. . .

Imunisasi MR 158.373 Anak Tanggamus Perlukan 1.724 Tempat

image_print

Foto: Kepala Diskes Tanggamus

SUKISNO, S.K.M., M.Kes.

Libatkan Lintas Sektoral

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Bulan Agustus-September mendatang, Dinas Kesehatan Tanggamus memberikan imunisasi Measles Rubella terhadap 158.373 anak. Sasaran imunisasi massal tersebut adalah anak-anak rentang usia 9 bulan sampai 15 tahun.

Lantaran banyaknya jumlah peserta, maka imunisasi dilaksanakan di dua kategori tempat, yakni di sekolah dan posyandu. Untuk sekolah, sedang disiapkan 1.044 sekolah. Rinciannya sekolah PAUD 334 tempat, TK 121 sekolah, SD 463 sekolah, dan SMP 126 sekolah. Kemudian kategori tempat posyandu, sebanyak 680 titik. Lokasi posyandu dikhususkan bagi sasaran imunisasi (peserta) yang tidak atau belum berstatus pelajar.

“Jadi kalau yang masih jadi berstatus pelajar, imunisasinya di sekolah. Sedangkan yang tidak/belum sekolah, imunisasinya di posyandu pekon masing-masing,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus, Sukisno, S.K.M., M.Kes.

Dia mengatakan, imunisasi MR tersebut wajib diberikan pada anak-anak. Sampai saat ini terdata estimasi 158.373 anak usia sembilan bulan sampai 15 tahun.

“Bisa saja nanti saat pelaksanaan, jumlah peserta (imunisasi) lebih dari itu,” ujar Sukisno, Rabu (18/7).

Untuk waktu imunisasi, mulai sejak awal Agustus bagi sasaran imunisasi status pelajar. Sedangkan yang tidak sekolah selama bulan September 2018. Harapannya dengan masa waktu selama dua bulan itu, seluruh sasaran bisa diimunisasi.

Dalam pelaksanaan imunisasi itu, Sukisno menjelaskan, tenaga medis yang dilibatkan totalnya 854 orang. Terdiri dari 37 dokter, 3 dokter gigi, 230 perawat, dan 576 bidan. Mereka semua sudah diberi pelatihan, sehingga saat pelaksanaan bisa dikerjakan tanpa hambatan.

Karena banyaknya sasaran dan imunisasi yang bersifat massal, maka Diskes Tanggamus adakan sosialisasi lintas sektoral. Dikuatkan dengan penandatanganan bersama seluruh sektor yang terlibat. Mulai dari bidang kesehatan, anak, pemerintahan, sampai aparat.

Sukisno mengaku, imunisasi massal harus melibatkan semua sektor. Sebab sasarannya luas, dilihat dari segi usia yakni balita sampai remaja jenjang pendidikan SMP/sederajat. Maka bukan saja dari pihak diskes, tapi juga seluruh masyarakat.

“Bentuk dukungan yang diharapkan, antara lain ikut sosialisasikan dan memobilisasi sasaran bagi anak untuk mendapatkan imunisasi MR sesuai waktu dan tempat yang ditentukan melalui partisipasi aktif di dalam lingkungan dan sektornya,” terang Sukisno.

Sebab ini adalah program nasional dan Indonesia telah berkomitmen mencapai eliminasi campak dan pengendalian rubella syndrome pada 2020. Maka strategi yang dilakukan untuk itu adalah penguatan imunisasi rutin dan pelaksanaan kampanye imunisasi MR.

Penyakit rubella bisa berdampak pada kecacatan permanen. Itu terjadi saat perempuan dengan kehamilan tiga bulan awal menderita rubella. Maka janin yang dikandungnya nanti akan lahir cacat. Kemudian juga bagi anak dengan kondisi gizi yang buruk lantas terkena rubella maka kondisinya akan semakin memburuk.

“Imunisasi rubella sebenarnya sudah pernah diberikan bagi anak saat balita. Namun untuk saat ini, imunisasi harus diulang dan mengabaikan imunisasi yang sudah pernah diberikan. Untuk kasus rubella di Tanggamus, selama ini di sini tidak ada. Agar bertahan, maka perlu dilakukan penguatan pencegahan caranya dengan MR,” tandas Sukisno. (ayp)