Istri Pahlawan Bali Marah Sebelum Meninggal

TRANSLAMPUNG.COM, DENPASAR – Siapa yang tidak mengenal sosok Pahlawan Nasional asal Puri Carangsari, Badung, Bali, mendiang I Gusti Ngurah Rai?

Bagi masyarakat Bali, sosok tersebut dikenal sebagai pejuang tangguh yang membela tanah air dalam perang puputan tahun 1946.

Kini, sang istri, Desak Putu Kari telah berpulang pada Minggu (10/12) pukul 05.00 WITA di Wings RSUP Samglah, lantaran didiagnosa mengidap penyakit pneumonia atau paru-paru basah.

Suasana duka menyelimuti para sanak saudara di Hotel Bali Mulia, Jalan Nangka, Denpasar. Tampak beberapa personil TNI telah ramai di tempat persemayaman jenazah Desak Putu Kari.

Beberapa sanak saudara terlihat sibuk memasang tenda dan menggelar karpet. Beberapa di antaranya ada yang silih berganti masuk ke sebuah ruangan tempat Desak Putu Kari disemayamkan sementara.

Cucu kedelapan Desak Putu Kari, I Gusti Ngurah Agung Danil Yuda saat menerima Tim Bali Express (Translampung Group) menjelaskan, sang nenek harus dirawat di RSUP Sanglah sejak Kamis, (7/12) setelah sebelumnya sempat mengalami perawatan lantaran tidak mau makan di kediamanya di Jalan Nangka, Denpasar.

Setelah mendapat perawatan di rumah sakit, kondisi Desak Kari semakin membaik. Bahkan, menurut Dannil sang nenek sudah bisa kembali bicara normal.

“Setelah dirawat itu sudah bisa bicara normal kembali, bahkan bisa marah-marah,” ungkapnya, Senin (11/12).

Namun, kehendak berkata lain, pada Minggu pagi dirinya harus menerima kabar duka atas kepergian sang nenek.

Desak Putu Kari yang merupakan perempuan asal Desa Sengguan, Gianyar, ini berpulang pada usianya ke-93 tahun. Mendiang meninggalkan tujuh orang anak dan lebih dari 15 cucu.

“Kalau umur pasti saya tidak tahu, tapi jika dilihat dari peringatan 100 tahun I Gusti Ngurah Rai, berarti nenek usianya sekitar 93 tahunan,” jelas Danil.

Danil menuturkan, awal kisah asmara keduanya ketika Ngurah Rai sedang bertugas di Gianyar. Kala itu, sedang dilaksanakan pementasan Arja di Kabupaten yang dikenal dengan sebutan Gumi Seni itu, dan Desak Kari sebagai pemeran Galuhnya. Karena saking jatuh cintanya, I Gusti Ngurah Rai kala itu juga melarikan Desak Kari untuk diajak menikah di Puri Carangsari, Petang.

“Ceritanya, karena jatuh cinta dengan nenek saya, kakek saya melarikan dan menikahinya. Istilahnya kawin lari lah pada jaman itu,” ujar Danil.

Kawin lari ini, kata dia, dimaksudkan dalam konteks keadaan perang kala itu yang tidak kondusif untuk melakukan perkawinan dengan tata cara yang biasa.

Desak Putu akhirnya diajak tinggal di Puri Carangsari, Petang, Badung, yang merupakan kediaman Ngurah Rai.

Dari perkawinan ini lahirlah tiga orang putra. Anak pertama bernama I Gusti Ngurah Gede Yudana, I Gusti Ngurah Tantra dan I Gusti Ngurah Alit Yuda.

“Saya merupakan cucu I Gusti Ngurah Rai, anak dari I Gusti Ngurah Alit Yuda,” jelasnya

Sekitar tahun 40-an, saat Ngurah Rai mengajak sang istri ke Puri Carangsari, tidak lama kemudian lahirlah anak pertama yang bernama I Gusti Ngurah Gede Yudana.

“Kemudian nenek saya bercerita kenangan dengan kakek, saat ditinggal pergi ke Jawa. Pada saat itu, nenek saya sedang hamil anak ketiga,” ujarnya.

Tujuan Ngurah Rai ke Jawa adalah untuk meminta bantuan senjata dan personel untuk berperang di Bali. Saat itu Ngurah Rai merupakan anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan menjabat sebagai Kepala Divisi Sunda Kecil.

