. . .

Indonesia dari Kekayaan Alam, Manusia Sampai Problematika Utang

image_print

Oleh : Dr Jerry Massie MA, DMin, Ph.D (Peneliti Kebijakan Publik Indonesia Public Institute) Ketua Dewan Pakar LAPD

TRANSLAMPUNG.COM – Bicara natural recounces (sumber daya alam) maka bisa dibilang Indonesia cukup kaya. Jadi, pentingnya ada orang yang berkompeten untuk mengolah sumber daya alam kita. Tak terkecuali warga Indonesia itu sendiri.

Hampir semua provinsi di Indonesia mempunya hasil alam yang dikenal dunia. Contoh di Riau. Provinsi yang terletak di Pulau Sumatera ini merupakan daerah penghasil minyak terbesar di Indonesia.

Di mana daerah tersebut mampu menghasilkan 365.827 barrel per hari dengan rincian minyak mentah sebanyak 359.777 barrel dan kondesat sebesar 6.050 barrel.

Semua hasil minyak ini diperoleh dari Kepulauan Natuna yang memiliki enam blok pertambangan yaitu Rokan, Mountain Front Kuantan, Siak, Coastal Plains dan Pekanbaru, Selat Malaca, dan Selat Panjang. Sumber daya alamnya dikelola oleh Chevron, Petroselat, Bumi Siak Pusako, Pertamina, Kondur Petroleum dan Pembangunan Riau.

Selanjutnya, Provinsi Papua. Negeri ini punya kekayaan alam yang melimpah yang diciptakan Tuhan. Jika Bali surganya pariwisata Indonesia sedangkan Papua surganya hasil alam kita.

Ketika berbicara sumber daya alam, maka Papua merupakan salah satu surganya. Berbagai barang tambang bisa ditemukan di sini termasuk tambang emas. Papua merupakan daerah tambang emas terbesar di dunia. Total cadangan emas yang dimiliki sebesar 1.187 ton dengan nilai mencapai USD 469,7 miliar.

Selain Papua di Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung yang menjadi penghasil timah terbesar. Salah satu faktor yang menyebabkan Bangka Belitung mampu menghasilkan timah yang sangat banyak adalah karena pulau tersebut kaya juga akan bebatuan yang memiliki sifat asam.

Daerah ini, mampu menghasilkan timah mencapai 100.000 ton dan jumlah tersebut akan terus bertambah seiring berjalannya waktu. tingkat biodiversitas Indonesia ditunjukkan dengan adanya 10% dari tanaman berbunga yang dikenal di dunia dapat ditemukan di Indonesia, 12% dari mamalia, 16% dari hewan reptil, 17% dari burung 18% dari jenis terumbu karang dan 25% dari hewan laut.

Di bidang agrikultur Indonesia juga terkenal atas kekayaan tanaman perkebunan seperti biji coklat, karet, kelapa sawit, cengkeh, dan bahkan kayu yang banyak diantaranya menempati urutan atas dari segi produksinya di dunia.

Sumber daya alam di Indonesia tidak terbatas pada kekayaan hayatinya saja. Berbagai daerah di Indonesia juga dikenal sebagai penghasil berbagai jenis bahan tambang, seperti petroleum, timah, gas alam, nikel, tembaga, bauksit, timah, batu bara, emas, dan perak.

Hutan

Hutan di wilayah Indonesia merupakan hutan terbesar ketiga di dunia. Luas hutan Indonesia sekitar 99 juta hektar yang membentang dari Indonesia bagian barat sampai bagian timur. Akan tetapi luas hutan tersebut semakin berkurang dari waktu ke waktu. Padahal potensi hutan Indonesia sangat besar.

Tidak hanya ikan, potensi laut Indonesia juga meliputi keragaman biota yang tinggal di dalamnya. Setidaknya terdapat lebih dari 500 jenis rumput laut dan tak kurang dari 900 jenis terumbu karang yang mempunyai potensi besar untuk kehidupan masyarakat Indonesia.

