Kantor Kemendagri Diserang, Tiga Jadi Korban

0
159
views

TRANSLAMPUNG.COM – Kerusuhan pecah di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta. Kantor Kemendagri diserang sekelompok orang, Rabu (11/10) petang.

Mereka menghancurkan sejumlah pot bunga, melempari gedung dengan batu. Bahkan mengejar sejumlah pengamanan dalam Kementerian Dalam Negeri menerobos masuk ke dalam areal perkantoran.

Massa diketahui berasal dari pendukung salah satu pasangan calon Bupati Tolikara, Papua, yang sudah dua bulan terakhir berada di depan Kemendagri. Secara tiba-tiba mereka berhasil menerobos masuk, memanfaatkan kelengahan pengamanan dalam Kemendagri yang setiap hari berjaga-jaga di pagar depan.

“Kami tak pernah didengar, kami ini dianggap apa,” teriak salah seorang pengunjuk rasa sambil melemparkan apa saja yang bisa diraih.

Massa diperkirakan berjumlah tak lebih dari 15 orang. Namun aksinya mampu membuat porak poranda pengamanan dalam Kemendagri.

Namun rupanya pegawai negeri sipil (PNS) Kemendagri tidak menerima aksi tersebut. Mereka kemudian balas menyerang. Aksi lebih lanjut tak dapat dihindarkan. Saling lempar dan pukul terus mewarnai hingga ke jalanan.

Akibat aksi tersebut seorang anggota Pengamanan Dalam (Pamdal) Kemendagri terlihat dilarikan ke bagian dalam. Dia dibopong dengan kucuran darah di bagian kepala. Demikian juga dengan Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Dirjen Polpum) Soedarmo, terlihat kepalanya berlumuran darah.

Selain Pamdal, salah kameramen MNC TV juga mengalami nasib yang sama. Ia tidak hanya dipukul, namun juga kameranya dirusak oleh sejumlah oknum. Aksi kejar-kejaran berlangsung hingga mendekati Stasiun Gambir. Puluhan PNS Kemendagri akhirnya kembali ke Kemendagri.

“Dirjen Polpum juga kena (lemparan,red) sepuluh pot mengalami kerusakan. Mereka digiring keluar agar aksi tidak melebar,” ucap Direktur Jenderal Otonomi Daerah (Dirjen Otda) Kemendagri Sumarsono.

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) merilis sejumlah kerusakan dan korban akibat serangan mendadak sekelompok massa pengunjuk rasa yang diduga pendukung salah satu pasangan calon bupati Tolikara, Papua. Akibat serangan itu, ada pegawai Kemendagri yang terluka sehingga dilarikan ke rumah sakit.

“Korban luka ada satu orang yang terluka parah di bagian kepala (diduga akibat lemparan batu,red). Sudah dilarikan ke rumah sakit,” ujar Direktur Jenderal Otonomi Daerah (Dirjen Otda) Kemendagri Sumarsono di kantornya.

Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Dirjen Polpum) Soedarmo juga menjadi korban. Pensiunan TNI dengan pangkat terakhir mayor jenderal itu mengalami luka ringan.

Kerusakan lain yang tercatat adalah empat mobil minivan. Sebuah bus Kemendagri juga rusak akibat kacanya hancur.

“Kaca-kaca jendela beberapa bangunan juga rusak. Sementara untuk pot bunga ada sembilan pot yang berantakan,” ujar Sumarsono.

Massa yang melakukan tindak anarkistis diduga pendukung calon Bupati Jhon Tabo-Barnabas Weya yang mengatasnamakan Barisan Merah Putih Tolikara. Pasangan itu sebelumnya menggugat hasil Pilkada Tolikara ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Namun, MK menolak gugatan itu. Massa yang tak puas lantas mendesak Kemendagri membatalkan putusan MK.

“Mereka ini sudah dua bulan terakhir berada di Kemendagri. Menuntut pembatalan putusan Mahkamah Konstitusi. Itu kan putusan MK,” pungkas Sumarsono.

Sejauh ini aparat keamanan sudah bergerak. Setidaknya 15 orang dari massa perusuh telah diamankan aparat kepolisian.

Sementara, Dirjen Polpum Kemendagri, Soedarmo membantah pihaknya kecolongan, usai kantor Kemendagri diserang Rabu sore.`

Soedarmo mengatakan, Kemendagri awalnya berencana mengundang para pengunjuk rasa yang diduga berasal dari Barisan Merah Putih Tolikara, untuk berdialog.

Karena itu mereka kemudian diperkenankan masuk. Namun beberapa orang dari para pengunjuk rasa tiba-tiba mengamuk.

“Saya ingin selesaikan secara baik-baik, saya coba menerima aspirasi mereka. Sebetulnya sudah ada kesepakatan tadi, tapi ternyata ada beberapa dari mereka main lempar batu dan merusak beberapa kendaraan,” ujar Soedarmo di Kemendagri.

Soedarmo terlihat berusaha meredam aksi massa yang diduga pendukung salah satu pasangan calon Bupati Tolikara 2017 yang gugatannya ditolak Mahkamah Konstitusi (MK) beberapa waktu lalu.

Namun Soedarmo tidak berhasil meredam amukan massa yang bahkan masuk hingga ke bagian dalam kompleks perkantoran tersebut. Massa diketahui telah dua bulan terakhir berada di depan Kemendagri dan telah beberapa kali diterima oleh perwakilan Kemendagri.

“Perbuatan mereka sangat kami sesalkan. Ini terjadi di kantor yang seharusnya tidak terjadi. Kami meminta aparat keamanan menindaklanjuti dan mencari mereka. Perlu dilakukan pemeriksaan,” ucapnya.

Selain itu, Soedarmo juga mengaku pihaknya mengetahui siapa saja pelaku yang diduga membuat kerusuhan.

“Kasus ini perlu ditindaklanjuti, agar demo anarkis ini tidak terjadi di kemudian hari. Ini negara hukum dan bisa selesai secara hukum. Kami menunggu cukup lama untuk menerima, tapi mereka tidak mau, maunya oleh Mendagri. Jadi ini bukan kecolongan, karena mereka sudah mau diterima,” pungkas Soedarmo.

Diamankan

Kepala Bagian Operasional Polres Metro Jakarta Pusat, Ajun Komisaris Besar Polisi Asfuri membenarkan adanya keributan di sana.

“Iya sempat lempar-lemparan batu tadi,” ujar dia saat dikonfirmasi wartawan.

Akibat hal itu, mengakibatkan rusaknya fasilitas umum. Beberapa pot dan kaca rusak. Sebuah mobil dinas Dirjen pun ada yang rusak. Bahkan, Ada pula korban luka yang dilarikan ke Rumah Sakit terdekat.

Asfuri menyebut, ada juga beberapa orang yang diamankan polisi akibat hal itu. Namun ia tak menyebutkan jumlahnya.

“Kami amankan di Polda, kami serahkan ke Krimum. Langsung ke krimum saja minta keterangan lengkapnya,” ucap Asfuri.

Lebih lanjut dia mengatakan, kondisi di Gedung Kemendagri sendiri sudah normal. Suasana disana sudah konduisif seperti semula. “Keadaan sekarang sudah normal,” tandasnya. (jpnn/jpg/fik)

 

CAPTION:

Salah seorang PNS Kemendagri terlihat berlumuran darah. Diduga terkena lemparan batu sejumlah massa diduga pendukung salah satu pasangan calon Bupati Tolikara, Papua. Foto: Ken Girsang/JPNN.com