HPN, Momen Intropeksi bagi Lembaga Pers

0
582
views

TRANSLAMPUNG.COM, BANDARLAMPUNG-Jadikan Moment Hari Pers Nasional (HPN) 2017 sebagai wahana tepat untuk intropeksi diri bagi insan dan lembaga pers.

“Bagi insan pers saatnya kita merenung dan mewaspadai, sedang apa saat ini dan akan menghadapi situasi apa kedepan. Tantangan media akan semakin berat, karena peran media dianggap strategis sehingga semakin banyak godaan keperpihakan secara politis, serta semakin berat secara bisnis,” kata Wakil Ketua PWI bidang pembelaan wartawan Juniardi, Kamis (9/2).

Menurut mantan Ketua KI Lampung, kualitas wartawan saat ini terus dituntut seiring dengan semakin cerdasnya pembaca, dan perkembangan jaman, apalagi persaingan media cukup ketat, diera digital dan transparansi.

“Data dewan pers, grafik pertumbuhan media, terutama media online, sangat luar biasa. Karena itu, wartawan juga perlu berbenah memperbaiki kualitasnya. Saat ini sudah ada uji kompetensi wartawan (UKW). Wartawan yang lulus UKW akan mendapatkan sertifikat kompeten dari dewan pers,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, sekarang ini wartawan secara tidak langsung, bersaing dengan masyarakat yang memiliki media sosial. Melalui jejaring sosial, masyarakat juga bisa menampilkan berita dan foto, yang kuat dan akurat, untuk juga melwan hoax.

“Perkembangan teknologi ini mendongkrak cepat perkembangan media sosial. Masyarakat menjadi mudah mengakses bahkan meng-up load sendiri berita dan foto secara cepat. Ini peluang sekaligus tantangan bagi insan pers,” tandasnya.

Ia mengatakan, dengan menjamurnya media, para pemasang iklan menjadi punya banyak pilihan untuk memasarkan brandnya. Industri media mau tidak mau harus berlomba untuk memikat pengiklan.

“Persaingan bisnis di dunia media ini kadang menjadi diperumit dengan bonus yang ditawarkan pemilik media. Para pengiklan biasanya akan memilih media yang sanggup menyediakan space murah, ini memperlihatkan masih lemahnya posisi media massa di depan pebisnis,” ungkapnya.

Belum lagi yang harus terus diperhatikan adalah kesejahteraan wartawan yang kerap terabaikan oleh pebisnis media. dengan kondisi tersebut, maka menjadi sangat penting melihat posisi insan pers di tengah situasi yang disebutnya rentan.

“Posisi insan pers sangat ditentukan oleh dirinya sendiri yakni antara idealisme dengan perusahaan bisnis. Ini memang tantangan bagi insan pers, kita kedepan, dirgahayu Pers Indonesia,” katanya.(jef)