Potensi sumber daya tambang yang pertama yakni minyak bumi.

Potensi minyak bumi terutama di Indonseia terus mengalami penurunan setiap tahunnya. Indonesia sudah melakukan impor minyak bumi guna memenuhi kebutuhan di dalam negri. Pembangkit listik di Indonesia masih banyak yang menggunakan minyak bumi sebagai bahan bakar.

Potensi tambang yang kedua adalah gas alam.

Potensi gas alam di Indonesia masih sangat banyak. Cadangan gas alam Indonesia sekitat 2.8 triliun meter kubik. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara pengekspor gas alam terbesar di dunia.

Potensi tambang yang ketiga yaitu batu bara.

Negara Indonesia berada dalam urutan kelima yang menghasilkan batu bara paling banyak di dunia. Batu bara juga dimanfaatkan sebagai bahan bakar dalam sektor pembangkit listrik. Hanya saja penggunaannya masih kalah populer dari minyak bumi.

Lautan di wilayah Indonesia kaya akan berbagai jenis ikan yang melimpah. Potensi ikan di laut Indonesia bisa menembus 6 juta ton per tahun. Potensi tersebut menempati urutan keempat pada tahun 2009.

Di samping itu, Indonesia juga memiliki tanah yang subur dan baik digunakan untuk berbagai jenis tanaman. Wilayah perairan yang mencapai 7,9 juta km2juga menyediakan potensi alam yang sangat besar.

Sumber Daya Manusia

Menurut sebuah artikel dalam laman media nasional yang melansir data dari World Economic Forum –dalam Global Human Capital Report 2017, memperlihatkan Indonesia hanya menempati posisi ketujuh dari 10 negara ASEAN yang dicuplik untuk soal “Human Capital Index” (HCI).

Skor yang dimiliki Indonesia adalah sebesar 62,19 itu, yang ternyata di bawah posisi Brunai Darussalam (62,82), Malaysia (68,29) dan bahkan Singapura (73,28). Indonesia hanya satu tingkat di atas Laos (58,36),

Untuk soal high-skilled employment share, Indonesia berada di peringkat ketiga terbawah, dengan skor 9,9. Nilai Indonesia ini sangat jauh dibandingkan dengan Singapura –tempat pertama, dengan skor 56,2; ataupun Brunai Darussalam, dengan skor 40,8. Ironisnya, Indonesia berada di bawah Myanmar dan Vietnam.

Untuk medium-skilled employment share, Indonesia pun masih berada di peringkat ketiga terbawah. Namun, skor yang dipegang Indonesia (81,9) cenderung tidak jauh berbeda dengan negara ASEAN lainnya. Laos, yang menjadi peringkat pertama untuk soal ini memiliki skor 98,9.

Singapura bernilai 92,3. Artinya, untuk medium-skilled employment share, ASEAN dipegang oleh Laos dan Thailand. Berbeda dengan high-skilled employment share, negara utamanya tercatat sebagai “negara maju” di ASEAN –Singapura dan Malaysia.

Dilihat dalam perspektif edukatif maka Indonesia sebetulnya tak kalah dengan negara Asia Tenggara lainnya. Jumlah sarjana yang lulus di indonesia mencapai rata- rata hingga 250.000 per tahun. Itu berarti setiap tahun, indonesia mampu mencetak tenaga kerja intelektual sebanyak 250.000 orang. Akan tetapi, tidak semuak pekerja intelektual, memdapatkan pekerjaan. Bahkan banyak lulusan universitas yang menganggur. Rata- rata jumlah penganguran intelektual di indonesia bisa mencapai 40% dari total sarjana.

Indonesia yang mampu mencetak sarjana sebanyak 250.000 orang, sebenarnya memiliki kualitas sumber daya baik. Akan tetapi, lowongan yang tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja, membuat tenaga kerja inlektual di indonesia terbuang percuma. Dengan memaksimalkan potensi pekerja inteletual, maka indonesia akan semakin cepat berkembang

Indonesia dan Bahaya Utang

Debt dalam bahasa inggris-nya yang berarti “hutang” dalam bahasa latin “Debitum.

