. . .

Mantan Petinggi Pertamina Dibui Kejagung

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, JAKARTA – Kejaksaan Agung mengisyaratkan bakal melakukan penahanan para tersangka dugaan korupsi penyalagunaan investasi pada Pertamina di Blik Basker Gummy (BMG) Australia tahun 2009 yang merugikan negara Rp 568 miliar dalam waktu dekat. Salah satunya termasuk mantan Direktur Utama PT Pertamina, Karen Galaia Agustiawan. Upaya Penahanan dilakukan setelah satu dari empat tersangka telah dijebloskan kebalik jeruji besi beberapa waktu lalu.

“Nanti bertahap lah itu (penahanan Karen). Kita ada kalanya nggak bisa sama sama ditahan. Ada kalanya bisa bersama- sama, sering kali juga tidak bersama-sama,” kata Jaksa Agung HM Prasetyo di Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (10/8).

Namun, kata Peasetyo, penyidik terus mengumpulkan bukti bukti yang kuat terhadap para tersangka lainnya yang kini belum silakukan penahanan. Jika nantinya bukti kuat sudah didapati penyidik, maka bukan hal yang tidak mungkin dilakukan upaya paksa penahanan.

“Yang pasti perkaranya jalan terus. Disini engga ada perkara mandek,” jelasnya.

Dia menegaskan dengan adanya satu tersangka yang telah ditahan oleh penyidik, menandakan tim penyidik semakin yakin dengan apa yang ditangani soal dugaan korupsi yang terjadi. Selain itu, Prasetyo juga menegaskan penyidik dalam melakukan penyidikan tidak ingin melakukan hal ceroboh yang dapat menimbulkan masalah dikemudian hari.

“Iya kemarin ada penanahan tersangka Bayu, ditahan. Kita tunggu tahap selanjutnya. Ini berarti kita semakin yakin, bahwa semua bukti diperlukan sudah di dapatkan dan dilakukan upaya paksa penahanan,” tegasnya.

Pada Rabu (8/8), mantan Manager Merger dan Investasi (MNA) pada Direktorat Hulu PT Pertamina (Persero) Bayu Kristanto dijebloskan ke balik jeruji besi oleh penyidik pidana khusus Kejaksaan Agung.

Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus), M Adi Toegarisman mengatakan penahanan dilakukan untuk memudahkan penyidikan, pasalnya dikhawatirkan akan melarikan diri, menghilangkan barang bukti serta mempengaruhi orang lain atau saksi.

“Saat proses itu, seharusnya ada hasil due diligence (uji tuntas) dulu. Tapi ini proses (investasi) terus berjalan kan, tanpa ada due diligence itu. Selain itu kan harus ada penelitiannya dulu, tapi ini kan malah dilanggar,” katanya.

Dia juga menegaskan tidak menutup kemungkinan untuk melakukan pemanggilan kepada mantan Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina Karen Agustiawan dalam waktu dekat terkait perkara ini, asalkan ditemukannya bukti kuat adanya dugaan keterlibatannya.

“Jadi kami akan berhati-hati dalam menangani kasus ini. Ini soal hukum, semua proses terus berjalan dan tim penyidik masih mencari alat bukti untuk ke arah sana,” tutupnya.

Jaksa Agung HM Prasetyo membeberkan dugaan keterlibatan mantan Direktur Utama PT Pertamina Karen Galaila Agustiawan dalam kasus ini.

”Jadi kasus ini ditangani sudah cukup lama dan kami sudah mendapatkan banyak barang bukti sebanyak mungkin tentunya penyidik menyimpulkan Karen terlibat pada kasus ini,” katanya

Dia menjelaskan salah hal yang dipersoalkan dan dipermasalahkan oleh tim penyidik yakni soal belum keluarnya hasil kajian evaluasi yang dilakukan tim Pertamina sebelum melakukan inestasi saham di BMG Australia, namun pembayarannya sudah dilunasi oleh Pertamina.

”Justru itu makanya itu persoalan ada di sana. Hasilnya belum keluar tapi sudah langsung dibayar, padahal sblm dibayar perusahaan itu nyaris tutup itulah persoalannya,” jelasnya.

Diketahui, kasus ini menetapkan empat orang tersangka yakni Mantan Direktur Utama PT Pertamina, Karen Galaia Agustiawan. Sedangkan tiga tersangka lainnya yakni Chief Legal Councel and Compliance, Genades Panjaitan dan mantan Direktur Keuangan, Frederik Siahaan serta mantan Manager Merger & Acquisition (M&A) Direktorat Hulu PT Pertamina berinisial Bayu.

Untuk mengungkap tuntas kasus ini sudah 68 orang diperikaa penyidik sebagai saksi termasuk jajaran petinggi PT Pertamina. Penyidik juga memeriksa Junior Legal Direktorat Hulj Pt Pertamina (persero), Tri Julianto sebagai saksi. Ia diperiksa mengenai pemilihan legal konsultan yang akan melakuka. Due diligence proyem BMG Australia.

Kasus itu berawal pada 2009 PT Pertamina (Persero) telah melakukan kegiatan akuisisi (Investasi Non Rutin) berupa pembelian sebagian asset (Interest Participating/ IP) milik ROC Oil Company Ltd di lapangan Basker Manta Gummy (BMG) Australia berdasarkan Agreement for Sale and Purchase-BMG Project tanggal 27 Mei 2009.

Dalam pelaksanaanya ditemui adanya dugaan penyimpangan dalam pengusulan Investasi yang tidak sesuai dengan Pedoman Investasi dalam pengambilan keputusan investasi tanpa adanya Feasibility Study (Kajian Kelayakan) berupa kajian secara lengkap (akhir) atau Final Due Dilligence dan tanpa adanya persetujuan dari Dewan Komisaris, yang mengakibatkan peruntukan dan penggunaan dana sejumlah 31,492,851 dolar AS serta biaya-biaya yang timbul lainnya (cash call) sejumlah 26,808,244 dolar AS tidak memberikan manfaat ataupun keuntungan kepada PT. Pertamina (Persero) dalam rangka penambahan cadangan dan produksi minyak Nasional yang mengakibatkan adanya Kerugian Keuangan Negara cq. PT. Pertamina (Persero) sebesar USD31,492,851 dan 26.808.244 dolar Australia atau setara dengan Rp568.066.000.000 sebagaimana perhitungan Akuntan Publik. (LAN/FIN).