Kerjasama Berakhir 2019,  lalu?

0
147
views
 Proyek pembangunan Kebun Raya Liwa

Melihat Proyek Kebun Raya Liwa

TRANSLAMPUNG.COM, LIWA- Proyek pembangunan Kebun Raya Liwa diakui berjalan lambat. Setelah 10 tahun sejak digagas pada 2006 silam, progres pembangunan satu-satunya kebun raya di Propinsi Lampung ini baru mencapai 10 persen. Demikian diakui Kepala UPT KRL Sukimin saat dikonfirmasi akhir pekan lalu.

Data yang ditampilkan UPT KRL menyebutkan, MoU antara pihak LIPI dan Kemenpupera bersama Pemkab Lambar akan berakhir pada 2019 mendatang. Artinya, suport pendanaan terbesar proyek dimaksud juga akan berakhir.

Sejauh ini, mega proyek yang berlokasi di eks tanah erfach seluas 86 hektar itu hanya ditopang dua sumber pendanaan yakni dari anggaran Kemenpupera dan sharing APBD Lambar yang nominalnya relatif kecil.

Menurut Sukimin, semuanya tergantung pendanaan. “Jika menyimak matriks pembangunan yang disampaikan saat rapat koordinasi Februari silam, seluruh item dalam proyek ini sudah harus selesai pada tahun dua ribu sembillan belas mendatang atau dua tahun dari sekarang. Tapi pendanaan dari kemenpupera memang masih minim,” ujarnya.

Pada 2018 mendatang, pihaknya melalui bupati setempat mengajukan anggaran sebesar Rp76 miliar kepada Kemenpupera. Dana sejumlah itu diperkirakan akan membiayai pembangunan proyek KRL dengan estimasi progress proyek mencapai 18% dari keseluruhan item yang tercantum dalam master plan Kebun Raya Liwa. “Tapi itu usulan lho, berapa nanti yang disetujui kita belum bisa pastikan,” jelasnya.

Tahun 2017 ini, pihak Kemenpupera hanya mengerjakan dua item pekerjaan di KRL yakni pembangunan Plaza Penerima Pengunjung dan jalan lingkungan KRL sepanjang 450 meter. Disamping plaza dan jalan lingkungan yang dikerjakan Kemenpupera, piihak LIPI juga tengah menuntaskan pembuatan kebun tematik buah, kebun tematik hias dan rumah pembibitan.

Melalui dana sharing, Dinas PU Pera Lampung Barat juga tengah mengerjakan pembangunan kedai kopi, mushola, gazebo dan rumah jaga.

Meski tersendat dan jauh dari selesai, antusiasme warga terhadap pembangunan KRL terbilang tinggi. Buktinya, lokasi pembangunan tidak pernah sepi pengunjung. Bukan hanya warga sekitar Liwa, bahkan warga dari luar Lambar yang mengunjungi Liwa selalu menyempatkan diri singgah di KRL.

Mengacu pada Master Plan yang pernah diekspos pihak Bappeda Lambar pada 2006 silam, jika rampunng nanti KRL diproyeksikan menjadi destinasi wisata ungggulan yang dimiliki Lampung Barat dan bakal menyerap wisatawan local maupun mancanegara. Selain merupakan satu-satunya kebun raya di Lampung, KRL juga bakal dipenuhi sarana hiburan dan keindahan serta wiisata edukasi.

Pasalnya, seluruh tanaman langka yang ada di TNBBS bakal hadir disini. (r8)