Sejauh ini, pemerintah pusat mengalami kenaikan utang sebanyak 48% (atau hampir dua kali lipat dari pemerintahan sebelumnya) semenjak Presiden Joko “Jokowi” Widodo memulai pemerintahannya pada 2014.
Dari data Kementerian Keuangan, jumlah utang pemerintah di akhir 2014 adalah Rp 2.604,93 triliun, dan naik hingga posisi di akhir April 2017 menjadi Rp 3.667,41 triliun.

Dibanding dengan utang negara pada akhir pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2014 berkisar di angka US$122 miliar. Selama 4 tahun masa pemerintahan Presiden Jokowi, utang tersebut bertambah 48% hingga mencapai US$181 miliar.

Penambahan utang yang terjadi cukup besar jika dibandingkan dengan masa pemerintahan SBY; antara 2009 dan 2013 utang negara naik di kisaran 26%.

Pada data yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) Februari lalu, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia 2017 silam mencapai US$352,2 miliar atau sekitar Rp4.849 triliun (kurs Rp13.769). Jumlah itu naik 10,1% dibandingkan tahun sebelumnya.

Bank Indonesia (BI) merilis jumlah utang per periode triwulan II 2018. Tercatat, utang luar negeri Indonesia (ULN) pada periode tersebut mencapai 355,7 miliar dolar AS atau setara Rp5.193,2 triliun.
Berdasarkan keterangan resmi Bank Indonesia, utang tersebut terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar 179,7 miliar dolar AS atau Rp2.623,6 triliun, serta utang swasta sebesar 176 miliar dolar AS atau Rp2.569,6 triliun.
Indonesia terus berhutang sejak menjadi anggota IMF sejak 1967. Adapun Indonesia pernah berutang US$ 9,1 miliar ke IMF terkait krisis 1998. Namun, utang tersebut sudah lunas di 2006.
Kementerian Keuangan mencatat utang pemerintah hingga September 2018 sebesar Rp 4.416,3 triliun, atau 30,47 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Adapun perkiraan PDB sebesar Rp 14.395,07 triliun.

“Rasio tersebut masih jauh di bawah batas bawah batas 60 persen terhadap PDB sebagaimana ketentuan Undang-undang Keuangan Negara Nomor 17 Tahun 2003,” kutip keterangan tertulis Kementerian Keuangan, Rabu, 17 Oktober 2018.

Jumlah utang hingga September itu lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar Rp 4.363,2 atau sebanding dengan 30,31 persen terhadap PDB.

Total utang pemerintah pusat pada September, terbagi atas pinjaman Rp 823,1 triliun dan surat berharga negara (SBN) Rp 3.593,2 triliun. Dalam pinjaman terdapat pinjaman luar negeri sebesar Rp 816,7 dan dalam negeri Rp 6,38 triliun.

Sedangkan dalam bentuk SBN terdiri dari denominasi rupiah sebesar Rp 2.537,1 dan denominasi valas sebesar Rp 1.056,1.

Daftar Negara Pemberi Utang pada Indoenesia

Berikut adalah pemberi pinjaman bilateral dan multilateral terbesar buat Indonesia, seperti dikutip dari data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Selasa (27/6/2017).

6. Islamic Development Bank (IDB)
Per Mei 2017, utang pemerintah Indonesia ke IDB mencapai Rp 9,95 triliun, naik tipis dari bulan sebelumnya Rp 9,94 triliun. Persentasenya adalah 1,3% dari total utang luar negeri Indonesia.

5. Jerman
Hingga Mei 2017, utang pemerintah Indonesia ke Jerman mencapai Rp 24,3 triliun, turun tipis dari bulan sebelumnya Rp 24,88 triliun. Persentasenya adalah 3,3% dari total utang luar negeri pemerintah pusat.

