Kembali Dianiaya, PGRI Usulkan UU Perlindungan Guru

TRANSLAMPUNG.COM, JAKARTA – Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi kecewa dan prihatin atas terulangnya kembali aksi kekerasan terhadap guru oleh siswanya sendiri. PGRI pun semakin serius mengusulkan adanya UU Perlindungan Guru.

Setelah kejadian di Madura, kali ini kekerasan terhadap guru terjadi di Makassar. Hanya karena menegur muridnya Kepala Sekolah berinisial AT babak belur hingga berlumuran darah.

“PGRI marah, kecewa dan prihatin terhadap terjadinya kekerasan di lingkungan pendidik, guru merupakan yang tenaga kependidikan. Itu tidak boleh terjadi, kekerasan di lingkungan akademik,” ungkap Unifah kepada JawaPos.com (Group Trans Lampung), Rabu (14/2).

Dia mengatakan, pihaknya tidak menerima mentah-mentah informasi yang saat ini beredar. Unifah sudah mengadakan rapat untuk menyelidiki kasus tersebut agar mendapatkan pemecahan masalah dan solusi yang akan ditawarkan.

“PGRI sedang melakukan penelitian, penyelidikan, kebenaran berita ini karena ini penting bagi kami sebagai pendidik,” jelas Unifah.

Jika hal ini benar, orangtua murid akan diberikan pendampingan ke arah hukum. “Kalau anak itu ada Undang-Undang Anak, kalau orangtua tidak bisa dibenarkan untuk ke masalah hukum. Dengan catatan kalau ini benar karena kami masih menyelidiki,” ujarnya.

Terkait kasus kekerasan pada tenaga pendidik, PGRI akan melakukan pertemuan dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Komisi X, Maret mendatang.

“Kami mau membicarakan UU Perlindungan Guru. We are same in front of law and justice, kita hanya minta ada perlindungan. Jadi ini yang sedang kita inisiasi dengan DPR,” pungkasnya. (jpg/hkw)

 

 

 

 

News Reporter