. . .

Jaksa Sita 3 Mobil Mewah

image_print

Terkait Pembobolan Bank Mandiri Bandung

TRANSLAMPUNG.COM, JAKARTA – Tim penyidik pidana khusus diam-diam telah melakukan penyitaan aset milik Direktur Utama PT Tirta Amarta Bottling (TAB) Rony Tedi yang merupakan tersangka kasus dugaan korupsi pemberian kredit PT Tirta Amarta Bottling (TAB) company oleh CBC Bank Mandiri Bandung yang diduga merugikan negara Rp 1,8 triliun.

Aset orang nomor satu di PT TAB itu berupa tiga unit kendaraan mewah roda empat merk Toyota Alphard tahun 2017 warna hitam dengan namor polisi D 717, Audi type S3 warna biru nomor polisi D 80 dan Range Rover warna hitam nomor polisi D 2 . Ketiga kendaraan mewah yang diperkirakan harganya hingga miliaran rupiah itu terparkir di halaman belakang Gedung Bundar Kejaksaan Agung. “Bener kita telah lakukan penyitaan mobil dari tersangka RT,” kata Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Dirdik pada Jampidsus), Warih Sadono di Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (12/8).

Dia menjelaskan penyidik akan terus melakukan penelusuran aset dan aliran dana yang diduga dari hasil tindak pidana korupsi dalam rangka untuk pengembalian kerugian negara. Ini sebagai langkah antisipasi jika nantinya para tersangka tidak membayar uang pengganti yang diputuskan oleh pengadilan. “Pokoknya semua aliran uang, penggunaan uang, kerugian negara harus balik, kita kejar terus itu,” jelasnya.

Bahkan, Warih yang pernah bertugas di KPK juga mengancam bakal melakukan penyitaan aset aset lain milik para tersangka yang saat ini masih dalam penelusuran tim penyidik. “Nantinya mungkin ada penyitaan aset lain lagi, kita kejar terus aliran dananya,” tutupnya.

Sementara itu, Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman meminta penyidikan berani menyentuh level Direksi Bank Mandiri jika memang ditemukan dugaan keterlibatannya. Pasalnya kerugian negara Rp1,8 triliun apakah mungkin hanya diputuskan pada level ‘kroco’. “Orang awam saja tahu, kalau uang sebesar itu pasti bos bosnya mengetahuinya, penyidik harus berani, transparan,” katanya.

Dia juga menjelaskan penyidik atau Kejaksaan Agung harus mempublikasi perkembangan penyidikannya, misalkan apa yang menjadi jaminan PT TAB saat mengajukan kredit ke Bank Mandiri senilai triliunan rupiah. “Jangan-jangan tidak ada jaminannya, atau jaminanya senilai lebih kecil dari pengajuannya, kan bisa saja ini terjadi,” jelasnya yang juga mantan pengacara mantan Ketua KPK Antasari Azhar.

Boyamin juga merasa heran, jika dikatakan jajaran Direksi Bank Mandiri tidak tahu mengetahui soal pemberian kredit yang nilainya hingga triliunan rupiah ini. “Bisa bayangkan jika kita ajukan kredit triliunan tapi pemutusnya tidak pada level Direksi, ngeri kan ini,” tegasnya.

Sebelumnya, Penyidik pidana khusus Kejaksaan Agung masih terus mendalami pihak pihak lain yang diduga ikut terlibat dalam kasus ini. “kita melihat bagaimana perkembangannya nanti, nanti semuanya kita dalami sesuai dengan komitmen awal, siapapun yang terkait dengan kasus itu akan kita tindak lanjuti,” kata Jaksa Agung HM Prasetyo.

Dia menjelaskan hingga saat ini tim penyidik sudah menetapkan tujuh orang tersangka. Dua dari unsur swasta dan lima dari unsur Bank Mandiri. ketujuh tersangka telah dilakukan penahanan.”Penyidikan jalan terus, sekarang sudah 7 orang tersangkanya ditahan. Dua tersangka awasta dan lima dari Bank Mandiri,” jelasnya.

Namun hingga kini penyidik yang tak kunjung menetapkan tersangka dari level jajaran Direksi Bank Mandiri, padahal nilai kredit yang hingga triliunan rupiah biasanya harus persetujuan hingga level direksi. Disinggung hal ini, Prasetyo mengaku penangan kasus ini harus sangat hati – hati.  “Ya sementara itu dulu (tujuh tersangka) yang kita dalami, kita harus hati hati , ini menyangkut Bank Pemerintah, Bank utama kita, jangan sampai mebimbulkan permasalahan lain. Itu yang harus kita hindari,” tegasnya.

Sedangkan saat disinggung soal nilai kredit yang mencapai Rp 1,4 trilun lebih, apakah jajaran tingkat Direksi tidak ada mengetahui, Prasetyo menjawab diplomatis. “Makanya dari itu kita harus hati hati betul menangani kasus ini, supaya menimbulkan masalah lain yang tentunya tidak harus terjadi,” tutupnya.

Diketahui, dalam kasus ini penyidik sudah menetapkan tujuh orang tesangka. Lima dari pihak Bank Mandiri yakni  Commercial Banking Manager Surya Baruna Semenguk,  Relationship Manager Frans Eduard Zandra dan Senior Credit Risk Manager Teguh Kartika Wibowo. Lalu dua petinggi Bank Mandiri yang diduga sebagai pemutus pemberian kredit berinsial TS dan PPW.  Sementara dari unsur swasta,  yakni PT TAB adalah Rony Tedy dan Juventius sebagai Head Accounting PT TAB.

Kasus pembobolan Bank Mandiri oleh PT TAB, 2015 agak mencengankan karena hanya dengan jaminan kredit sebesar Rp73 miliar,  tapi mendapat kucuran kredit sampai Rp1,5 triliun.

Kejagung juga pernah menangani kasus korupsi yang terjadi di Bank Mabdiri pada tahun 2000-an. Pada saat ini Kejagung menetapkan Dirut Bank Mandiri Alm.  ECW Neloe, wakilnya I Wayan Pugeg dan Direksi Moh.  Sholeh Tasripan sebagai tersangka kasus pembobolan oleh PT Cipta Graha Nusantara (CGN).  (LAN/FIN)

error: Content is protected !!