4. Prancis
Sampai Mei 2017, utang Indonesia ke Prancis mencapai Rp 24,3 triliun. Naik tipis dari bulan sebelumnya Rp 24,19 triliun. Jumlah tersebut adalah 3,3% dari total utang luar negeri pemerintah pusat.

3. Bank Pembangunan Asia (ADB)
Utang dari ADB hingga Mei 2017 adalah Rp 119,51 triliun, turun dari bulan sebelumnya Rp 120,91 triliun. Jumlah ini adalah 16,5% dari total utang luar negeri pemerintah pusat.

2. Jepang
Negeri Matahari Terbit ada di posisi kedua pemberi utang terbesar ke pemerintah Indonesia. Per Mei 2017, utang pemerintah Indonesia ke Jepang mencapai Rp 196,98 triliun, turun dari bulan sebelumnya Rp 200,67 trliun.

Utang tersebut mencapai 27,2% dari total pinjaman luar negeri pemerintah.

1. Bank Dunia
Bank Dunia kembali pemberi utang terbesar ke pemerintah Indonesia. Jumlahnya hingga Mei 2017 mencapai Rp 234,68 triliun, naik tipis dari bulan sebelumnya Rp 234,49 triliun.

Utang Indonesia ke Bank Dunia mencapai 32,4% dari total utang luar negeri pemerintah. Selain 6 besar ini, Indonesia juga memiliki utang luar negeri ke negara ini:

  • Korea Selatan Rp 19,5 triliun
  • China Rp 13,51 triliun
  • Amerika Serikat (AS) Rp 8,26 triliun
  • Australia Rp 6,95 triliun
  • Spanyol Rp 3,37 triliun
  • Rusia Rp 3,3 triliun
  • Inggris Rp 1,92 triliun
Dilihat dari sisi pertumbuhan, ULN ini meningkat 5,5 persen dari periode yang sama tahun lalu. Namun, pertumbuhan ini bisa dibilang melambat dibandingkan pada triwulan I 2018 sebesar 8,8 persen. Hal ini karena adanya net pelunasan pinjaman dan SBN domestik yang dibeli kembali oleh investor domestik.

Dalam jangka panjang utang luar negeri dapat menimbulkan berbagai macam persoalan ekonomi negara Indonesia, salah satunya dapat menyebabkan nilai tukar rupiah jatuh (Inflasi). Utang luar negeri dapat memberatkan posisi APBN RI, karena utang luar negeri tersebut harus dibayarkan beserta dengan bunganya.

Diketahui sebuah negara akan dicap sebagai negara miskin dan tukang utang, karena tidak mampu untuk mengatasi perekonomian negara sendiri, (hingga membutuhkan campur tangan dari pihak lain).

Selain itu, hutang luar negeri bisa memberikan manfaat sebagai berikut:

  1. Membantu dan mempermudah negara untuk melakukan kegiatan ekonomi.
  2. Sebagai penurunan biaya bunga APBN
  3. Sebagai sumber investasi swasta
  4. Sebagai pembiayaan Foreign Direct Investment (FDI) dan kedalaman pasar modal
  5. Berguna untuk menunjang pembangunan nasional yang dimiliki oleh suatu negara

Tak bisa dipungkiri akan bahaya jika negara terus-terusan berhutang.

Berikut daftat negara yang bangkrut berhutang :

1. Sri Lanka

Srilangka adalah sebuah negara yang terletak di Asia Selatan. Kini hutang negara tersebut sebesar Rp8 Milyar dollar kepada negara Tiongkok. Utanh mereka dipakai untuk pembangunan infrastruktur.

Tapi sayangnya Sri lanka tidak bisa membayar hutang. Hingga akhirnya, mereka harus melepas pelabuhan Hambatota sebesar Rp1,1 triliun atau sebesar 70% sahamnya dijual kepada BUMN milik Tiongkok.

2. Uni Soviet

Salah satu penyebab runtuhnya Uni Soviet tak lain adalah beban hutang yang terlalu besar. Selama perang dingin, Amerika dan Uni Soviet yang sekarang disebut Rusia terlibat dalam perlombaan senjata yang mengakibatkan uni soviet berhutang sebesar Rp66 milyar dollar.

