Komnas Anak: Sorong Waspada Penanaman Paham Kebencian, Intoleransi, Kekerasan dan Persekusi Darurat Kejahatan Terhadap Anak

0
550
views

 

JAKARTA – Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengatakan,    Penanaman paham radikalisme, intoleransi, kebencian, kekerasan dan persekusi dikalangan anak Indonesia baik dalam ruang kelas, dan ruang publik di kabupaten dan kota Sorong Papua Barat sangat perlu diwaspadai. Ini membutuhkan pembekalan khusus. demikian pesan moral yang disampaikan Arist Merdeka Sirait selaku Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak dihadapan 300 siswa dan siswi di kota Sorong, media, guru, penatua maupun guru-guru Sekolah Minggu pada acara temu bicara dari rangkaian Hari Anak Nasional (HAN) 2017 yang diselenggarakan Komisi Anak dari Orogram kerja GKI Maranatha Klasis Sorong..

Selain itu, Kota Sorong dalam kurun waktu satu tahun terakhir ini fakta dan petistiwa telah menunjukkan bahwa kabupaten dan kota Sorong  berada pada situasi Darurat Kejahatan terhadap Anak. Kasus kejahatan seksual bergerombol yang dilakukan terhadap bocah K (3,5) dan kasus-kasus kejahatan seksual lainnya yang terjadi sebelumnya di kota Sorong baru-baru ini membuat hati sesak dan marah.

Kasus tindak pidana aborsi yang dilakukan salah seorang bidan terkenal di Kota Sorong dengan melibatkan  puluhan anak-anak remaja  sebagai korban, demikian juga dengan kasus dimana Polresta Sorong sedang mengamankan seorang anak yang baru lepas  dan beranjak dewasa yang ditangkap dari rumahnya karena diduga menyebarkan paham radikalisme kelompok tertentu diluar wilayah hukum Indonesia,  kebencian dan teror  di kota Sorong membuktikan bahwa di Kota Sorong sedang terjadi kejahatan yang mengorbankan  anak dan penebaran paham-paham radikalisme, intoleransi dan kebencian harus dilawan, ditangkal dan diwaspadai..Sebab Perbedaan yang ada di dunia ini  adalah ciptaan dan karunia Tuhan..Oleh karena haruslah dihargai, dihormati dan tidak perlu dipermasalakan. Demikian ditambahkan Arist Merdeka Sirait Putra tanah Batak peduli Anak Papua.

“Nah untuk membekali anak mampu menangkal paham radikalisme, kebencian, intoletansi,  bullying dan ancaman kekerasan dikalangan anak, Arist pria berjenggot membekali anak  dengan pengetahuan 10 hak anak yang harus dimiliki anak-anak di Papua serta pengetahuan cara cerdas  menggunakan media social,” ujarnya.

Dalam temu bicara yang juga menghadirkan para orangtua dan guru-guru sekolah, mendesak para orangtua untuk mengakhiri menkonsumsi minuman keras dan menghilangkan prilaku kekerasan, menunjukkan keteladanan sebagai orangtua yang patut ditiru, menempatkan anak sebagai sahabat dan kawan, mengakhiri semboyan diujung rotan ada emas,  menyempurnajan Pendidikan keagamaan dalam keluarga serta menciptakan rumah dan sekolah ramah anak.

Diakhir sessi dan kesimpulan yang dibacajan Pdt. Edo sebagai modetator Temu Bicara Anak Papua di gereja GKI Klasis Sorong. Aris Merdeka Sirait: menyampaikan catatan rekomendasi bahwa  dalam waktu dekat akan mendorong Pemerintah atas dukungan Dewan Adat, tokoh agama dan anggota dewan agar pemerintah mencanangkan gerakan perlindungan anak  Sekampung di Kota dan Kabupaten Sorong  sebagai partisipasi masyarakat dan untuk melibatkan anak menangkal kejahatan dan pelanggaran hak anak di Papua dalam waktu dekat  bersamaan dengan Hari Anak Nasional dan HUT Kemerdekaan Indonesia akan menyelenggataksn Forum Anak dalam bentuk Kongres Anak Papua yang melibatkan anak dari berbagai kota dan kabupaten di Papua dan Papua Barat..dan yang terakhir GKI Klasis Sorong pada bulan Oktober 2017 akan menggagas sebagai pemrakarsa Seminar Nasional Menangkal Paham Radikalisme intoletansi, kebencian, dan Persekusi terhadap Anak Indonesia, demikian disampaikan Pdt. Edo sebagai modetator  dan salah seorang panitia temu bicara anak Papua. “Biar kulitku hitam, rambut keriting, aku Papua”, demikian Arist dalam  closing statementnya. (rls/nys)