. . .

Kopi Nikmat, Enak, dan Sehat

image_print

Oleh: Wirahadikusumah

Sesuai janji. Saya melanjutkan tulisan tentang Mas Ismail Komar. Pria 45 tahun yang disembuhkan Allah SWT dari sakit liver, diabetes, jantung, dan paru-paru lewat perantara kopi.

Sesuai permintaan juga, dalam tulisan ini akan ada pembahasan kopi yang diminum Mas Komar. Mulai dari jenisnya hingga cara menyeduhnya.

Tulisan tentang Mas Komar ini memang harus saya lanjutkan. Sebab, banyak yang menyangka saya mendapatkan kompensasi dari tulisan pertama. Bahkan ada yang menuding saya punya saham di Warkop Waw, dan tulisan itu sebagai trik marketing.

Padahal, sepeser pun saya tidak ada saham di Warkop Waw. Saya juga bukan karyawan kedai kopi tersebut.

Karenanya, saya berani sumpah, tidak mendapatkan kompensasi apapun dari tulisan kemarin dari Mas Komar.

Bahkan, saya siap jika ada yang meminta harus bermubahalah seperti yang dilakukan Buni Yani, narapidana kasus ujaran kebencian yang dituduh mengedit isi video mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Alias Ahok. Alias BTP.

Saya ngopi di Warkop Waw juga masih tetap bayar. Meskipun Mas Komar awalnya tidak mau menerima uang saya. Tetapi dia paham alasan mengapa saya tidak mau gratisan.

Ya, saya dan Mas Komar memang sama-sama berlatar belakang jurnalis. Meskipun tidak tahu, apakah saat ini saya masih bisa disebut wartawan.

Tapi, pastinya dia tahu betul bagaimana jurnalis harus menjaga karyanya. Tidak boleh dirusak, walaupun dengan secangkir kopi!!!

Sebenarnya saya juga bisa lebih awal mem-posting tulisan ini. Sebab, pada Rabu (6/2), saya berkunjung kembali ke Warkop Waw. Tujuannya untuk mendapatkan bahan tulisan ini.

Namun, pada hari itu saya tidak bisa mengobrol banyak dengan Mas Komar, karena banyak tamu yang datang untuk berkonsultasi dengannya tentang kopi.

Terlihat dari tamu-tamu yang datang itu ada Pak Ardiansyah, bos saya ketika masih bekerja di SKH Radar Lampung. Saya juga melihat ada dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung DR. Eddy Rifai.

Karena kesibukan Mas Komar itulah, akhirnya saya memilih mengobrol dengan Ketua Koperasi Fine Robusta Bang Fahuri Wherlian Ali KM. Dia datang juga ke Warkop Waw hari itu untuk mengantarkan dua karung biji kopi asal Hanakau, Lampung Barat, pesanan Mas Komar.

Ya, selain hunting langsung ke petani, Mas Komar juga membeli kopi di Koperasi Fine Robusta yang diketuai Bang Wherly (sapaan akrab Fahuri Wherlian, Red).

Pada hari itu, saya juga bertemu Kepala Cabang Tunas Daihatsu Lampung Dani Kurniawan serta Ketua BPK OI (Orang Indonesia) Bandarlampung Muhammad Novrizal.

Ketiga orang itu merupakan alumni Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Sama seperti saya. Kami juga sama-sama tergabung di organisasi profesi bernama Badan Pengurus Wilayah (BPW) Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Lampung.

Ternyata mereka memang sudah berjanjian untuk bertemu di Warkop Waw untuk membahas rencana menggelar pameran dan perlombaan kopi bertajuk Lacofest jilid II yang akan diadakan beberapa bulan ke depan. Beberapa tahun yang lalu, Lacofest memang sukses digelar di Lampung.

Akhirnya di hari itu, saya kembali mengatur janji dengan Mas Komar. Dan dia menyarankan untuk datang pada Kamis (7/2), pukul 08.00 WIB.

Lalu, kenapa baru sekarang saya posting tulisan ini. Kenapa tidak Kamis malam atau Jumat pagi?

Kamis malam ada rutinitas yang tidak bisa saya tinggalkan. Jumat pagi saya mempersiapkan kendaraan untuk berangkat menuju Kota Bekasi lantaran menghadiri undangan keluarga. Sorenya? Saya menyopir mobil dari Bandarlampung menuju Bekasi.

Akhirnya, kemarin malam, saya menulis hasil obrolan dengan Mas Komar. Di KMP Kirana II. Di tengah Selat Sunda. Finishing tulisan dlakukan di kediaman sepupu saya di kawasan perumahan Summarecon Bekasi.

Di atas kapal laut, tulisan ini juga sebenarnya sudah bisa diposting, namun saya tidak sempat mengkoreksi ulang dan membaca lagi tulisan ini secara detil.

Sementara, sebelum mem-posting tulisan, saya terbiasa membacanya terlebih dahulu. Kebiasaan ini saya lakukan karena “terdoktrin” Pak Dahlan Iskan (DIS).

Ya, pada Desember 2014, saat saya mengikuti pelatihan jurnalistik selama sepuluh hari bersama Pak DIS, mantan Meneg BUMN itu mendoktrin peserta pelatihan agar membaca terlebih dahulu tulisan yang akan kita diterbitkan.

