. . .

Majelis Ta’lim Nurul Al-Hidayah Mauludan bareng Kyai Bustomi Al-Jawy : Jadilah Emak-Emak Ideologis yang Berjuang Agar Syariat Islam Tegak di Muka Bumi

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, BANDARLAMPUNG – Majelis Taklim Nurul Hidayah Bandar Lampung menggelar acara ” Majelis Ilmu Merayakan Maulid Nabi 1440 H ” dengan tema “ Meneladani Nabi Muhammad SAW ” dilaksanakan pada pukul 13.30 bertempat di – Masjid Nurul Hidayah, Bandar lampung, Senin (20/11/2018) bersama Kyai Bustomi Al-Jawy.

Lafadz Basmalah dari seorang ustadzah selaku pembawa acara menjadi pertanda acara majelis ilmu telah dimulai.

Lantunan indah ayat-ayat Al Qur’an yang dibacakan Qori’ah membuat suasana majelis yang dihadiri puluhan orang ini semakin khidmat.

Kyai Bustomi mengatakan bahwa kita menyelenggarakan majelis ilmu pada waktu Maulud ini agar kita semakin mencintai Kanjeng Nabi.

“Tapi jangan seperti Abu Thalib, sangat mencintai nabi tapi tidak mencintai syariat yang dibawa Rasulullah” kata beliau.

Keberhasilan dakwah Rasulullah itu tampak pada masa Madinah, yaitu saat syariat Islam tegak menggantikan peraturan hidup buatan manusia.

“Siti Khadijah itu menangis bukan karena kehilangan harta, tapi menangis karena dakwah belum berhasil tapi harta telah habis, MasyaAllah ” terang beliau.

Hakikat maulud nabi itu adalah peralihan dari penghambaan terhadap selain Allah menjadi penghambaan terhadap Allah, peralihan dari hukum jahilliah menjadi penerapan syariat Islam.

” Lihat jaman sekarang, perzinahan terang-terangan, judi merajalela, dan yang pasti hukum yang diterapkan adalah hukum buatan manusia, berarti jaman sekarang itu kembali ke jaman jahilliah ” tutur beliau.

Kaum ibu termasuk pilar penting dalam keberhasilan dakwah yaitu melanjutkan kehidupan Islam.

” Oleh karena itu ibu-ibu, contohlah Siti Khadijah, jadilah emak-emak ideologis yang mendorong suami dan anak-anak menjadi pejuang agar syariat Islam tegak di muka bumi” tegas beliau.

Terakhir Kyai Bustomi mengingatkan kepada majelis bahwa jangan mencintai Rasulullah dengan cinta yang palsu, tidak cinta pada syariatnya dan jadilah ibu-ibu yang taat pada Allah.

Doa kafaratul majelis serta salam dari pembawa acara menandakan acara telah berakhir. (rls)