Ketika Media Tak (Lagi) Bersahabat

0
271
views

Saya bersyukur akhirnya bisa menjadi saksi mata pada demo bersejarah 4 November 2016 lalu di Jakarta. Itulah demo terbesar yang dihadiri hingga jutaan umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia. Berikut lanjutan catatan saya seputar demo yang saya ikuti.

TRANSLAMPUNG-ADA hal yang membuat saya cukup miris atas apa yang saya dengar dan lihat saat unjuk rasa berlangsung. Yakni ungkapan kekecewaan para pengunjuk rasa atas pemberitaan media, baik cetak maupun elektronik.

Memang tidak semua media yang diumpat, bahkan dimaki dan diusir oleh massa. Namun, tetap saja membuat saya terhenyak. Saya membayangkan, betapa malunya saya jika yang diumpat dan diusir oleh ribuan massa itu adalah media yang saya pimpin.

Massa menganggap media tertentu tidak adil dalam mengangkat aksi unjuk rasa yang mereka lakukan. Seperti pada aksi bela Islam I tiga pekan sebelumnya.

Substansi unjuk rasa justru kalah jauh tenggelam dari pemberitaan rusaknya sejumlah tanaman di Balai Kota DKI Jakarta. Bahkan, media mengabarkan dengan begitu detail tentang kerusakan itu. Bahkan menampilkan sesosok wanita tua yang tampak sedih karena taman yang biasa dia urus, rusak diinjak oleh massa demo saat itu.

Saat demo masih berlangsung, saya pun mendapat kabar beberapa media elektronik berbeda dalam mengabarkan jumlah pengunjuk rasa. Yang membuat saya prihatin, perbedaan jumlah itu mencapai angka jutaan orang. Bahkan, ada media elektronik yang menyebutkan unjuk rasa dihadiri oleh ribuan orang, bahkan hingga puluhan ribu.

Sebagai insan pers, saya sangat mengerti angka puluhan ribu menunjukkan jumlah massa tidak mencapai seratus ribu orang. Padahal, ada media elektronik –terutama media luar negeri (CNNdan Al Jazera)– menyebutkan angkanya lebih dari 2 juta orang. Selisih yang sesungguhnya tidak masuk akal.

Tentu, sebagai salah seorang yang ikut demonstrasi dan mendapatkan kabar dari berbagai lumbung massa, saya sudah bisa memastikan jumlah massa di atas ratusan ribu. Ambil contoh, massa yang tumpah ruah di Masjid Istiqlal saja, jumlahnya sudah di atas 200 ribu orang. Padahal, begitu banyak lumbung massa yang tersebar saat itu.

LEAVE A REPLY