Kolektor Rilisan Fisik Koes Plus

0
60
views
MENAKJUBKAN: Iwan Suwanto saat menunjukan koleksi rilisan fisik Koes Plus. (Bhagas Dani Purwoko/Radar Bojonegoro)

Iwan Suwanto

Mencintai musik dan lagu yang dialunkan oleh Koes Plus sejak lulus SMA. Namun, keinginan mengoleksinya ketika bertemu banyak kawan yang juga mencintai Koes Plus.

BHAGAS DANI PURWOKO, Bojonegoro.

TRANSLAMPUNG.C0M – TAMPAK dari luar rumah sebuah ukiran-ukiran kayu yang khas. Temboknya pun di luar berupa bata merah yang menekankan kesan natural. Rumah tersebut berada di wilayah Kelurahan Mojokampung, Bojonegoro.

Jawa Pos Radar Bojonegoro (Translampung Group) mengunjunginya, sebab pemilik rumah tersebut merupakan seorang kolektor rilisan fisik band legendaris Indonesia, Koes Plus.

Saat masih di luar rumahnya, dari sela-sela pagar rumahnya terlihat dia sedang sibuk dengan hewan peliharaannya, yakni burung kicau.

Pemilik rumah tersebut merupakan pria berambut lurus dan mengenakan kacamata. Namanya Iwan Suwanto. Dia bercerita banyak hal seputar pengalamannya berburu rilisan fisik Koes Plus.

Proses perburuannya termasuk terlambat, sekitar tahun 2009 baru mulai berburu rilisan fisik tersebut. Pria asli Kelurahan Kadipaten Bojonegoro itu memulai berburu rilisan fisik Koes Plus karena bergabung dengan komunitas yang juga suka Koes Plus dan membentuk band bernama No Plus bersama tiga kawannya sejak 2008.

”Jatuh cinta dengan Koes Plus sejak lulus SMA. Jadi, sebenarnya saya bukan zamannya mendengarkan Koes Plus, tapi entah kenapa sreg banget dengan Koes Plus,” tutur pria kelahiran 1971 itu.

Sebenarnya, apabila ditilik dari usianya, Iwan merupakan zamannya musik-musik semacam God Bless. Namun, karena lirik dan komposisi musik Koes Plus sangat apik, niscaya dia pasti menyukainya.

Menurut dia, isi dari lirik Koes Plus sangat membangun, walaupun tentu ada lagu yang mengusung kritikan. Tetapi, secara garis besar, lirik yang dibuat begitu mudah dipahami dan selalu mendorong untuk tetap optimis.

”Selain komposisi musik Koes Plus yang jelas bagus, lirik yang mereka buat begitu penuh makna dan tidak kampungan, berkelas, apalagi seluruh almbumnya mereka mengusung beranekan aliran musik,” jelasnya.

Rilisan fisik yang dia koleksi tidak hanya Koes Plus. Tetapi, berawal dari mengoleksi rilisan fisik Koes Bersaudara yang 19 album, baru setelahnya mengoleksi 79 album Koes Plus.

Adapun lebih dari 10 album rilisan fisik No Koes. Iwan menjelaskan bahwa setelah Koes Bersaudara bubar, mereka pecah menjadi dua yaitu Koes Plus dan No Koes.

Koes Plus itu sendiri beranggotakan Yok Koeswoyo, Yon Koeswoyo, Tony Koeswoyo, dan personel-personel lainnya. Mereka pun kerap berganti personel.

Sedangkan No Koes merupakan kependekan dari Nomo Koeswoyo, yang juga merupakan penggebuk drum saat di Koes Bersaudara. ”Singkatnya memang Koes Bersaudara pecah menjadi Koes Plus dan No Koes,” tuturnya.

Sedangkan koleksi vinyl-nya milik Iwan ada 16 yang terdiri dari Koes Bersaudara volume 1 dan 2, serta Koes Plus volume 1-14.

Ada banyak cerita ketika dia berburu rilisan fisik tersebut. Dia melancong ke Kediri, Jombang, Madiun, Solo, Yogyakarta dan sebagainya demi melengkapi koleksinya.

Dia pun pernah dua hari pergi ke luar kota namun tidak menghasilkan apa-apa. ”Saya pernah sehari ke Madiun tidak ada hasil. Lalu, geser ke Solo juga nihil, rasanya nelangsa sekali hehe,” tuturnya.

Karena awalnya dia memeroleh informasi kalau di toko-toko loak di Madiun dan Solo ada banyak kaset-kaset Koes Plus. Kata dia, harga-harga kasetnya beragam, mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 750 ribu.

”Semua tergantung kelangkaan kaset tersebut, biasanya kalau sudah di tangan kolektor harganya pasti mahal, karena mereka mau melepas koleksinya kalau sudah punya lebih dari satu rilisan fisik tersebut,’ katanya. Sedangkan, harga vinyl mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu.

Dari 2009 hingga 2016, akhirnya Iwan sudah merasa koleksinya sudah lengkap 99 persen. Dia tinggal mencari album-album solo para personel Koes Plus.

“Saat ini koleksi saya sudah hampi lengkap, namun hanya saja masih ingin cari rilisan fisik berupa album-album solo karir seluruh personel Koes Plus, karena masing-masing punya karya,” tuturnya.

Adapun kini dia juga melebar berburu rilisan fisik keluarga Koeswoyo yang merupakan anak-anak dari personel Koes Plus. Di antaranya seperti Chicha Koeswoyo, Hellen Koeswoyo, Sari Koeswoyo, dan sebagainya.

Menjadi kolektor merupakan hobi yang kerap dianggap kurang masuk akal, karena memang butuh modal yang banyak. Tetapi, kalau memang senang mau bagaimana lagi. Iwan sendiri mengatakan, ada kepuasan tersendiri bisa mengoleksi seluruh rilisan fisik Koes Plus.

Rilisan fisik tidak dikalahkan oleh musik digital berupa mp3. Karena keunikan dari rilisan fisik ialah adanya suara-suara komposisi musiknya yang tidak bersih, bahkan ada suara yang sudah off-tone.

Perasaan tersebut dirasakan Iwan sebagai nostalgia mengingat masa lalu. ”Paling enak ketika mendengarkan vinyl di turntable tua, suaranya banyak yang tidak bersih, justru rasanya seperti dibawa ke masa lalu, seru sekali,” katanya.

Dia pun menceritakan bahwa Koes Plus merupakan band asal kota tetangga Bojonegoro, yaitu Tuban.  Namun sayangnya peninggalan sejarah berupa rilisan fisik di Tuban tidak terlalu banyak ditemukan. Iwan mengatakan, sebagian besar dia memeroleh rilisan fisik di Jogjakarta.

“Saya juga heran, di Jogjakarta itu basis komunitasnya sangat kuat, jadi bisa saling berbagi informasi seputar Koes Plus dengan kawan-kawan di sana. Justru di Tuban tidak semasif itu, padahal notabene tempat kelahiran Koes Plus,” pungkasnya. (jpg/rus)