Jamal Berdonor Lantaran Punya Darah Bule

0
99
views
SENANG BERBAGI: Jamaludin rajin mendonorkan darahnya. (Arya Dhitya/jpg)

TRANSLAMPUNG.COM – Mereka ini menghayati betul slogan Palang Merah Indonesia (PMI): Setetes darah Anda, nyawa bagi sesama. Sebab, orang-orang ini pernah merasakan sulitnya mencari darah saat kondisi sakit parah.

FERLYNDA PUTRI, Surabaya

JAMALUDIN senang betul punya kartu PMI dari Unit Transfusi Darah (UTD) Sidoarjo dan Surakarta. Kartu-kartu tersebut selalu dibawanya di dompet. Bak kolektor kartu. ”Yang Malang saya tidak ambil. Surabaya saya tidak punya,” tutur lelaki 32 tahun itu saat ditemui Jawa Pos pada Senin (12/6).

Jamal, sapaan akrabnya, memang beberapa kali donor ke luar kota. Itu bukan soal gaya-gayaan. Dia menyadari bahwa donor darah jenis rhesus negatif tak sebanyak mereka yang rhesus positif. Padahal, nyawa tidak bisa ditawar. Orang yang butuh darah harus mendapatkan donasi yang tepat.

Jamal, pria kelahiran Mojokerto, adalah penyandang golongan darah rhesus negatif. Tepatnya, B-. Di berbagai literatur disebutkan bahwa tiap permukaan sel darah merah punya protein antigen. Nah, ada orang yang punya protein itu. Ada yang tidak. Dengan fakta tersebut, jenis darah pun digolongkan menjadi dua. Darah yang punya protein disebut rhesus positif. Yang tidak, ya negatif.

Jamal mengetahui bahwa rhesusnya berbeda dengan orang kebanyakan pada 2013. Itu pun secara tidak sengaja karena kecelakaan.

”Saya kan suka touring. Pertengahan 2013, saya melakukan perjalanan dari Bali ke Surabaya,” tuturnya. Di Situbondo, dia mengalami kecelakaan. Kakinya patah dan harus dioperasi. Dua rumah sakit menolak karena peralatan kurang memadai untuk merawat kaki Jamal. Akhirnya, dia dirujuk ke RSUD dr Soetomo, Surabaya.

Di rumah sakit milik Pemprov Jatim itu, dia tahu bahwa darahnya rhesus negatif. Tapi, rumah sakit tidak memberi tahu secara gamblang soal jenis darah tersebut. ”Hanya diberi tahu bahwa darahnya darah bule,” kata Jamal.

Tentu, Jamal dan keluarganya langsung bingung. Bule mana yang mau menyumbang darah? Yang bikin bingung lagi, kenapa Jamal yang arekMojokerto bisa punya darah bule?

”Waktu itu, kami didatangi ketua RNI yang masih Pak Ivan (Ivan Tjen, ketua Komunitas Rhesus Negatif Indonesia, Red). Saya diberi darah sesuai kebutuhan operasi. Ivan tak memberi tahu Jamal siapa donor tersebut. Bahkan, hingga diwawancarai dua hari tahu, Ivan belum tahu orang yang berdonor itu. ”Setiap ditanya, tidak ada yang ngaku. Saya merasa utang budi,” ucapnya.

Komunitas RNI merupakan wadah bagi para penyandang rhesus negatif. Mereka memang memiliki peraturan agar si penerima donor tidak mengetahui siapa pemberi darah. Sebab, dikhawatirkan membuat si penerima donor sungkan.

Sejak mendapatkan donor darah dari RNI itu, Jamal ikut aktif dalam komunitas tersebut. Dia merasakan betul bagaimana mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup. Orang lain yang darahnya rhesus negatif pun harus punya kesempatan itu. Akhirnya, Jamal rela ke luar kota untuk mendonorkan darahnya.

Yang paling diingat Jamal adalah pengalamannya ke Surakarta. Pada 30 Januari 2016, dia harus memacu mobilnya dari Malang ke Surakarta. Di kota tersebut ada pasien yang membutuhkan delapan kantong darah B-. Sementara itu, pihak keluarga baru mampu mengumpulkan lima kantong.

”Sepanjang perjalanan, saya ingat harus jaga kondisi. Jangan sampai di sana tidak bisa donor,” ujar suami Dewi itu. Di setiap kota yang disinggahi, Jamal berusaha istirahat dan makan. Sampai Surakarta, dia pun bisa mendonorkan darahnya.

”Di sana saya bertemu dengan ibu-ibu dari Semarang. Waktu ketemu saya, dia tidak boleh donor karena hemoglobinnya rendah. Dan dua hari setelah itu, dia kembali ke Solo untuk donor,” cerita Jamal.

Malu-malu Jamal menceritakan bahwa sebenarnya dirinya takut pada jarum suntik. Namun, setelah operasi, dia akhirnya berani dan malah ketagihan untuk donor darah. ”Waktu donor pertama ya deg-degan karena jarumnya besar,” ceritanya.

Jamal baru sekitar enam kali donor darah. Memang para penyandang rhesus negatif berbeda dengan rhesus positif yang bisa mendonorkan darahnya rutin per 75 hari. Mereka baru mendonorkan darah ketika ada pasien yang membutuhkan. Hal tersebut dilakukan agar ketika ada kejadian darurat, mereka bisa donor. ”Beberapa hari lalu mau donor, tapi sedang flu. Jadi ditunda deh,” ucap Jamal. (jpg)