Menanti Regulasi Pemerintah !

Solusi Kemacetan Akibat KA Babaranjang

TRANSLAMPUNG.COM, BANDARLAMPUNG-Keberadaan kereta api pengangkut batu bara atau babaranjang milik PT. Bukit Asam menjadi polemik kemacetan di Kota Tapis Berseri. Hingga muncul berbagai usulan untuk merelokasi jalur kereta babaranjang dari tengah kota.

  1. BA pun melempar polemik itu kepada PT.KAI terkait memberikan solusi terbaik mengatasi macet akibat kereta babaranjang. Menanggapi hal itu, Humas PT, KAI Divre IV Tanjung Karang, Framoto Wibowo mengaku siap mencari solusi polemik itu, tapi sayangnya PT.KAI dalam hal itu hanya sebatas sebagai operator.

“Regulatornya ada pada pemerintah, kalau pemerintah mengharuskan  KA BBR tidak melintasi kota bandarlampung atau relnya di relokasi pada prinsipnya kita siap. Tapi untuk diketahui jalan rel kereta api itu keberadaannya lebih dulu dari jalan raya yang terdapat perlintasan sebidang rel itu,” ujarnya.

Dia menjelaskan solusi terbaik menghindari kemacetan di pelintasan KA saat ini adalah membangun perlintasan tidak sebidang yaitu underpass atau fly over. Namun untuk pembuatannya menjadi kewenangan pemerintah sebagai regulator.

“Pemerintah pusat, provinsi ataupun daerah bisa berkoordinasi, atau salah satu dari mereka bersedia memberikan regulasinya. Artinya semua prasarana KA adalah kepunyaan pemerintah. Jangan salah, kita dalam menggunakan Rel KA itu bayar pajak (TAC) ke pemerintah,” terangnya.

Dia juga membantah bila PT KAI tidak memberikan kontribusi besar kepada Pemkot Bandarlampung. Pihaknya membayar pajak (keseluruhan) perbulannya Rp64 miliar. Selain itu sebagian batubara yang diangkut juga diperuntukkan PLTU (listrik) yang menerangi Jawa dan Sumatera.

Dia memaparkan intinya PT KAI sebagai operator mengemban amanah UU no 23 th 2007 tentang perkeretaapian. Untuk diketahui lahan PT KAI di Divre IV Tnk selebar 75 meter ke kanan dan ke kiri dari atas rel KA. Adapun total lahan seluruhnya 42 juta meter persegi

“Sebenarnya kalau masyarakat tidak menyerobot dan menempati lahan PT KAI itu, kami yakin masyarakat tidak akan terdampak kebisingan dan dampak negatif lain dari KA,” ucapnya.

Mengenai angkutan batubara Framoto mengungkapkan tahun ini (2017) program PT.KAI dapat mengangkut 19 juta ton dan semuanya atas permintaan BUMN dan lainnya yaitu PT. BA.

“Ke depannya kita akan modifikasi gerbong menjadi daya angkut per gerbong 75 Ton dari semula per gerbong daya angkutnya 50 Ton untuk meningkatkan kapasitas angkut. Keberadaan jumlah gerbong itu berbanding lurus dgn permintaan angkutan batubara,” katanya.

Dia menuturkan tiap tahunnya permintaan angkutan batubara tersebut naik. Sebab batu bara tidak hanya dari Muaraenim ke Tarahan (Bandarlampung) tetapi juga ke Kertapati Palembang dan lainnya.

“Kita juga tidak hanya melayani permintaan dari PT BA saja, tetapi dari perusahaan lainnya. Pastinya jumlah KA Babaranjang untuk th 2017 ini belum berubah masih 40 KA per hari dengan jumlah gerbong per satu KA adalah 60 gerbong,” pungkasnya.(tnn)

News Reporter