Kisah Cinta Abadi yang Menginspirasi

0
782
views

Pelukan Hangat itu Masih Terasa

TRANSLAMPUNG.COM- Widyawati, Rima Melati, dan B.J. Habibie telah ditinggal pasangan masing-masing. Namun, perpisahan tidak melunturkan cinta mereka. Abadi.

WIDYAWATI dan Sophan Sophian dipertemukan lewat film Pengantin Remaja. “Awalnya saya nggak mau main film itu,” kata Widyawati mengenang perkenalannya dengan suami Namun, setelah “dibujuk” sang ibu yang lebih dahulu bertemu dengan Sophan, Widyawati akhirnya luluh.

“Jujur, begitu melihat, wow, ganteng,” ujar Widyawati saat ditemui di rumahnya yang asri, kawasan Bintaro, Tangerang Selatan (10/2). Dalam proses syuting film itu, cinta tiba-tiba muncul. Widyawati jatuh cinta kepada Sophan yang dipanggilnya dengan sapaan “Mas”. Begitu pula sebaliknya.

Ketika menunggu syuting di mobil, Sophan bertanya, “Wid, kamu mau nggak nikah sama saya?” Widyawati menjawab, “Mau.” Prosesnya begitu cepat. “Saya meyakini bahwa semua ini sudah digariskan oleh Allah SWT,” ungkap Widyawati yang masih tampak ayu pada usia 66 tahun.

Berawal dari cinta lokasi (cinlok), pasangan itu akhirnya menikah pada 9 Juli 1972. “Pernikahan yang kemudian dipisahkan oleh maut pada 17 Mei 2008,” ujar Widyawati lirih. Sophan meninggal karena kecelakaan motor gede saat touring di Ngawi, Jawa Timur.

Di mata Widyawati, Sophan merupakan sosok yang sangat perhatian, berwawasan luas, dan bertanggung jawab. Perhatian Sophan terhadap keluarga luar biasa. Setahun setelah menikah, pasangan itu dikaruniai putra pertama. Namanya Romi. Seperti peran yang dimainkan Sophan dalam film Pengantin Remaja. Lima tahun kemudian, lahir putra kedua: Roma.

Begitu banyak kenangan Widyawati tentang suami tercinta. Suatu hari, ketika bersiap menghadiri undangan, kalung mutiara Widyawati lepas terurai. Sophan dengan sigap menenangkan dan merangkai kembali kalung itu. Ketika Widyawati sakit, Sophan seolah ikut merasakan. “Memasuki masa menopause, saya sering terbangun malam dan merasa kepanasan. Suami ikut bangun ngipasin,” ungkapnya.

Sembilan tahun kepergian Sophan, Widyawati tetap merasakan keberadaan sang suami. Dua minggu lalu dia mengalami diare hebat sampai menggigil dan sulit tidur. “Saya panggil dia, Pa, saya kedinginan. Kalau saya kedinginan, beliau akan peluk saya,” ucap Widyawati dengan suara bergetar. Pandangan Widyawati menatap lukisan besar potret suaminya yang terpajang di dinding tepat di hadapannya.

“Cinta harus terus dirawat sampai usia berapa pun. Kadang ada yang sudah berumur malu dipeluk suami. Itu tidak pernah kami rasakan,” katanya. Setiap mau tidur, Widyawati dan Sophan punya tradisi saling mencium kening dan pipi. “Ketika kebiasaan-kebiasaan itu tiba-tiba hilang, bisa dibayangkan bagaimana saya…,” ucapnya, lantas menarik napas dalam.

Widyawati tak pernah putus mendoakan sang suami. Dia mengungkapkan kerinduan lewat doa-doa yang dipanjatkan. Dia merasakan cintanya kepada Sophan tak pernah berkurang, bahkan terus berkembang. “Secara fisik dia memang tidak ada, tapi selalu tersimpan di hati,” kata Widyawati.
Cinta abadi Widyawati-Sophan menginspirasi banyak orang. Menurut Widyawati, hal itu dibangun melalui proses. Dia berdarah Jawa, sedangkan Sophan dari Makassar. Dua karakter yang berbeda. ”Namun, kami tidak pernah menuntut. Setiap manusia punya kekurangan,” ujarnya Perempuan yang memiliki darah Belanda dari sang oma (pihak ayah) tersebut mengakui egonya sangat tinggi.

“Untuk meminta maaf, oh, berat sekali,” kata Widyawati. Dia menyadari tidak mungkin dirinya terus seperti itu. Widyawati menulis pesan di secarik kertas. Isinya, I love you a lot. “Lalu, dia peluk saya,” kenangnya.

Ketika usia pernikahan bertambah, Widyawati mampu membuang egonya untuk meminta maaf ketika salah. “Tidak ada kalah menang dalam pernikahan,” tegasnya. Kisah cinta mereka berdua pernah dijadikan inspirasi sebuah operet pada 2013 yang juga dibintangi Widyawati.

Kepada dua putranya yang sudah menikah dan masing-masing dikaruniai dua anak perempuan, Widyawati berpesan agar selalu menjaga komunikasi dengan pasangan. Teruslah merawat cinta agar tumbuh subur dan semakin manis. Saling menghargai, mencintai, dan memperhatikan.