Negara ini memang banyak menghabiskan uangnya di perang Afghanistan.

3. Angola

Angola di Afrika ini mempunyai hutang yang cukup besar kepada negara Tiongkok sebesar Rp21,5 Milyar dolar.
Karena tidak mampu melunasi hutang mereka, akhirnya Tiongkok mulai mengatur Angola.

Dan akhirnya parlemen angola mengajukan undang-undang yang berbunyi : “Islam tidak boleh ada di angola dan seluruh masjid harus ditutup dengan alasan berlawanan dengan adat istiadat Angola.

4. Nauru

Dulu Nauru merupakan sebuah negara kecil dulunya negara ini sangat kaya. Nauru penghasil fosfat (pupuk kotoran burung) terbesar di dunia. Namun saat fosfat mulai habis, Nauru mulai berhutang hingga Rp.2.200 Triliun dan belum terbayar sampai sekarang. Dan sekarang Nauru menjadi salah satu negara termiskin.

5. Zimbabwe

Zimbabwe berhutang kepada negara tiongkok sebesar 40 juta Dollar.
Karena tidak bisa bayar hutang, akhirnya Tiongkok memberi tawaran.
Tawarannya adalah dibebaskan dari hutang, dengan syarat Zimbabwe harus mengganti mata uangnya menjadi yuan.
saat ini jual beli, sewa menyewa, transaksi, semuanya menggunakan mata uang yuan milik negara China.

6. Malaysia

Malaysia termasuk negara yang terancam bangkrut karena mempunyai hutang sebesar Rp.3.500 triliun.
Tapi akhirnya, Perdana Menteri malaysia Mahathir Mohammad membuka rekening donasi agar seluruh masyarakat Malaysia ikut patungan demi meringankan hutang Malaysia.
alhasil sekarang hutang malaysia sudah semakin sedikit.

7. Nigeria

Meskipun Bill Gates melunasi semua hutang nigeria kepada Jepang
tapi Nigeria masih memiliki hutang kepada negara Tiongkok sebesar N3 triliun atau sebesar 8,2 milyar dolar
negara Tiongkok memberi hutang kepada nigeria untuk pembangunan infrastruktur.

Namun Tiongkok memberi hutang dengan syarat buruh kasar dan bahan baku harus Tiongkok.

8. Argentina

Dulu argentina adalah negara yang kaya, namun tidak ada yang menyangka Argentina yang dikenal sebagai negeri perak ini mengalami krisis.

Argentina mempunyai hutang 95 milyar dollar dan mengalami gagal bayar hutang ke kreditor asing. Lantas pemerintah mengambil langkah dengan cara membekukan rekening bank karena takut rakyatnya akan melakukan money rush.

Buntutnya, rakyat melakukan demo  terhadap pemerintah yang dianggap tidak becus mengatur negara.

9. Yunani

Pada 2015 lalu, Yunani mengumumkan bahwa mereka tidak bisa membayar hutang 138 milyar dollar kepada IMF…
Mereka mengumumkan bahwa mereka bangkrut dan hal itu menjadi sebuah kejutan untuk dunia ini mengingat negeri para dewa itu dianggap sebagai salah satu negara maju di eropa…
Hutang yang sangat banyak itu tak bisa dibayar karena korupsi yang terjadi di dalam tubuh pemerintahannya.

10. Jamaika

Negara penghasil bauxite terbesar didunia ini mengalami kebangkrutan akibat berhutang sebesar 7.9 milyar dollar kepada IMF.

Lantaran, tingginya hutang Jamaika adalah penyebab melambatnya pertumbuhan ekonomi yang membebani anggaran pemerintah setiap tahunnya. akhirnya Jamaika dinyatakan bangkrut di tahun 2012.

Selain negara itu, adapula seperti, Ekuador, puerto rico, djibouti, Timor leste, Pakistan.