Maestro Tari Kreyo, Dulu Nari Bareng Presiden, Sekarang Nyambi Mijat

0
59
views
CARI PENERUS: Maestro Tari Kreyo Mimi Tumus. (Sanggar Lingkungan Hidup Cirebon for jpg)

TRANSLAMPUNG.COM, CIREBON- Rendahnya komitmen membuat murid-murid Mimi Tumus yang tak banyak jumlahnya itu hingga kini belum mahir. Beban hidup memaksanya tak bisa hanya berkonsentrasi pada menari.

FOLLY AKBAR, Cirebon

SUARA perempuan sepuh itu seolah mengamuflasekan kondisi fisiknya. Juga usianya yang telah memasuki kepala delapan. Dia mungil, wajah dan kulit penuh keriput. Dan, gigi-giginya pun mulai tanggal.

Tapi, begitu berbicara, sangat lantang. ”Kalau tenaga, saya masih kuat,” katanya kepada Jawa Pos yang menemuinya di kediamannya di Desa Kreyo, Kabupaten Cirebon, Kamis pekan lalu (1/6).

Dengan tenaga yang masih terjaga itulah, Mimi Tumus, perempuan sepuh tersebut, masih sanggup menghidupi diri sendiri dan suami yang telah pikun. Dengan bekerja apa saja, termasuk menjadi tukang pijat.

Dengan tenaga yang masih terjaga tersebut pula, Mimi Tumus, di usia yang sudah sesepuh itu, menjadi benteng terakhir tari topeng kreyo. Sampai kini belum ditemukan pengganti sepadan untuk menampilkan tarian yang variannya juga dikenal di Subang, Indramayu, Jatibarang, Majalengka, dan Brebes itu.

”Kalau Mimi Tumus sudah tidak ada dan belum juga ditemukan penggantinya, ya punah tari topeng kreyo,” ujar Ketua Sanggar Lingkungan Hidup Cirebon Cecep Supriatna.

Tari tersebut memang pernah dianggap punah. Sepanjang 2000-an, tak ada yang memanggungkan atau kelompok tari yang ”menjajakannya” dari kampung ke kampung.

Secara umum, ada tiga jenis pergelaran tari topeng Cirebon: individual, komunal, dan bebarangan. Individual maksudnya perhelatan untuk pernikahan atau khitanan. Komunal dihelat untuk untuk kepentingan bersama masyarakat, misalnya, ngarot kasinoman (acara kepemudaan) dan ngunjungan (ziarah kubur). Sedangkan bebarangan pergelaran keliling kampung.

Sampai ketika sekitar tiga tahun lalu Cecep tengah dipijat seorang perempuan sepuh di kantornya yang juga berada di Kreyo. Tiba-tiba ada seorang warga sekitar kantor yang kebetulan mampir dan membisiki dia bahwa yang memijatnya adalah sang maestro tari kreyo, Mimi Tumus.

Merasa ragu, Cecep pun berupaya memverifikasinya. Apalagi, si pemijat tak mau mengaku.

Cecep mengambil inisiatif untuk mengunjungi rumah perempuan itu yang terletak sekitar 50 meter dari kantor. Benar saja, ditemui beberapa piagam penghargaan, baik lokal maupun nasional, yang memupus keraguannya.

Merasa penemuannya sangat penting, Cecep bersama teman-teman sanggarnya pun merayu Mimi untuk kembali menari. ”Butuh bertahun-tahun agar Mimi mau menari lagi. Baru tahun lalu dia mau,” imbuhnya.

Wajar kalau Mimi tak langsung mengiyakan permintaan menari. Sebab, dia sudah meninggalkannya pada awal 2000-an.

Sepinya orderan menari yang jadi penyebab. Padahal, suaminya sudah pikun dan tak bisa bekerja. Tak punya anak, otomatis dialah yang harus mencari uang dengan melakoni pekerjaan apa pun yang dia mampu, termasuk memijat.