“Saat membaca tulisan sendiri, posisikan diri Anda menjadi orang yang paling bodoh,” pesan Pak DIS kala itu.

Menurutnya, jika orang paling bodoh saja sudah bisa paham dengan tulisan kita, maka sudah layak diterbitkan.

Nah, kembali ke Mas Komar, sesuai janji pada Kamis pagi saya kembali berkunjung ke Warkop Waw. Hari itu saya dimintanya meracik kopi sendiri dengan dipandu olehnya.

“Biar menulisnya enak, coba sampean saja yang menyeduhnya,” kata Mas Komar.

Pertama saya diminta mengambil biji kopi asal Hanakau seberat 10 gram. Lalu diletakkan di gelas ukur berbahan plastik tembus pandang.

Gelas berisi biji kopi itu kemudian ditaruh di atas timbangan digital. Tujuannya agar bobotnya tepat 10 gram. Selanjutnya, biji kopi itu dimasukkan ke dalam mesin penggiling.

Setelah menjadi bubuk, kopi dituangkan di cangkir. Kemudian saya dimintanya memanaskan air di teko listrik. Suhunya sampai 90 derajat. Suhu diketahui dari termometer yang dicelupkan ke dalam teko tersebut. Selanjutnya, air panas tadi dituangkan ke cangkir.

“Isi airnya hanya 150 mililiter saja untuk 10 gram kopi. Itu takaran secangkir kopi. Dan ingat ya, tanpa gula!” kata Mas Komar.

Dia mengatakan, jika kopinya sudah menjadi bubuk, maka takarannya satu setengah sendok makan. Airnya juga sebanyak 150 mililiter untuk secangkir kopi.

“Nah, itulah takaran kopi yang saya minum saat sakit hingga sekarang,” ujarnya.

Mas Komar mengaku, kopi dengan takaran tersebut diminumnya tiga kali sehari. Pukul 08.00-09.00, lalu 12.00-13.00, kemudian 16.00-17.00.

“Baiknya kita minum kopi setelah makan,” katanya.

Sebab, terus dia, fungsi kopi adalah memperbaiki lingkungan tubuh. Dari asam menjadi basa. Sementara, setelah makan, lingkungan tubuh kita biasanya menjadi asam.

Dia memaparkan, di lingkungan tubuh yang basa, penyakit-penyakit, virus-virus, bakteri-bakteri, di tubuh kita tidak bisa berkembang. Karena lingkungannya tidak mendukung.

Mas Komar menganalogikannya dengan rumah bordil. Menurutnya, seorang yang taat beragama, pasti tidak nyaman jika berada di lingkungan rumah bordil. Begitu pun dengan penyakit. Kalau bukan lingkungannya, tidak akan berkembang.

Karena itu, yang menurutnya patut diingat, kopi yang diminumnya bukan sebagai obat untuk penyakitnya. Tetapi berfungsi mem-basa-kan lingkungan tubuhnya.

Terkait jenis kopi, Mas Komar menyatakan sebenarnya semuanya memiliki manfaat baik untuk tubuh. Hanya memang, dia lebih memilih jenis robusta. Asalnya juga dari tiga tempat. Yakni, Hanakau, Waytenong, dan Sekincau. Tiga lokasi itu semuanya berada di Lampung Barat.

Kualitas kopi juga, kata dia, di antaranya bergantung dari pemanenannya, pascapanennya, penyangraiannya atau roastingnya, kemudian menyajikannya.

Panen yang baik menurutnya adalah biji kopi dipetik saat sudah merah. Karenanya, ia menyesalkan jika ada petani yang memetik biji kopi sebelum merah. Ditambah lagi penjemurannya yang tidak memakai alas.

“Itulah yang merusak khasiat kopi. Makanya, petani harus diedukasi mengenai hal ini,” ucapnya.

Selanjutnya penyangraiannya atau roastingnya. Dia mengatakan, roasting biji kopi yang dilakukannya tidak sampai hitam.

Menurutnya, roasting biji kopi dimulai dari light, medium, kemudian dark. “Nah, kalau saya roastingnya dari light-medium. Tidak sampai dark. Karena saya ingin mendapatkan khasiat kopi,” tegasnya.

Lalu mengapa tidak memakai gula? Menurutnya, penambahan gula pada kopi akan menambah kadar kafein. Bahkan bisa sampai tiga kali lipat peningkatan kadarnya.

“Itulah yang menyebabkan kepala kita sering migrain dan atau asam lambung kumat,” ungkapnya.

Dia mengatakan, untuk mendapatkan kopi nikmat, memang biasanya di-roasting hingga dark. Kemudian di tambah gula. Namun, menurutnya hal tersebut tidak mendapatkan sehatnya.

“Kalau saya, lebih baik kopi itu enak dan sehat. Karena kalau nikmat, biasanya ditambah gula,” terangnya.

Jadi intinya, kopi bisa kita racik menjadi nikmat, enak dan sehat. Hal itu sesuai perkataan orang bijak. Bahwa, kopi tidak pernah dusta atas nama rasa.(whk)

 

error: Content is protected !!