Kelompok Petani Muda Tanggamus Antusias Terima ‘Jurus Rahasia’ dari AGRA Indonesia Agriculture dan Trans Lampung

TRANSLAMPUNG.COM, BANDARLAMPUNG – Sekelompok petani muda asal Kabupaten Tanggamus, siang ini (7/10) menimba ’jurus rahasia’ kesuksesan bertani mengandalkan bahan-bahan organik dari Tim AGRA Indonesia Agriculture dan Trans Lampung. Sudah saatnya seluruh petani Indonesia melepaskan diri dari ’belenggu’ ketergantungan bahan dan pupuk kimia yang membuat biaya produksi kian meroket. Berbanding terbalik dengan nilai jual yang didapatkan petani saat panen. Sungguh miris sekaligus ironis nasib petani bangsa ini.

Dari pelatihan sekaligus praktik gratis yang digagas Trans Lampung inilah, diharapkan petani di Indonesia, khususnya Lampung dan terutama Tanggamus bersedia kembali pada kearifan lokal. Tidak mudah memang. Namun perlahan tapi pasti, Trans Lampung dan AGRA Indonesia Agriculture optimis petani bisa back to nature. Selain sepenuhnya organik, keunggulan yang bisa didapatkan para petani dalam pelatihan ini, adalah komposisi bahan-bahan penghasil mikroba dan enzim untuk setiap tahap proses tanaman sudah disediakan oleh alam.

Pada kesempatan ini, Tim AGRA Indonesia Agriculture digawangi Heri dan Dedi. Setelah melalui beragam proses uji coba, bahkan gagal, lalu bangkit lagi, kedua pria tersebut bisa dibilang ’profesornya’ petani. Mereka berdua bersama anggota tim lainnya, yang secara langsung mentransfer ilmu kepada empat petani muda dari Tanggamus siang ini.

Salah seorang petani R. Junaidi (37) mengatakan, dari waktu ke waktu, nasib petani yang notabene menjadi ’pahlawan’ pangan bagi Indonesia justru semakin memprihatinkan. Bahkan tak sedikit, petani yang dililit utang hanya demi mendapatkan modal untuk biaya produksi awal sebelum mereka mulai bercocok-tanam. Utang kian membengkak, tatkala masa panen tiba, namun hasil yang didapatkan petani tak sesuai ekspektasi.

”Hancur dan semakin terlilit utang. Itu yang pasti dialami para petani ketika hasil panen berbanding terbalik dengan biaya produksi. Harapan bisa melunasi utang biaya produksi mengandalkan hasil panen pun pupus. Di tengah krisis kepercayaan petani pada bangsanya sendiri ini, Trans Lampung hadir dan menggagas program pelatihan antara petani dengan AGRA Indonesia Agriculture. Sungguh, ini prospeknya luar biasa. Semoga kami bisa belajar banyak hari ini,” harap ayah tiga anak itu diamini tiga rekannya.

Dia pun melihat, sistem pelatihan yang diberikan AGRA Indonesia Agriculture sangat jauh berbeda dengan yang sudah-sudah. Menurut Djunaidi, pelatihan dan ilmu yang diberikan sangat membekas dan langsung mengena. Sebab metodenya 80 persen para petani peserta pelatihan langsung praktik dan 20 persennya baru teori.

”Selama ini yang sudah-sudah, justru kebalikannya. Lebih banyak teori ketimbang praktik langsung. Sementara tani dan bertani ini adalah ilmu yang harus diterapkan langsung di lapangan. Jadi kalau kebanyakan teori, kami ini petani malah bingung. Nah dari AGRA Indonesia Agriculture ini lebih banyak praktiknya. Sangat pas dengan harapan kami,” ujar petani yang berdomisili di Pekon Kampungbaru, Kecamatan Kotaagung Timur itu.

Sementara Heri selaku perwakilan dari Tim AGRA Indonesia Agriculture menjelaskan, kehadirian timnya secara khusus untuk mengajak para petani ’bertobat’ agar tidak tergantung pada produk-produk kimia untuk menunjang tanaman dari awal sampai masa panen. Berdasarkan kalkulasi dan survei langsung di lapangan yang sudah dilakukan, kata Heri, selama petani masih menggantungkan diri pada produk-produk kimia, maka biaya produksi akan terus melangit.

”Atas keprihatinan terhadap krisis para petani inilah kami hadir bersama Trans Lampung. Intinya adalah mengajak dan mengedukasi petani agar tidak monoton dan terus memacu kreativitas serta inovasi untuk memanfaatkan bahan-bahan organik. Apalagi sebagian besar bahan-bahan organik pembuat mikroba dan enzim itu sudah disediakan oleh alam di sekitar kita. Artinya, formula-formula khusus pengganti pupuk, pestisida, dan herbisida itu pada hakikatnya bisa dibuat sendiri oleh petani secara mandiri, tanpa harus beli dengan harga yang mahal. Aplikasi dan formula untuk masing-masing  jenis tanaman, mulai dari padi sawah, palawija, tanaman buah, sayuran, tanaman keras, bahkan sampai jurus untuk peternakan serta perikanan, ilmunya kami buka semua dan ini gratis.

Pada pelatihan siang ini di Kantor Trans Lampung, Heri menambahkan, para petani dari Tangggamus diajari untuk meracik ramuan obat tanaman atau yang biasa disebut rotan oleh AGRA Indonesia Agriculture. Formula ini adalah biang untuk tanaman setelah ditanam di media tanah. Bahan-bahan untuk membuat rotan yang menghasilkan mikroba baik dan enzim bagi tanaman ini, antara lain adalah kangkung air, kacang panjang, buah mangga, buah papaya, buah semangka atau melon, buah nanas, buah pisang, jagung muda, usus (jeroan) ikan nila atau lele tanpa empedu, air cucian beras (leri), dan ragi tape.

”Bahan-bahan organik itu semua disetrilkan dengan cara dimasukkan pada air suhu 70 derajat Celcius. Lalu dilembutkan menggunakan mesin blender per bahan dicampur air kelapa. Setelah semua bahan dilembutkan dan dicampur menjadi satu, didiamkan (difermentasi) selama 14 hari. Setelah hari ke-15, biang atau rotan penghasil mikroba dan enzim siap diaplikasikan pada tanaman,” papar Heri didampingi Dedi di depan para petani.

Heri dan Dedi berharap, kesejahteraan para petani Indonesia terutama dari Tanggamus, bisa lebih meningkat dengan jurus organik ini. Sebab biaya produksi yang tadinya selangit, bisa ditekan semaksimal mungkin. Dan jauh lebih penting daripada itu, para petani Tanggamus umumnya Lampung, semakin mencintai alam dan tidak melulu mengandalkan ekstensifikasi (pembukaan lahan baru). Namun lebih pada intensifikasi (memanfaatkan lahan yang tersedia) dengan optimal.

”Bersama AGRA Indonesia Agriculture, kita ajak petani back to nature!” seru Heri. (ayp)

News Reporter