. . .

Ketua Panwaskab: Indikasi Money Politics Pekon Singosari Diduga untuk Paslon Cagub No. 3 sekaligus Paslon Cabup No. 2

image_print
KETERANGAN RESMI: Ketua Panwaskab Tanggamus Dedi Fernando saat memberikan keterangan resmi terkait laporan dugaan money politics di Pekon Singosari yang diduga untuk pemenangan Paslon Cagub Lampung nomor 3 sekaligus Paslon Cabup Tanggamus nomor 2. (Foto: AYP)

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Setelah sejak Minggu (24/6) petang dengan sabar menunggu, akhirnya pukul 21.38 WIB, Ketua Panitia Pengawas Pemilu Kabupaten Tanggamus Dedi Fernando, S.H.I., M.H. memberikan keterangan resmi terkait dugaan money politics di Pekon Singosari, Kecamatan Talangpadang.

Agar utuh, baca juga: Dugaan Money Politics Nodai Masa Tenang Pilkada di Talangpadang

Sebelum menerangkan hasil pemeriksaan awal soal temuan di Pekon Singosari, Dedi Fernando terlebih dahulu menjelaskan, bahwa pada Minggu siang ada dua laporan masuk dugaan money politics. Kedua laporan berasal dari wilayah Kecamatan Talangpadang. Pertama adalah laporan dari Pekon Singosari. Menyusul laporan berikutnya adalah dugaan money politics dari Pekon Sinarbetung, Kecamatan Talangpadang.

“Namun untuk malam ini kepada kawan-kawan pers yang hadir, kami terlebih dulu menerangkan laporan yang dari Pekon Singosari. Sedangkan laporan dari Pekon Sinarbetung, belum bisa kami paparkan sebab masih kami periksa dan dalami laporannya,” ujar Dedi Fernando di ruang tamu Kantor Panwaskab Tanggamus, Pekon Kampungbaru, Kecamatan Kotaagung Timur Minggu malam.

Untuk di Pekon Singosari, terduganya seorang berinisial Sm. Pria yang diketahui merupakan mantan kepala pekon itu, memiliki 332 amplop putih polos. Masing-masing amplop berisi uang Rp50 ribu. Terdiri dari dua pecahan Rp20 ribu dan satu pecahan Rp10 ribu. Dengan total nilai uang Rp16.600.000,00.

BARANG BUKTI: Inilah ratusan amplop yang diamankan menjadi barang bukti dugaan money politics dari Pekon Singosari. (Foto: IST)
“Berdasarkan pengakuan Sm pada kami, uang itu didapatkan dari seseorang yang masih kami dalami. Sm dilaporkan ke Panwaskab Tanggamus atas dugaan money politics untuk pemenangan Paslon Cagub-Cawagub Lampung nomor urut 3. Sekaligus diduga juga untuk pemenangan Paslon Cabup-Cawabup Tanggamus nomor urut 2. Itu dugaannya,” tegas Dedi Fernando.

Selama proses pemeriksaan Sm, dia menyebutkan, ratusan amplop berisi uang itu kini dititipkan pada Sentra Gakkumdu sebagai barang bukti. Di samping itu, selama lima hari ke depan, Panwaskab Tanggamus juga akan bekerja guna memenuhi unsur-unsur yang belum terpenuhi untuk melengkapi laporan dugaan money politics ini sebelum diserahkan pada Sentra Gakkumdu.

PENITIPAN BARANG BUKTI: Setelah menerima laporan dugaan money politics dari Pekon Singosari, Sentra Gakkumdu Kabupaten Tanggamus segera membuat Berita Acara Penitipan Barang berupa 332 amplop berisi uang Rp50 ribu sebagai bukti. (Foto: IST)
Hingga berita temuan dugaan money politics ini dirilis, baik tim dari Paslon Cagub-Cawagub Lampung nomor urut 3 maupun Paslon Cabup-Cawabup Tanggamus nomor urut 2, belum bisa dimintai keterangan.

Tetap Hormati Asas Praduga Tak Bersalah

DEDI Fernando menegaskan, meskipun Sm kini sedang diproses di Sentra Gakkumdu terkait dugaan money politics, namun pihaknya tetap mengedapankan dan menghormati asas praduga tak bersalah.

Jika dari hasil pemeriksaan ternyata Sm terbukti bersalah, maka sanksi tegas tindakan money politics menanti Sm. Yaitu hukuman penjara minimal 32 bulan (3 tahun) atau maksimal 72 bulan (6 tahun) dan denda minimal Rp200 juta maksimal Rp1 miliar.

SANKSI MONEY POLITICS: Inilah sanksi tegas yang menanti pelaku money politics jika terbukti bersalah melanggar undang-undang. (Foto: SCREENSHOT)
“Itu sesuai dengan Pasal 187 A UU Nomor 10 Tahun 2016. Berlaku bagi pemberi maupun penerima,” tegas Dedi lagi.

Ketua Panwaskab Tanggamus memang sudah dengan tegas dan resmi menerangkan, bahwa mantan kakon Sm memiliki 332 amplop berisi uang yang diduga untuk pemenangan Paslon Cagub Lampung nomor urut 3 dan Paslon Cabup Tanggamus nomor urut 2. Kendati demikian apakah si paslon yang dibawa oleh Sm akan terdampak, Dedi Fernando menjawab hal itu bukan ranahnya.

“Kami hanya bertugas memproses terduga dan/atau pelaku (money politics). Kalau soal paslonnya, bukan kewenangan kami,” tandas Dedi seraya menyebutkan usai pemeriksaan awal temuan di Pekon Singosari maka langsung berlanjut pemeriksaan awal dugaan money politics di Pekon Sinarbetung. (ayp)