Dari Jogja Hingga Dubai, Mengabdi di Provinsi Lampung

0
214
views

Mengenal Sosok Dosen UBL Fritz Akhmad Nuzir

TRANSLAMPUNG.COM, Bandarlampung-Pembangunan infrastruktur wilayah dengan penekanan pada wujud kota di Provinsi Lampung saat ini telah memenuhi hak sebagai masyarakat atas infrastruktur kota yang lebih baik secara pro maupun kontra.

Untuk mengenal lebih jauh mengenai infrastruktur, Trans Lampung berkesempatan mengenal lebih dalam dengan salah satu ilmuwan Arsitektur Dekan Fakultas Teknik Universitas Bandar Lampung (UBL) Fritz Akhmad Nuzir.

Ditemui di Gedung E, Fakultas Teknik UBL, beberapa waktu lalu, Fritz menceritakan perjalanan pendidikannya dengan mendapat gelar S1 jurusan Arsitektur di Universitas Gajah Mada, setelah lulus keinginan untuk menjadi seorang dosen namun belum begitu banyak ilmu yang dimiliki.

Pria yang kala itu tidak sabar untuk menjadi seorang dosen memutuskan kembali bersekolah dengan mengambil S2 Jurusan Master of Landscape Architecture Program atau Ilmu Arsitektur di Anhalt University of Applied Sciences Jerman, dan lulus pada tahun 2007.

Lama di Jerman, Pria yang lahir di kota Metro 34 tahun lalu itu mengatakan sempat berkerja sebagai karyawan magang di Jerman. Dari sanalah dirinya mulai berkerja sebagai Profesional di Dubai namun dalam waktu setahun dirinya memutuskan untuk kembali ketanah air.

“Dulu keinginan menjadi dosen sempat lupa, tetapi setelah saya berkerja di Dubai selama satu tahun saya merasa perkerjaan untuk orang lain bukan jati diri, hanya saja keinginan terbesar agar ilmu yang saya dapat bisa ditularkan atau bisa berguna bagi masyarakat,” kata dia.

Kepulangan ke tanah air dirinya langsung menjadi seorang dosen di UBL, dan kembali mencari Beasiswa dikti dan berhasil lulus wawancara, kemudian tahun 2013 mengambil program S3 Doktoral Environmental Engineering di Graduet School of Environmental Engineering di University of Kitakyushu, Jepang dan lulus tahun 2016.

“Alhamdullilah saya lulus dengan gelar doktor dalam waktu tiga tahun di jepan dan disana secara anjuran program kuliahnya mengutamakan riset,” ujar Fritz.

Menurut pengamatannya perkembangan pembangunan di Lampung terbilang lamban dibanding dengan kota-kota lainnya.

“Lampung cukup lambat, karena masyarakatnya kurang mengembangkan keilmuan Arsitektur jadi kalah dengan Bandung atau Jakarta, di Lampung ini terbilang masih terbatas industri dan keilmuan,” tambah dia.

Sementara dari mahasiswanya sendiri terliahat kemajuan yang cukup signifikan setiap tahunnya tentang ketertarikan dengan dunia Arsitektur.

“Berkembang sekali, kita lihat dari tujuh belas tahun terakhir dulu mungkin hanya sepuluh sekarang sudah sampai empat puluh bahkan sampai lima puluh ditambah lagi di UBL itu satu-satunya jurusan Arsitektur yang terakreditasi B dan segera meluncur ke- A,” pungkasnya.

Dirinya juga berharap kedepannya bisa mencoba mempraktekkan ilmu yang sudah didapat di dari negeri bunga sakura itu.

“Sejalan dengan misi UBL yang membantu masyarakat. Target Akreditasi A harus ditingkatkan untuk meningkatkan prestasi di dosen atau mahasiswa,” tutupnya.(r4)