. . .

LPS Diminta Lebih Aktif Jaga Stabilitas Sistem Perbankan

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, LAMPUNG  – Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Junaidi Auly berharap Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya. Selain itu LPS diharapkan menjaga kepercayaan masyarakat terkait jaminan simpanan pada sektor perbankan.

“Kepercayaan masyarakat merupakan hal yang penting, karena hal ini berkaitan dengan upya memelihara stabilitas perbankan” ungkap Junaidi dalam agenda sosialisasi tugas dan edukasi LPS dalam menjaga stabilitas sistem perbankan di Kalirejo, Lampung Tengah. (8/8/2018)

Lebih jauh Junaidi menjelaskan bahwa “Kepercayaan ini bisa diperoleh dengan adanya kepastian hukum dalam pengaturan dan pengawasan bank serta penjaminan simpanan nasabah bank untuk meningkatkan kelangsungan usaha bank secara sehat”.

Sebagaimana data yang dilansir LPS, kondisi candangan penjaminan LPS terus tubuh dimana cadangan penjaminan LPS meningkat 19,83% dan mencapai Rp66,78 triliun atau setara dengan 1,25% dari total simpanan bank. Pada sisi ini anggota legislatif yang biasa disapa Bang Jun ini menekankan bahwa “Pentingnya LPS untuk meningkatkan cadangan penjaminan dimana hal ini berkaitan dengan kondisi ekonomi yang begitu dinamis termasuk menguatnya risiko-risiko Bank Gagal yang berdampak sistemik dimasa yang akan datang”

Seperti diketahui, terdapat pertumbuhan yang cukup signifikan terhadap total simpanan dan jumlah rekening. Pada tahun Juni 2015 terdapat 163.120.385 rekening dengan total simpanan 4.411.687 miliar, bandingkan Juni 2018 naik menjadi 260.561.206 rekening dengan total simpanan 5.471.010.

“Per Juni 2018, terdapat simpanan yang tidak dijamin LPS yaitu sekitar 47.22% atau sebesar 2,583,615 milyar yang tentunya secara jumlah cukup besar. Jumlah tersebut juga memperlihatkan risiko-risiko terhadap stabilitas sistem perbankan itu memang adanya” ujar Anggota DPR Dapil Lampung II ini.

Selama tahun 2017, LPS telah melikuidasi 9 BPR dengan total aset mencapai Rp13,42 miliar dan menyelesaikan proses likuidasi 5 BPR dengan rata-rata recovery sebesar 40,13%.

“Sepanjang tahun 2017, penyebab utama Bank Gagal adalah fraud dengan modus diantaranya penggelapan dana nasabah, kredit fiktif, dan kredit topengan. Pada sisi in LPS dapat berkerjasama dengan OJK, Bank Indonesia dan kepolisian terkait fraud khususnya untuk menyusun kebijakan-kebijakan yang saling mendukung satu sama lain” tutup Bang Jun yang juga Alumni Pascasarjana Universitas Lampung ini. (rls)