Kampus yang Tak Standar Disarankan Merger

0
331
views

TRANSLAMPUNG.COM- Kemenristekdikti terus menyisir kampus-kampus yang tidak berstandar. Tujuannya, pada 2018 seluruh kampus yang beroperasi sudah memenuhi standar pendidikan tinggi. Kampus yang belum bisa memenuhi standar diminta merger.

”Data terakhir, ada 243 kampus yang disisir,” ujar Dirjen Kelembagaan Iptek-Dikti Kemenristekdikti Patdono Suwignjo setelah membuka rapat kerja pengembangan Pusat Unggulan Iptek (PUI).

Dosen ITS itu menjelaskan, hasil akhirnya nanti ketahuan dari 243 kampus itu mana yang layak dipertahankan. Kriteria utama kampus layak dipertahankan adalah akreditasinya. Kampus yang tidak memiliki akreditasi dinyatakan ilegal.

Saat ini, lanjut Patdono, banyak kampus yang secara hukum sah menyelenggarakan perkuliahan. Sebab, mereka memiliki izin operasional resmi dari Kemenristekdikti. Namun, pada kenyataannya, kampus yang berizin itu menyelenggarakan pendidikan tak sehat. ”Ada yang gedungnya disewakan atau dijual karena tidak ada mahasiswanya,” ungkap dia.

Patdono mengakui tidak bisa mencabut izin operasional kampus-kampus yang ”sakit” itu. Agar izin operasionalnya tidak sia-sia, dia menganjurkan kampus yang tidak sehat tersebut melakukan merger dengan kampus lain. Melalui penggabungan itu, jumlah mahasiswa kampus tersebut (yang semula sedikit) bisa bertambah.

Standar baru pendidikan tinggi berlaku efektif pada 2018. Patdono berharap seluruh kampus negeri maupun swasta mematuhi regulasi itu. Dia tidak ingin masyarakat dirugikan karena tidak mengerti bahwa perguruan tinggi yang dipilih ilegal atau tidak memenuhi standar.

Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) III Wilayah DKI Jakarta Illah Sailah menjelaskan, di dalam standar pendidikan tinggi yang baru, acuannya adalah penerbitan akreditasi. Jika ada kampus yang tidak memenuhi standar, otomatis mereka tidak akan lulus akreditasi.

”Jadi, sebaiknya sebelum 2018 kampus-kampus yang merasa tidak memenuhi syarat melakukan merger,” tuturnya.

Saat ini, di antara 4.205 kampus yang ada, hanya 50 yang memiliki akreditasi institusi A. Kemudian, 300-an kampus mengantongi akreditasi B. Sisanya memiliki akreditasi C dan tidak terakreditasi.

Illah menuturkan, kampus-kampus yang memiliki gedung kuliah terbatas, bahkan sampai menyewa ruko, sebaiknya bermerger dengan kampus lain. Dia berharap imbauan itu dijalankan demi kepentingan mahasiswa. Kampus tidak boleh menjaga ego masing-masing dan tidak mau digabung.

Illah berpesan kepada pengelola PTS supaya mengedepankan proses belajar-mengajar. Pendirian kampus tidak boleh asal-asalan, yang ujungnya tidak lulus akreditasi. PTS harus menetapkan tujuan untuk mencetak lulusan yang terampil dan siap bekerja.(jef)