LBH Dan Masyarakat Korban PT BNIL Gelar Do’a Bersama

0
404
views

TRANSLAMPUNG.COM, MENGGALA-Sejumlah perwakilan masyarakat Kampung Bujuk Agung, Kecamatan Banjar Margo, Tulang Bawang (Tuba), menggelar do’a bersama lintas agama jelang sidang putusan kasus pendudukan lahan PT Bangun Nusa Indah Lampung (PT BNIL), dipusatkan di Kantor Pengadilan Negeri Menggala, Kabupaten Tulang bawang, Senin (13/2). Do’a lintas agama yang diikuti puluhan masyarakat bujuk agung dan juga dihadiri Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandarlampung Alian Stiadi, beserta rombongan berjalan dengan hikmad.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung, Alian Stiadi, mengatakan, bahwa doa lintas agama tersebut diikuti dari berbagai tokoh agama yang ada di Tuba, diantaranya adalah tokoh agama islam, kristen serta agama hindu, kegiatan tersebut dalam rangka untuk mendoakan masyarakat yang dikriminalisasi dan pada saat ini sedang ditahan.

“Kita minta dukungan dan berharap besar, dengan doa ini pintu hati nurani Hakim dan Jaksa terbuka dan bisa mendudukan persoalan ini pada tempatnya sebagaimana mestinya, karena kita melihat saat ini selalu menjadi korbannya pelanggaran-pelanggaran dan kejahatan lingkungan serta kemanusiaan yang dilakukan oleh perusahaan itu tidak tersentuh sekalipun. Saya juga berharap melalui momentum do’a bersama ini, dapat memberikan peradilan ketika manusia tidak bisa lagi memberikan keadilan kepada manusia lain seperti yang terjadi dikampung bujuk agung, dalam hal ini sengketa lahan antara masyarakat melawan PT BNIL, mudah-mudahan Tuhan dapat memberikan keadilannya kepada masyarakat yang ditahan,” ujar Alian Stiadi, Senin (13/2).

Alian Stiadi juga mengatakan, dengan dilakukannya doa lintas agama ini, hakim dan jaksa dapat memberikan keadilan yang seadil- adilnya bagi masyarakat Bujuk Agung, Kecamatan Banjar Margo Tuba.

“Kami yakin hakim dan jaksa pasti punya hati nurani yang bersih dan bijaksana dalam memutus suatu perkara di pengadilan apalagi ini menyangkut hajat masyarakat banyak. Kami berdoa semoga tuntutannya dapat ringan atau mungkin bisa bebas, dengan keterbukaan hati nurani para Hakim dan Jaksa sebagaimana mestinya, kami tidak minta muluk-muluk, hanya itu yang kami minta,” imbuhnya.(als)