Lembah Hijau Tuan Rumah SRAK Gajah

0
625
views

TRANSLAMPUNG.COM– Taman Wisata & Satwa Lembah Hijau dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan evaluasi serta diskusi Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Gajah Sumatera dan Kalimantan 2007–2017. Acara tersebut berlangsung dua hari (16–17/2) di aula ruang Anggrek Lembah Hijau.

Kegiatan dimotori Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu, Forum Konservasi Gajah Indonesia, WCS, Forum Mahout Indonesia, dan Lembah Hijau. Kegiatan ini dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Lampung Choiria Pandarita,  Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas Subakir, dan perwakilan Polda Lampung.

“Harapannya nanti hasil dari evaluasi dan diskusi Strategi dan Rencana Aksi Konservasi gajah bisa mendapatkan usulan untuk rekomendasi Konservasi gajah di Lampung. Serta upaya memaksimalkan populasinya,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Lampung Choiria Pandarita, kemarin (16/2).

Tentunya dalam hal ini pemerintah memberikan support dalam upaya peningkatan konservasi habitat dan penyelesaian konflik gajah Lampung. Setelah 10 tahun, sudah saatnya evaluasi dan menjadikan gajah Lampung rumusan prioritas nasional.

Dukungan Lembah Hijau sebagai tempat konservasi gajah sudah memenuhi standar dan diharapkan secepatnya dapat berkembang biak.

“Selain menjadi taman rekreasi, Lembah Hijau berhasil menjadi tempat konservasi gajah yang dapat mengedukasi masyarakat tentang satwa,” jelasnya seperti dilansir dari radarlampung.co.id (grup translampung.com).

Ketua Balai Taman Nasional Waykambas Subakir mengatakan, adanya pembahasan SRAK dapat memberikan kontribusi pemikiran pengelolaan dan konservasi gajah Sumatera di Lampung.

Populasi gajah di Taman Nasional Waykambas ada 68 ekor gajah jinak dan 400 ekor gajah belum jinak. “Konflik gajah dengan manusia tercatat pada 2016, ada 440 kasus melebihi jumlah hari selama satu tahun,” beber Subakir.

Upaya saat ini, baru dengan pencegahan dini seperti patroli. Maka, harapan dengan hasil SRAK dapat memberikan masukan dalam penanganan konflik dan peningkatan Konservasi Gajah.

Komisaris Utama Lembah Hijau Irwan Nasution mendukung adanya pembahasan evaluasi dan diskusi SRAK Gajah Sumatera dan Kalimantan.

“Dalam pertemuan ini membahas permasalahan yang sangat krusial dalam upaya konservasi gajah di Indonesia. Yakni tingginya konflik gajah dan manusia yang umumnya diakibatkan oleh berkurangnya habitat gajah di alam yang merupakan dampak dari pembangunan yang tidak mengedepankan aspek konservasi dalam pelaksanaannya,” paparnya.

2017 adalah tahun terakhir SRAK Gajah Sumatera dan Kalimantan 2007-2017. “SRAK Gajah ialah dokumen resmi negara mengenai upaya konservasi dua sub spesies gajah di Indonesia,” timpal Sekretaris Forum Konservasi Gajah Indonesia Doni Gunaryadi.

Pemulihan populasi gajah Sumatera memerlukan upaya terintergrasi dan perubahan dasar yang melibatkan berbagai pihak. Namun, sejak peningkatan status keterancaman, belum terlihat adanya upaya perbaikan pengelolaan spesies gajah secara terukur. (ynk/c1/wan)