. . .

Jokowi Harus Buat Target Penyelesaian Kasus Novel Baswedan

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, JAKARTA – Pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan hingga kini belum terungkap. Padahal, beberapa waktu lalu pihak kepolisian sempat mengumumkan ciri-ciri pelaku penyiraman. Setelah 500 hari paskakejadian, kasus tersebut masih gelap.

Wakil Ketua MPR-RI Hidayat Nur Wahid mengatakan, pelaku penyiraman Novel Baswedan sebenarnya sangat mudah diungkapkan jika Presiden Jokowi tegas dan memberi target kepada kepolisian. Pengungkapan kasus tak perlu membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) karena akan menimbulkan banyak pendapat.

“Ya, memang perdebatan bisa macam-macam ya, ada yang mengatakan tim pencari fakta ini akan memperpanjang masalah dan lainnya. Menurut harusnya Pak Jokowi, memerintahkan dan membuat target kepada pihak kepolisian dengan deadline. Katakanlah dalam satu bulan bila tidak selesai, pihaknya akan melakukan apa gitu,” kata Hidayat Nur Wahid di Ruang Pressroom DPR-RI, kemarin.

Menurut politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, Presiden Jokowi sering memberikan ultimatum kepada bawahannya untuk menyelesaikan pekerjaan yang diembankan. Namun, masalah penyiraman air keras kepada Novel Baswedan ini belum ada ketegasan dari Jokowi, padahal kasus ini serupa dengan tindakan teroris.

“Kan beliau biasa mengultimatum harus selesai, tapi kenapa itu (kasus Novel) tidak dilakukan. Kalau kita serius dalam pemberantasan korupsi dan penegakan hukum termasuk pemberantasan lainnya, ini kan jenis terorisme juga,” ucapnya.

Dalam kasus kriminal ini, publik lantas mengaitkannya dengan politik jelang Pemilihan Presiden. Hal ini tak lepas dari keacuhan Presiden Jokowi untuk mengungkapkan pelaku dan dalang di balik penyiraman tersebut. Padahal, jika kasus kriminal lainnya, polisi begitu cepat mengungkapkan dan tidak membutuhkan waktu lama.

“Berdampak atau tidak harus diukur lebih spesifik lagi ya. Tapi publik dengan sederhana bisa langsung membanding-bandingkan beragam kasus yang langsung selesai. Beragam kasus yang dibikin bertele-tele, beragam kasus yang kemudian ditutupi dengan kasus-kasus yang lain, dan ada kasus dengan begitu cepat diungkapkan dengan luar biasa,” jelasnya.

Untuk itu, tantangan Jokowi ke depan adalah menghadirkan keadilan kepada semua lapisan masyarakat tanpa memandang golongan atau kelompok.

“Kita ini selalu diembelkan bahwa Indonesia adalah Negara hukum, Negara hukum itu berarti keadilan, nah keadilan hukum inilah menjadi tantangan besar,” tuturnya.

Sudah 500 hari lebih kasus penyiraman air keras kepada Novel Baswedan belum terungkapkan oleh aparat kepolisian. Padahal, kasus tersebut terjadi di Jakarta yang juga memiliki beberapa bukti CCTV, tapi belum juga terungkap. Parahnya, rencana pembentukan TGPF untuk mencari fakta pun tak kunjung terealisasi. (RBA/FIN)