Januari-Februari 123 Kasus DBD, 1 Meninggal

0
266
views
KOTAAGUNG – Selama Februari lalu, Dinas Kesehatan (Diskes) Tanggamus menyatakan terjadi lebih kurang 57 kasus demam berdarah dengue (DBD). Jika diakumulasi dengan kasus per Januari, maka totalnya mencapau 123 kasus.‎ Dari jumlah kasus tersebut, satu penderita akhirnya meninggal dunia.
Untuk penderita DBD yang meninggal dunia dalam bulan Januari, ada satu orang dari Kecamatan Pugung. Pada Februari, ada satu orang lagi, dari Kecamatan Semaka. Namun Diskes Tanggamus menyanggah penyebab meninggalnya warga Semaka itu sepenuhnya akibat DBD. Sebab penderita juga mengidap sakit gagal ginjal. Dan hasil diagnosa belum bisa tetapkan, apakah penyebab meninggalnya karena DBD atau sakit gagal ginjal.
Kabid Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P3PL) Sismantoro mengatakan, kasus yang terjadi pada bulan Februari tidak terlalu jauh dengan kasus pada bulan Januari. Total dalam dua bulan tersebut sebanyak 123 kasus.
“Untuk DBD di bulan Februari memang masih tinggi karena masih musim hujan. Kasus DBD akan tinggi pada bulan-bulan musim hujan. Sebab masa penghujan begini, perkembangan nyamuk Aedes aegepty meningkat karena banyaknya air yang tergenang,” beber Sismantoro, mendampingi Kepala Diskes Tanggamus Sukisno.
Berdasarkan inventarisasi kasus, kecamatan yang tinggi kasus DBD-nya, adalah Pulaupanggung sekitar 12 kasus gabungan bulan Januari-Februari, Gisting 5 kasus, Kotaagung 5 kasus, dan Talangpadang 5 kasus. Kemudian untuk Kecamatan Pugung, juga masih rawan meningkat meski di bulan Februari kurang dari lima kasus. Namun di bulan Januari tinggi.
“Mudah-mudahan di bulan Maret ini kasusnya terus turun. Jangan sampai naik lagi seperti di Januari,” ujar Sismantoro.
Penyebab tingginya kasus DBD, lanjutnya, juga karena kepadatan penduduk di wilayahnya masing-masing. Semakin padat penduduk, maka kerawanan DBD semakin tinggi. Sebab DBD mudah sekali menyebar dan jika terjadi di lokasi padat penduduk otomatis tinggi pula jumlah kasusnya.

Untuk itu penanganannya bagi masyarakat yang tinggal di daerah padat, adalah dengan lebih sering melakukan pembersihan lingkungan. Dalam hal ini jangan sampai ada air yang tergenang, karena itu menjadi tempat berkembangnya jentik nyamuk. Kemudian ketika kondisi tubuh sudah merasa demam, segera periksakan ke puskesmas terdekat supaya diketahui apakah demam itu demam biasa atau DBD. Jika positif DBD, maka pihak puskesmas akan langsung lakukan fogging supaya nyamuk dewasa mati.

“Selain itu menjaga kondisi stamina fisik sangat perlu, karena DBD menyerang kekebalan tubuh. Upayakan selalu menjaga makan dengan komposisi vitamin dan gizi yang mencukupi, cukup istirahat supaya badan sehat. Sebab yang bisa menyembuhkan DBD hanyalah kekebalan tubuh masing-masing (antibody). Sementara pemberian obat hanya untuk mengurangi rasa sakit,” pungkas Sismantoro.‎ (ayp)