. . .

Menginspirasi Pelestarian Gajah Melalui Kegiatan Ekonomi Kreatif

image_print

Beno Fariza Syahri dalam paparannya mengenai program WWF untuk Gajah di Sumatera di Rumah Konservasi Sahabat Gajah

TRANSLAMPUNG.COM, BANDARLAMPUNG – Pentingnya menjaga keberlangsungan habitat dan populasi gajah Sumatera sebagai ikon dari Provinsi Lampung khususnya di Pulau Sumatera. Saat ini para pecinta gajah yang tergabung dalam “Rumah Konservasi Sahabat Gajah” melakukan inovasi dan kreatifitas untuk harapan baru masa depan gajah sumatera.

Rumah Konservasi Sahabat Gajah yang diinspirasi dari kegiatan Coca-Cola Forest – Coca Cola Amatil Indonesia (CCAI) menjadi sebuah gagasan mencari solusi menjaga keberlangsungan populasi gajah dan habitatnya, karena gajah saat ini menjadi hewan mamalia yang terancam punah akibat alih fungsi hutan, pengerusakan habitat melalui perburan dan konflik gajah dengan manusia. Pembahasan tersebut dituangkan dalam sebuah pertemuan G-Talk yang digelar di Rumah Konservasi Gajah, Jalan Karimun Jawa, Bandarlampung, Kamis (30/8).

Dalam talkshow tersebut hadir Kepala Bidang Perlindungan dan Konservasi Hutan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung Wiyogo Suprianto, Akademisi dari Universitas Lampung (Unila) Elly Lestari Rustiati merupakan Pendamping Daerah Wisata dan Asrian Hadicahyana yang merupakan salah satu Pengamat Ekonomi, serta Beno Fariza Syahri dari WWF Indonesia. Selain itu peserta talkshow hadir dari para pengamat, akademisi, mahasiswa AIESEC, Teknik Lingkungan ITERA, Forum Pendidik Desa Sukanegara, Agra Indonesia, Trans Lampung, Karang Taruna Desa Sukanegara dan para penggiat sahabat gajah.

Wiyogo Suprianto mengatakan, bahwa pertumbuhan manusia yang sangat pesat, membuat gajah mulai terusik keluar dari habitatnya. Dari faktor intern sendiri, habitatnya berubah atau rusak, dan populasinya yang bertambah ungkapnya. Wiyogo mengharapkan, bahwa gajah harus di jadikan sebuah peluang usaha yang memiliki nilai ekonomi, dan menghindari dari konflik Gajah yang sekarang menjadi suatu inspirasi kreatif untuk menciptakan sebuah peluang usaha”.

Kemudian Elly L. Rustiati menambahkan, bahwa untuk mengenal gajah dengan melakukan penelitian dari perilaku gajah. “Salah satu kegiatan yang dilakukan penelitian mengenai prilaku gajah. Gajah itu ada juga ada yang jahil,” ungkapnya.

Beno dari WWF Indonesia mengatakan, bahwa Lampung dengan topografi yang beragam seperti di Bukit Barisan yang mendukung sebagai habitat gajah. “Di sini kami lebih memberikan pesan untuk pelestarian spesies gajah dan pelestarian habitat gajah. Di Bukit barisan saat ini sudah melakukan monitoring dan mencari solusi untuk nengurangi resiko konflik antara manusia dan gajah,” tuturnya.

Beno menambahkan bahwa masalah utama dari konflik antara gajah dan manusia kerena menurunnya luasan habitat gajah akibat alih fungsi lahan. “Perebutan lahan antara gajah dan warga untuk lahan perkebunan yang mengakibatkan konflik,” jelasnya.

Asrian Hadicahyana sebagai pengamat ekonomi menanggapi dari gajah tersebut sebagai sebuah ikon yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar, dengan menuangkan ide-ide kreatifitas tentang gajah.

“Kekuatan ekonomi saat ini adalah kekuatan ide. Dan menjadikan gajah ini menjadi inspirasi inovasi ekonomi. Gajah jadi media diplomasi bagi Lampung dengan kreatifitas kita bersama, sehingga menimbulkan citra positif di Lampung dan mengispirasi ekonomi kreatif,” tegas Asrian.

CA Regional Manager West Indonesia CCAI, Yayan Sopian yang memandu jalannya diskusi G Talk Seri – 2 mengatakan bahwa dalam menyelamatkan dan melestarikan gajah dan habitatnya perlu dukungan seluruh elemen masyarakat. Yayan mengajak “Mari kita bersama-sama selamatkan dan lestarikan Gajah..dalam pesan Save G.”

Diskusi singkat kali ini menginspirasi Rumah Konservasi Sahabat Gajah untuk mewujudkan Lampung sebagai surganya gajah sumatera, kedepan di Lampung tidak ada lagi gajah yang mati sia-sia. Harapannya hanya di Lampung gajahnya bisa kenyang, pengelolanya senang, masyarakatnya tenang dan ekonominya menang……kedepan rumah konservasi sahabat gajah dapat mendorong lokomotif bagi pertumbuhan ekonomi parawisata di Lampung….Sebelum menutup diskusi G Talk Inspiring seri – 2 nya Yayan mengutip salah satu lirik

lagunya Tulus tentang Gajah.

“Waktu kecil dulu

Mereka menertawakan

Mereka panggilku gajah

(Ku marah) ku marah

Kini baru ku tahu

Puji didalam olokan

Mereka ingatku marah

Jabat tanganku panggil aku gajah

Kau temanku kau doakan aku

Punya otak cerdas aku harus tangguh

Bila jatuh gajah lain membantu

Tubuhmu disituasi rela jadi tamengku,” tirunya.

Selain itu dalam acara tersebut juga dihadirkan pernak pernik kriya semua tentang gajah, mulai dari kaos, topi, mug (cangkir), lukisan gajah, dan kerajinan tangan yang terbuat dari logam, kayu dan tekstil dari SMKN 5 Bandarlampung serta hadir juga pameran foto dari WWF Indonesia semua tentang gajah. Dan juga digelar lomba menggambar tentang gajah oleh murid-murid binaan Coca cola Forest Lampung. (hkw)