Mulai saat itulah, Desak Putu jarang dan bahkan hampir tidak pernah bertemu dengan Ngurah Rai yang harus berjuang bersama rakyat Bali melawan penjajah Belanda.

Berjuang mempertahankan kemerdekaan untuk wilayah Sunda Kecil (Bali, NTT, dan NTB).

”Anggaplah aku telah mati, kapan pulang jangan dipikir,” demikian pesan Ngurah Rai kepada istrinya tercinta dan buah hatinya ketika hendak berangkat ke medan laga.

Suati hari, Desak Putu bersama kedua putranya ditangkap dan ditahan di Tangsi Gianyar oleh Belanda, untuk memancing Gusti Ngurah Rai agar menyerahkan diri.

Namun, ancaman tersebut tak membuat Gusti Ngurah Rai mundur. Bahkan semangatnya untuk membela Sunda Kecil lebih berkobar. Sehingga pada akhirnya istri dan anaknya dibebaskan. Setelah dibebaskan, Gusti Ngurah Rai menginstrusikan istri dan anak-anaknya bertolak ke Puri Carangsari demi keselamatan mereka saat keadaan kritis.

Ngurah Rai yang lahir 3 Januari 1917 akhirnya gugur pada 20 November 1946 di Desa Marga Tabanan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, yang kini dikenal dengan nama Puputan Margarana. Gusti Ngurah Rai kemudian menjadi satu-satunya pahlawan kemerdekaan asal Bali.

Singkat cerita setelah itu, Desak Putu Rai yang berstatus janda dipinang oleh teman dekat Gusti Ngurah Rai yang bernama Made Setiabudi yang kini juga telah tiada.

Dari pernikahannya yang kedua ini, Desa Putu Kari dikarunia empat orang anak. Yakni Putu Sari Utami, Made Mulyani, Nyoman Laksana Budi, dan Ketut Bakti Budi.

Dalam perjalananya Desak Putu Kari divonis mengidap penyakit jantung sejak tahun 2005 silam. Sejak itu, konidisi kesehatan Desak Kari cenderung menurun dan pada 2010 ingatanya berangsur hilang.

“Tahun 2010 ingatan nenek mulai hilang, tidak mengenal siapa, dan lebih cenderung mengingat kejadian masa lalu,” ungkapnya.

Sejak itu pula, Desak Kari lebih memilih untuk berdoa kepada almarhum suaminya I Gusti Ngurah Rai untuk senantiasa melindungi setiap generasi baik anak maupun cucunya saat ini.

Dengan kondisi ingtaan yang cenderung memburuk, saat Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI, Komaruddin Simanjuntak yang bersilaturahmi mengunjungi keluarga Alm. I Gusti Ngurah Rai dalam rangka HUT Kodam IX Udayana, Desak Kari justru ketakutan melihat pakian Pangdan yang menggunakan pakaian Dinas TNI.

“Saat Pak Pangdam sekarang, Pak Komaruddin bersilaturahmi ke sini (kediaman Desak Putu Kari, Red) nenek justru ketakutan karena melihat pakaian Pak Pangdam, terlontar dari mulutnya kalimat ‘Jangan ditangkap’,” tutur Danil.

Kondisi itu lantaran sang nenek pernah ditangkap tentara Belanda dan harus mendekam di penjara bersama anak-anaknya di daerah Tangsi Gianyar.

Hingga akhir hayatnya, Desak Putu Rai dikenal sangat tegas baik kepada anak maupun cucunya. Satu hal yang selalu melekat di pikiran anak dan cucunya yakni pesan tegas dari sang mendiang.

“Jangankan kalah, imbang pun tidak akan diberikan’ begitu kira-kira ungkapan yang sering dilopntarkan Desak Putu Rai semasa hidupnya,” kata Danil.

Kini, Desak Putu Kari telah berpulang. Terkait waktu pelaksanaan Palebon sang nenek, Danil masih belum mengatahui. Hal ini lantaran pihaknya harus berkordinasi lebih lanjut dengan pihak Puri Carangsari. Namun, kami tetap akan melaksanakan yang terbaik.

“Kami belum tahu, kami harus bertanya juga ke Puri Carangasari, Petang, tapi kami tetap mengupayakan yang terbaik,” tandasnya. (jpg/rus)

 

 

 

 

 

News Reporter