Indeks IPM Lampung Tahun Ini Perlu Ditingkatkan Lagi

0
605
views

Bandarlampung – Langkah pemerintahan dalam meningkatan sektoril Indeks Pembangunan Manusia (IPM) ditahun 2016, terutama dibidang pendidikan dan kesehatan pemerintahan Gubernur Lampung M.Ridho Ficardo tampaknya harus ditingkatkan lagi.

Kepala Bidang (Kabid) Sosial Bappeda Provinsi Lampung, Fitrianita menegaskan disela dalam kegiatan rapat kooridinasi (rakor) Forum SKPD Bidang Pendidikan kebudyaaan yang diadakan Aula Disdikbud Lampung, Kamis (10/3),menegaskan dari data sensus Badan pengkajian

Statistik (BPS) Lampung, 2015 meskipun laju pertumbuhan penduduk Lampung terbesar nomor dua di Sumatera setelah Sumatera Utara dengan 8.086.691 jiwa tapi IPM Lampung paling terendah di Sumatera.

“Kalau data Dirjen Administrasi Lampung, penduduk kita 9,54 jiwa,tapi peningkatan kuantitas (jumlah) penduduk itu tidak dibarengi peningkatan prosentase kualitas (IPM) penduduk dengan 66,42 persen. Jumlah ini masih kalah dari 9 provinsi di Sumatera lainnya. Seperti Riau (70,33 persen), Sumatera Barat (69,36 persen), Sumatera Utara (68,87 persen), Aceh (68,81 persen), Bangka belitung (68,27 persen), Jambi (68,24 persen), Bengkulu (68,06 persen), dan Sumatera Selatan (66,75 persen),”paparnya.

Untuk pencapaian IPM nasional pertiap kabupaten, ada tiga kabupaten yang IPM-nya sangat mengkhawatirkan secara nasional. Yakni Mesuji dengan 58,71 persen, Pesisir Barat (59,76 persen) da Pesawaran (61,70 persen).

Namun, dari pencapaian minus itu masih ada yang bisa dibanggakan. Pasalnya, pola kerja pemerintahan di Kota Metro dan Bandarlampung berhasil menempatkan dua kotamadya Sai Bumi Ruwa Jurai itu memiliki IPM diatas rata-rata tingkat provinsi lampung, area regional Sumatera maupun tingkat nasional dengan akumulasi IPM diatas 68,90 persen.

“Di Indonesia Kotanya (kepemimpinan) Pak Pairin (Metro) dan Pak Herman HN (Bandarlampung) yang IPM-nya cukup tinggi. Kota Metro dengan indeks IPM 74,98 persen dan Bandar Lampung dengan 74,34 persen. Tapi, ditabel (IPM) nasional wilayah kita lainnya, bila ditelusur rendahnya IPM Lampung dari sisi pendidikan bisa disebabkan karena enam daerah atau kabupaten di Lampung yang masih masuk dalam kategori daerah tertinggal dalam hal pendidikan. Selain dari segi teknis peningkatan mutu SDM, pemenuhan infrastruktur sarana dan prasarana yang belum merata hingga belum terencananya pewujudan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya.

Sedangkan, permasalahan pembangunan bidang kesehatan di Lampung juga menjadi salah satu faktor penghambat kenaikan angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Lampung.Permasalahan pertama adalah kasus kematian ibu di Provinsi Lampung yang masih tinggi yaitu 228 per 100.000 Kelahiran Hidup (KH).

“Ini menyumbang angka kematian ibu secara nasional yang masih tinggi yaitu 102 per 100.000 KH,” ungkapnya.

Kemudian, angka kematian bayi dan kematian balita di Provinsi Lampung juga masih tergolong tinggi.Tercatat angka kematian bayi di Lampung sebesar 30 per 1000 KH dan angka kematian balita di Lampung mencapai 38 per 1000 KH.“Ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan dasar dan rasio puskesmas yang masih di bawah nasional juga menjadi permasalahan besar di Lampung,” ujarnya.

Kondisi ini ditambah rasio Posyandu yang rendah dan jauh dari rata – rata nasional, serta rasio dokter dan perawat masih jauh di bawah nasional.“Kesadaran masyarakat untuk melahirkan di dokter memang meningkat, tapi angka kematian ibu dan bayi juga meningkat, artinya yang jadi tantangan kita adalah kompetensi tenaga medis yang membantu persalinan tersebut,” simpulnya.

Menyikapi hal itu, Kepala Bidang pendidikan Menengah dan Tinggi (Kabiddikmenti) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Lampung, Teguh Irianto akan membawa hasil penurunan IPM Lampung dari kajian Bappeda Lampung kepada Kadisdikbud Lampung, Hery Suliyanto. Selain itu pihaknya  akan mengkaji setiap kelemahan program pendidikan,khususnya diranah Dikmenti.

“Dari pemaparan tadi, kami (Disdikbud) akan lebih memprioritaskan lagi berbagai program pendidikan yang dapat meningkatkan IPM. Itu akan dikoordinasikan dengan Dinkes Lampung yang juga mendapat sorotan (laporan) dari Bappeda.

Ikut menambahkan, Kasubbag Perencanaan Disdikbud Lampung Mustaqim akan menjadikan kajian Bappeda Lampung sebagai rule peningkatan mutu dan kualitas manusia di Lampung. Langkah itu akan dimulai dari pendidikan dasar, pemenuhan Sarana prasarana, penyebaran guru hingga proses pembinaan dan peningkatan mutu kualitas dinas penddikan (Disdik) maupun unit sekolah, terkhusus kabupaten yang terendah indek IPMnya.

“Semua akan dikoordinasikan juga dengan SKPD lain dengan langkah pengawasan dari Bappeda Lampung. Setiap program pasti ada pro dan kontranya. Tapi dengan hasil ini kita harus konsern dan mengakomodir setiap langkah peningkatan supaya ada alur kerja yang linier dan tidak tumpang tindih. Supaya juga penilaian dari BPK dan Inspektorat juga berlangsung baik,”pintanya.

Kedepan, Sedangkan, Humas Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dr Asih Hendrastuti menambahkan pihaknya bersama Disdikbud Lampung akan saling berkoordinasi dan bersinergis melaksanakan program ‘kompak’ pembinaan sekolah yang tidak hanya dari sisi akademik tapi juga dibidang kesehatannya. “mungkin kita mulai dari meningkatkan mutu dan kualitas sekolah dan kantin sehat,”tukasnya. (ins)