. . .

KPK Tangkap Perantara Suap Hakim PN Medan

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, JAKARTA – Tim Satgas Penindakan dibantu aparat kepolisian berhasil mengamankan Hadi Setiawan, salah seorang tersangka dalam kasus dugaan suap hakim PN Tipikor Medan. Juru bicara KPK Febri Diansyah membeberkan kronologi penyerahkan diri yang dilakukan Hadi Setiawan.

Mantan aktivis ICW ini menjelaskan, Hadi menyerahkan diri di Kota Sidoarjo. Padahal, sebut Febri saat OTT yang dilakukan di Medan pada (28/8) Hadi diduga tengah berada di Bali. “Setelah HS ditetapkan sebagai Tersangka, penyidik KPK melakukan koordinasi dengan Polri untuk membantu menemukan HS,” ujarnya.

Tak hanya itu, mantan aktivis ICW ini juga mengatakan pihaknya meminta Dirjen Imigrasi Kemenkumham melakukan pencegahan ke luar negeri untuk 6 bulan ke depan demi bisa menemui Hadi.

Kemudian, pada Jumat (31/8), tim KPK mendapat informasi bahwa Hadi yang merupakan orang kepercayaan Tamin akan menyerahkan diri pada Selasa (4/9). Benar saja, kata Pria lulusan UGM ini, pagi hari Hadi diantar istri dan beberapa anggota keluarganya menyerahkan diri.

“Akan menyerahkan diri, di lobby hotel sun city Sidoarjo pada hari selasa (4/9). HS diantar oleh Istri dan beberapa anggota keluarganya berada di lobby hotel,” tuturnya.

Dia juga menjelaskan secara resmi timnya sudah melakukan penangkapan dan sebagai pemenuhan hak tersangka dengan memberikan turunan surat perintah penangkapan pada istri HS.

“HS dibawa penyidik langsung ke bandara Juanda dan diterbangkan ke Jakarta. Sore ini sekitar pukul 15.30 WIB HS sudah tiba di kantor KPK untuk dilakukan pemeriksaan dan proses lanjutan lainnya,” tutupnya.

Sebagai informasi, dalam kasus suap ini, KPK telah menetapkan empat orang dari delapan orang yang diamankan di Medan, Sumatera Utara.

Keempat orang tersebut adalah Panitera Pengganti pada Pengadilan Negeri Medan Helpandi dan Hakim Adhoc Tipikor pada PN Medan Merry Purba. Sementara sebagai pihak pemberi adalah swasta yang tengah berkasus di PN Tipikor Medan Tamin Sukardi dan orang kepercayaan Tamin yaitu Hadi Setiawan.

Pemberian suap kepada Hakim Adhoc PN Medan Merry Purba diduga terkait dengan putusan perkara tindak pidana korupsi nomor perkara 33/pid.sus/TPK/2018/PN.Mdn dengan terdakwa Tamin Sukardi yang ditangani Pengadilan Tipikor pada PN Medan.

Dalam kasus ini diduga total pemberian yang sudah terealisasikan dalam kasus suap ini mencapai SGD280 ribu yang ditemukan di tangan Helpandi sebesar SGD130 ribu dan SGD150 ribu sudah diterima oleh Hakim Merry Purba.

Merry dan Helpandi diduga sebagai penerima dijerat dengan Pasal 12 huruf c atau Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sedangkan, Tamin dan Hadi diduga sebagai pemberi dijerat dengan Pasal 6 ayat 1 huruf a atau Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 13 Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. (ipp/JPC/jpg)