menerbitkan surat dukungan pelaksanaan imunisasi MR fase II kepada seluruh Gubernur, Bupati dan Walikota di 28 Provinsi di luar pulau Jawa.

Di samping itu, Nilla mendukung dan mendorong para akademisi, peneliti dan ilmuwan untuk terus mencari dan menggali teknologi kesehatan, dengan tetap menjadikan pertimbangan keagamaan sebagai panduan.

“Imunisasi vaksin MR diberikan untuk melindungi anak Indonesia dari penyakit kelainan bawaan seperti gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, kelainan jantung dan retardasi mental yang disebabkan adanya infeksi rubella pada saat kehamilan. Ini untuk mewujudkan anak Indonesia yang sehat dan berkualitas di kemudian hari,” beber Nilla.

Nilla menegaskan, pemerintah berkomitmen kuat dalam mewujudkan eliminasi campak dan mengendalikan penyakit rubella serta kecacatan bawaan akibat rubella (Congenital Rubella Syndrome) di Indonesia pada tahun 2020. Strategi yang ditempuh adalah pemberian imunisasi Measless Rubella (MR) untuk anak usia 9 bulan sampai kurang dari 15 tahun.

“Strategi tersebut bertujuan mengendalikan kedua penyakit itu (campak dan rubella) yang kemudian diikuti peralihan pemakaian vaksin campak menjadi vaksin MR ke dalam program imunisasi,” pungkasnya. (ika/JPC/jpg)

error: Content is protected !!