. . .

Menilik Geliat Usaha Peternakan Kambing Tradisional Bapak Sahri 

image_print
Idul Adha Permintaan Melonjak
BISNIS Peternakan kambing jarang diminati, hal ini karena butuh ketelatenan dalam memperlakukan kambing-kambing di peternakan. Tak jarang kambing sering sakit bahkan mati mendadak, perlakuan seorang peternak kepada kambing juga menentukan kesehatannya. 
Laporan Raden Yusuf
TRANSLAMPUNG.COM, METRO – Berada di Jalan Musang 1 Hadimulyo Timur, Metro Pusat. Kediaman Sahri (68) peternak kambing berdiri sejak puluhan tahun lalu. Saat ditemui, Kudur (40) anak bapak Sahri sedang asyik memberi makan kambing-kambingnya.
Dengan semangat Kudur memberi makan kambing-kambingnya untuk persediaan permintaan menjelang Idul Adha mendatang. Berbagai jenis kambing diperlakukan dengan baik oleh Kudur.
Berbagai jenis kambing tersedia di peternakannya mulaibdari jenis Etawa. Kacang, Prambon, Koploan, Borawa, hingga Moreno. Harganya pun bervariasi mulai dari jenis Kacang 1,7-3juta, Etawa 2-4 juta, Prambon 2,8-3,5, Moreno 5 juta, Borawa 3 juta, dan PE 2,5-4 juta.
Menurutnys permintaan hingga ke luar daerha mulai dari Jambi hingga Batam. “Kalau kita peternak mulai dari Jambi hingga Batam,” kata Kudur, Selasa (7/8/2018). Menurutnya harga menjelang Idul Adha naik drastis.
“Kalau hari biasa timbangan hidup harga dagingnya 55ribu kalau sekarang timbangan hidul bisa 75-80 ribu,” imbuhnya.
Pemberian pakan juga rutin, perhari adalah 3 kali. “Pusingnya kalau pas pakannya habis. Karena banyak juga kambing yang belum lunas di agen,” katanya.
Sahri mengatakan, untuk konsumen juga ada sistem titip. “Biasanya tanggal 31 dititipin, mau motong baru ambil. DP dulu, baru dimbil, untuk ongkos kirim dalam kota biaya 50 ribu sekali anter,” cetusnya. (suf)