Syuting film Love pada 2007 menjadi kenangan terakhir Widyawati dan Sophan. Beberapa saat sebelum berpulang, Sophan sibuk menyiapkan touring. Saat itu ada banyak undangan pernikahan. Biasanya mereka selalu datang berdua. “Beliau minta saya datang sendiri. Rupanya, menyiapkan saya agar terbiasa sendiri sepeninggal beliau,” kenang Widyawati.

Suka duka pernikahan juga dirasakan Rima Melati dan Frans Tumbuan. Menjadi pasangan yang sangat harmonis selama 43 tahun, Rima merasakan bahwa cinta saja tidak cukup. Pasangan yang saling mencintai juga mau untuk menderita. “Menderita dalam arti jangan memaksakan maunya kita,” ujarnya.

Menikah adalah menyatukan dua kepala. Semua perlu dibicarakan. Tidak boleh melakukan sesuatu di belakang punggung. Komunikasilah yang terpenting. “Mungkin perempuan ingin ini itu. Tapi, kadang-kadang lupa kalau laki-laki kan yang harus cari duitnya,” ungkap Rima.

Melihat banyaknya teman artis yang menikah dan kemudian berpisah, Rima sedih. Dia yakin bahwa komunikasi merupakan kunci menjaga relasi yang harmonis dengan pasangan. (nor/glo/c5/ca/tnn)

Rima Melati – Frans Tumbuan

Rak buku, timbangan kuno, dan lampu jadul menghiasi rumah Rima Melati di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. “Frans (Tumbuan) itu suka sama barang-barang antik,” ujar Rima.

Frans meninggal karena diabetes pada 23 Maret 2015. Rima berjuang untuk mengikhlaskan. Terpukul dan kehilangan sangat dirasakan perempuan yang memiliki nama lahir Marjolien Tambajong itu. Dia tidak dapat tidur pulas selama beberapa hari.

Sempat “tidak terima” atas kepergian suaminya, Rima akhirnya sadar harus tetap melanjutkan hidup. Dia mengingat suaminya lewat kenangan yang pernah dilalui bersama. “Orangnya perhatian. Dia selalu tanya saya mau apa,” kenang Rima.

Frans adalah pria kedua yang menikah dengan Rima. Namun, Rima meyakini Frans adalah cinta matinya. Ketika Rima sakit, Frans setia menemani. Sebaliknya, Frans tidak pernah mengatakan jika sedang sakit. “Di saat-saat terakhir dia genggam tangan saya erat sekali. Kemudian dilepaskan,” kata Rima.

Sebelum bersua ketika dewasa dan kemudian menikah, Rima dan Frans sebenarnya pernah bertemu saat belia. “Orang tua saya dan Frans sama-sama Manado. Mereka berteman dan suka main bridge. Nah, anak-anaknya itu ditaruh di boks supaya tidur,” kata Rima, lantas tertawa. Suatu saat Frans dan Rima ditempatkan di boks yang sama. Siapa sangka, kelak mereka berjodoh.

Rima menyimpan dan merawat barang-barang peninggalan sang suami. Semua kenangan ada di rumah mereka. Setiap melihat kolam renang, Rima teringat Frans. Sebab, sang suamilah yang membuatkan kolam itu. Ada juga dua timbangan yang menghiasi rumahnya. Timbangan tersebut bukan sekadar pajangan. Ada filosofi dan amanat yang diberikan suaminya. “Kata Frans, hidup itu seperti timbangan. Semua harus seimbang dan tidak boleh berlebihan,” kata Rima.

Habibie – Ainun

Sejak mengikat janji suci pernikahan di Bandung pada 12 Mei 1962, Habibie selalu setia di sisi Ainun. Bahkan sampai Ainun meninggal di Muenchen, Jerman, pada 22 Mei 2010.

“Sejak saya ketemu Ainun, kami tidak pernah berpisah. Berpisah saat saya harus kerja. Saat tidak fokus kerjaan, yang dirindukan Ibu Ainun. Pikirannya ke situ,” tutur Habibie.

Bagi Habibie, cintanya kepada Ainun lebih dari cinta sejati. “Cinta sejati itu bisa dipisahkan oleh maut. Tapi, cinta saya dan Ainun tidak bisa dipisahkan oleh maut,” katanya. “Itu hanya mungkin terjadi kalau Anda kecipratan atau diberikan cinta Ilahi,” sambung presiden ketiga Indonesia itu.

Kepergian Ainun adalah pukulan telak bagi Habibie. Tim dokter dari Jerman dan Indonesia menyarankan Habibie untuk menjalani terapi self-healing. Habibie memilih menulis sebagai terapi. Melalui tulisan, bapak dua anak itu mengungkapkan semua kenangannya bersama Ainun.

Habibie juga terus memupuk cintanya kepada sang pujaan hati. Dia rutin mengunjungi makam Ainun di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, setiap Jumat. Habibie selalu membacakan puisi cinta berjudul Manunggal.

Saat berziarah, Habibie tidak lupa mengalungkan tasbih dan syal peninggalan Ainun. Syal tersebut tidak pernah dicuci dan selalu dibawa tidur. Menurut Habibie, aroma dari wewangian Ainun yang menempel di syal itu menghadirkan kehangatan. “Saya tidak pernah merasa sendiri,” katanya. (nor/glo/and/c10/ca/tnn)